Di pagi hari, seperti biasa Siska selalu datang ke sekolah lebih awal dari siswa lain karena Siska dipercayai oleh Kepala sekolah memegang kunci ruangan di sekolah.
Siska berjalan ke depan setiap kelas dan membuka pintu kelas dan terakhir Siska membuka pintu kelasnya dan masuk ke kelasnya.
Siska meletakkan tasnya di tempat duduk, kemudian mengambil sapu untuk membersihkan kelasnya
Setelah menyapu ruangan, Siska mengambil lap kemudian mengelap kaca jendela kelasnya
Saat sedang mengelap kaca jendela, Siska melihat kebelakang kelasnya dan melihat gudang sekolah yang sudah lama tidak terpakai
Siska selalu penasaran dengan gudang itu, tapi pihak sekolah melarang siapapun mendekatinya entah apa alasannya
“Ah, aku selalu penasaran apa yang ada di dalam gudang itu, tapi pihak sekolah melarang siapapun ke sana” ucap Siska.
“Siska, rajin banget” kata Gio mengagetkan Siska.
“Ihh Gio ngagetin aja, untung aku gak punya riwayat penyakit jantung, kalau enggak aku udah kena serangan jantung” ucap Siska melanjutkan mengelap kaca jendela.
“Ya maaf, habisnya sih kamu ngelap kaca serius banget” ucap Gio.
“Mikirin apaan sih? kepo deh” kata Gio.
“Mikirin kenapa tuhan nyiptain makhluk kayak kamu” ucap Siska menunjuk ke arah Gio.
“Ya buat jadi pasanganmu lah…” jawab Gio.
“Udah jangan bercanda” ujar Siska memukul Gio.
“Iya-iya… lagi mikirin apa juga yang serius napa.”
“Aku mikir kenapa kepala sekolah ngelarang kita dekat-dekat dengan gudang tua itu” ucap Siska menunjuk gudang tua itu.
“Sejak kapan ada gudang di belakang sekolah? kok aku baru liat ya” tanya Gio.
“Gudang ini udah sangat lama tapi gak kepake… gudang ini dulunya tertutupi rumput menjalar jadi gak kelihatan” jelas Siska.
“Sis.. Siska lihat deh ada orang di gudang itu.. kamu lihat gak gadis itu?”tanya Gio menunjuk gudang itu.
“Gak mungkin Gio… gudang itu digembok…jangan nakut-nakutin” ucap Siska
“Enggak Sis, aku serius dia ngelihat ke arah sini” ucap Gio.
Siska melihat keluar jendela dan memandangi gudang itu tapi ia tidak melihat apapun.
“Gak ada apa-apa Gio. Aku gak liat apa-apa Gio” ucap Siska.
“Siska jangan bercanda deh, jelas-jelas ada itu di sana di jendela dia masih ngelihat ke arah sini” ucap Gio.
“Bener Gio, aku gak liat apa apa” ucap Siska.
Gio menelan ludahnya kasar lalu meletakkan tasnya di tempat duduknya yang berdekatan dengan jendela kemudian memalingkan wajahnya dan bergegas keluar dari kelas.
“Gio, kamu mau ke mana” tanya Siska.
Gio tidak menghiraukan pertanyaan Siska dan bergegas keluar kelas menuju toilet.
“Gak mungkin, gak mungkin, Gio kamu salah lihat, gak mungkin astaga mengapa aku melihat hal seperti itu lagi” ucap Gio pada pantulan bayangannya di cermin.
Gio membasuh wajahnya di wastafel dan saat ia mengangkat wajahnya, ia terkejut melihat sebuah kalimat di cermin yang mengatakan ‘Bebaskan aku’ dengan tinta merah seperti darah.
Gio berlari keluar dari toilet dan menabrak Dion sahabatnya.
“Gio kamu kenapa? seperti baru lihat setan aja” kata Dion.
“Emang aku lihat setan barusan” ucap Gio
“Siapa suruh jadi anak indigo” kata Dion.
“Emangnya aku mau kayak gini, enggak..lah siapa yang mau ngeliat makhluk kayak gitu, aku mah ogah” ucap Gio
“Udahlah Dion gak usah bahas gituan entar mereka muncul lagi” sambung Gio
Tak lama, bel sekolah berbunyi yang menandakan pembelajaran akan segera berlangsung. Mendengar bel berbunyi, Gio dan Dion bergegas kembali ke kelasnya dan mengikuti proses pembelajaran.
Setelah beberapa waktu, bel kembali berbunyi tanda pergantian jam pelajaran, guru dalam kelas menghentikan pembelajaran dan berpamitan lalu keluar kelas disusul guru mata pelajaran selanjutnya masuk ke dalam kelas.
Setelah proses pembelajaran yang lama, bel istirahat pun berbunyi. Mendengar bel istirahat, seluruh siswa di kelas kembali semangat dan berebut keluar dari kelas untuk ke kantin sekolah.
Gio dan Dion sedang berjalan menuju ke arah kantin sekolah. Saat melewati jalan yang menuju ke gudang tua itu, tiba-tiba angin kencang menerbangkan topi yang dikenakan Gio.
Gio menyuruh Dion untuk ke kantin duluan sementara ia akan mengambil topinya. Gio mencari-cari topinya di semak-semak. Namun, tidak menemukannya. Saat ingin berbalik, Gio melihat topinya berada di depan pintu gudang itu.
Gio sedikit khawatir untuk mendekat ke gudang itu. Gio pernah mengalami hal tidak menyenangkan dengan makhluk halus. Gio dapat melihat mereka tapi ia mencoba mengabaikannya karena ia sudah tidak ingin terlibat dengan hal mistis seperti itu.
Gio memberanikan diri untuk mendekat ke gudang itu dan mengambil topinya. Langkah demi langkah Gio ambil untuk mendekat kearah gudang hingga akhirnya ia berada di depan pintu gudang. Saat Gio ingin mengambil topinya, tiba-tiba sesosok wanita bergaun pengantin berwarna putih berdiri tak jauh darinya.
Melihat hal itu, bulu kuduk Gio meremang dan dengan spontan mengambil topinya dan berlari meninggalkan tempat itu menuju ke arah kantin. Sesampainya di kantin, Gio segera duduk di dekat Dion.
Dion terkejut melihat Gio penuh keringat dan ngos-ngosan. Dion pun bertanya pada Gio apa yang terjadi. Gio menceritakan kepada Dion apa yang baru saja terjadi. Mendengar cerita Gio, bulu kuduk Dion meremang dan merinding.
Untuk mengubah suasana, Dion segera mengganti topik pembicaraan dan menyuruh Gio membeli makan sebelum bel masuk berbunyi. Gio pun pergi membeli makanan dan mereka berdua pun menghabiskan makanannya dengan tenang.
Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Siswa yang berada di dalam kantin satu persatu keluar dari kantin dan berjalan menuju kelas masing-masing untuk mengikuti proses pembelajaran.
Gio dan Dion masuk ke dalam kelas lalu duduk di kursinya masing-masing. Saat Gio sedang serius memperhatikan materi yang disampaikan, sosok wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu berjalan menyusuri bagian belakang bangunan kelas menuju ke tempat Gio.
Saat sosok itu mendekat, Gio dapat merasakan auranya dan seketika terasa dingin bagaikan diterpa angin. Saat Gio memalingkan wajahnya ke arah jendela, sosok itu langsung muncul di balik jendela yang membuat Gio sangat terkejut hingga hampir terjatuh dari tempat duduknya karena wajah sosok itu hancur setengah dengan berbagai bagian yang sudah tidak berbentuk.
Setelah melihat itu, Gio segera meminta izin ke kamar kecil kepada guru mapel, dan guru mengizinkannya. Gio berlari ke kamar kecil untuk membasuh mukanya. Tapi tentu saja tujuan Gio sebenarnya bukan membasuh muka melainkan….
“Aku tau kau di sana…. tampakkan wujudmu… dan katakan apa maumu sehingga mengganggu ku” ucap Gio yang sedang memandangi cermin di depannya.
Setelah selesai mengucapkan itu, sosok itu muncul tak jauh dari Gio. Gio memperhatikan makhluk itu muncul di belakangnya lewat cermin. Gio berbalik menghadap ke makhluk itu
“Apa maumu?… Mengapa kau menggangguku di?… Aku sudah lama tidak ingin berhubungan dengan makhluk sepertimu” tanya Gio pada sosok
“T…tolong bebaskan aku…”
“Sebenarnya aku sudah tidak ingin berurusan dengan bangsa kalian… tapi baiklah aku akan membantumu… isinkan aku melihat masa lalumu” ucap Gio
Gio menutup matanya sambil membaca sesuatu di susul makhluk itu menutup matanya. tak lama, Gio kembali membuka matanya dan sosok itu sudah menghilang. Gio tersenyum dan keluar dari kamar kecil sambil bergumam sesuatu “Sepertinya ini alasan mengapa kita dilarang kesana”
Setelah beberapa jam berlalu, bel pulang pun berbunyi. Mendengar itu, satu persatu siswa keluar dari dalam kelas dan pulang kerumah masing-masing. Karena arah rumah yang berlawanan, Gio dan Dion berpisah di depan gerbang. Gio bersandar di pagar seperti menunggu sesuatu. Tak lama, sosok wanita itu muncul di hadapan Gio dengan wajah cantiknya bukan wajah hancurnya.
“Ikutlah denganku. Kita balaskan dendammu. Setelah melihat ingatanmu, sepertinya ia juga musuhku…” Sosok itu mengikuti Gio sampai ke rumahnya.
Gio mengajak sosok itu masuk ke dalam rumahnya dan menyuruhnya duduk sementara ia masuk ke dalam kamar berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Gio kembali ke sosok itu sambil mengucapkan sesuatu. Tak lama, beberapa makhluk halus muncul di ruangan itu.
“Malam ini aku membutuhkan bantuan kalian…” ucap Gio sambil tersenyum.
Malam harinya, di sebuah rumah, seorang wanita paruh baya sedang duduk sambil membaca di kamarnya. Saat ia sedang fokus membaca, sekelebat bayangan melewati pintu kamarnya yang tidak tertutup sehingga menimbulkan bunyi derit pada pintu.
Wanita itu berbalik melihat ke arah pintu. Karena tidak melihat apapun, ia kembali melanjutkan membaca buku yang ia pegang. Tak lama, lampu di ruangan mati nyala. Wanita itu menutup bukunya dan berbalik kemudian melihat sekeliling ruangan. Namun, tidak menemukan hal yang aneh.
Tak lama, lampunya kembali normal. Wanita itu pun kembali duduk. Tapi, saat melihat cermin di depannya wajah wanita itu berubah ketakutan. Sosok wanita bergaun pengantin berdiri di belakangnya sambil menatapnya dan menunjukkan wajahnya yang hancur dan gaun putih berlumuran darah.
Wanita itu langsung berbalik badan dan terjatuh ke lantai. Saat sosok itu ingin mendekati, seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul dari balik pintu. Pria itu lalu merapal sebuah mantra dan mengikat sosok itu. Saat pria itu sudah mengikat sosok itu, sosok genderuwo dan kuntilanak muncul lalu menyerang pria itu.
Sebelum mendekat terlalu jauh, pria itu juga langsung mengikat kedua makhluk itu. Pria itu adalah seorang paranormal yang membantu wanita paruh baya itu menyegel sosok bergaun pengantin itu di gudang.
Tak lama, Gio berjalan masuk kedalam ruangan lalu menjentikkan jarinya dan membuka ikatan pria itu pada ketiga sosok itu.
“Siapa kamu?” ucap Pria itu.
Gio yang awalnya berada di depan pria itu, tiba- tiba berada di belakangnya “Seharusnya kau mengenalku” ucap Gio berbisik di telinga pria itu.
Pria itu langsung menjauh dari Gio. “Selamat malam kepala sekolah” sapa Gio pada wanita itu.
“G…Gio ngapain kamu di sini?” tanya wanita itu.
“Cuma mengantar dia…” jawab Gio menunjuk ke arah sosok bergaun pengantin itu.
“Dan juga temanku” Sambung Gio memperlihatkan sosok di belakangnya.
Mendengar itu, wanita itu semakin ketakutan. Pria itu memunculkan beberapa makhluk halus dan memerintahkannya menyerang Gio. Namun, belum sempat mendekat makhluk itu ditekan ke lantai oleh kekuatan Gio.
“Dukun rendah sepertimu ingin melawanku… jangan membuatku tertawa…” ucap Gio lalu menambah tekanan makhluk gaib pria itu hingga menghilang.
Pria itu kembali menyerang Gio menggunakan kekuatannya sendiri. “Orang sepertimu membuatku muak… matilah” ucap Gio.
Tiba-tiba, sebilah pedang menancap di punggung pria itu. Pemilik pedang itu lalu menarik pedangnya. Pemilik pedang itu adalah roh penjaga milik keluarga Gio.
“Roh ini… jangan-jangan kamu..” ucap Pria itu.
“Tepat.. aku adalah keturunan terakhir paranormal yang terkuat.. selamat tinggal” ucap Gio pada pria itu dan tak lama pria itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“Dan sekarang kau… awalnya aku tidak ingin membantu sosok bergaun pengantin ini tetapi di dalam ingatannya arwah temanku berada di gudang itu sehingga aku mencarinya dan menemukannya…. setelah melihat ingatan temanku rupanya kau dan pria tadi membunuh dan mengikat arwahnya di gudang itu. Apakah sebaiknya aku membunuhmu” ucap Gio yang secara tiba-tiba muncul di depan wanita itu.
“A…ampuni aku… aku belum mau mati…” mohon wanita itu pada Gio.
“Mengampunimu? heh… jangan membuatku tertawa…” ucap Gio.
“Sudahlah Gio… biarkan saja dia… biarkan pihak berwajib yang menghakiminya” ucap Arwah sahabat Gio Hery.
“Her… kamu terlalu baik padanya… jelas-jelas dia sudah membunuhmu…. tetapi kamu masih berbaik hati padanya” ucap Gio.
“Aku tidak baik Gio…. kalau kau membunuhnya ia tidak terlalu menderita…. aku ingin ia menderita di dunia dan di akhirat nanti” ucap Hery.
“Pikiranmu boleh juga… baiklah sebaiknya kamu serahkan dirimu ke pihak berwajib. Aku bisa memberimu kematian yang sangat menyakitkan tapi aku menghormati keputusan sahabatku. Sebaiknya kamu tidak melawan karena aku bisa membuatmu menjadi tebu hingga ketulang-tulang,” ancam Gio.
“B…baiklah… aku akan menyerahkan diri” ucap Wanita itu.
Keesokan harinya, beberapa personil polisi datang ke sekolah dan menutup sekolah lalu bergegas ke arah gudang itu.Melalui petunjuk, personil polisi itu menemukan mayat-mayat yang terkubur di dalam gudang itu kemudian membawa mayat-mayat itu pergi dan menguburkan mayat-mayat itu di pemakaman umum dan wanita paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah itu ditahan pihak kepolisian.
_TAMAT_
Penulis : Muh. Irwan ali
Kelas : 11
Asal sekolah : SMAs HASKA
KEC. KATOI
KAB. KOLAKA UTARA
