Konsep yang dunia lontarkan sangat berbeda dari kenyataan yang terikat. Kita terikat oleh takdir. Namun, dunia seakan menampilkan sebuah tipu daya. Manusia adalah makhluk perasa, itu kenyataan yang absolut. Tapi, manusia bukanlah si penikmat rasa. Tidak semua rasa dapat manusia nikmati. Ada kala sesuatu yang manusia rancang sedemikian rupa pada akhirnya menjadi luka dan bernanah.
Sore itu, sebelas orang remaja laki-laki berunding membicarakan persoalan lomba yang akan mereka ikuti. Sangat senang jelas terpancar di raut wajah mereka mengetahui bahwa mereka akan kembali bersinar dengan kemampuan yang dimilikinya. Satu anak menyelutuk,”Kita harus benar-benar membuktikan pada pihak sekolah sekarang!”
Terdengar sangat lantang suaranya, yang akhirnya ditimpali oleh salah satu kawannya. “Kita harus menyelami bukti yang akan kita tunjukkan dulu. Kita masih butuh banyak evaluasi.”
“Toh, kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin waktu itu.”
“Maksimal apanya? Kita naif waktu itu. Suasana berubah membuat kesebelas orang itu terdiam menundukkan kepala. Seraya mencoba menetralisir energi yang datang, tiba-tiba satu dari mereka membuka suara,
“Kita berusaha kok, kita berusaha meyakinkan diri untuk menang, kita berusaha melihat kualitas yang sederajat satu sama lain, kita berusaha belajar menerima ego masing-masing, kita juga berusaha melakukan yang terbaik versi diri kita masing-masing. Tapi, satu yang kalian harus tahu, kalau hasil tidak tergantung dengan usaha. Hasil yang kita dapat waktu itu, memanglah takdir kita. Seluruh perjalanan hidup telah tergariskan, kalian tahu itu.
Persepsi mengenai “Usaha tidak pernah mengkhianati hasil” lah yang salah total. Karena hasil, bergantung pada dua tali. Menang atau Kalah. Memberikan space untuk melihat dari sisi pandang lawan juga kita perlukan dalam perlombaan. Jangan membiarkan diri kita terlalu terobsesi sampai merasa lebih baik dari semuanya. Manusia pasti memiliki celah. Tapi, satu yang saya syukuri, karena kalian mudah bangkit dan saya kagum untuk itu, juga kalian tetap sama antusiasnya. Jadi, mari kita coba putaran selanjutnya!”
Gemuruh suara tepuk tangan terdengar ketika si Ketua selesai berbicara. Memberikan tamparan luar biasa bahwa tidak melulu kita harus berdebat dengan proses dalam hidup. Kita ada di mana kita sekarang, karena kita menjalani proses-proses yang ada. Cukupkan diri atas syukur, karena sesuatu menjadi teramat baik jika disyukuri.
Watansoppeng, 2 Oktober 2022
