Oleh: Reisya Alfi
Tuhan, aku berjalan terlalu jauh di jalan tanpa arah. Langkah-langkahku goyah, terbenam dalam kabut hitam yang tak berujung. Aku jatuh, aku rapuh, dan di sekelilingku hanya ada sunyi. Tuhan, aku memikul dunia yang rasanya terlalu berat, sementara dinding-dinding tempatku berpulang telah retak, meninggalkan celah yang tak mampu kutambal dengan tangan kecil ini.
Aku kehilangan sandaran, kehilangan pelukan, kehilangan tempat untuk merangkai kembali kepingan diriku yang berserakan. Aku mencoba mencari arti, mencoba berdiri, namun hanya menemukan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui. Tuhan, hidup ini terasa seperti labirin tanpa ujung, di mana aku terus berlari namun tak pernah tiba.
Ada luka-luka yang tak terlihat namun terus berdarah. Kata-kata tajam yang menusuk hingga ke tulang, perasaan terasing yang menghujam jiwaku, dan pertanyaan tanpa jawaban yang mengendap di kepala. Tuhan, aku telah menukar cahaya-Mu dengan gemerlap dunia yang semu. Aku membiarkan diriku terseret arus kesalahan, tanpa pernah mencoba melawan.
Aku mencoba menemukan kekuatan di tengah kekosongan ini. Namun, saat matahari tenggelam, aku hanya mendapati bayanganku sendiri, yang penuh cela dan dosa. Tuhan, aku memalingkan wajahku dari-Mu, melupakan janji-janji yang pernah kuucapkan, melupakan hakikat diriku sebagai hamba-Mu.
Kini aku menyadari, semua itu bukan jawaban. Dunia tak pernah benar-benar memberi, hanya mengambil. Hati ini lelah, tubuh ini ringkih, dan jiwa ini hancur berkeping-keping. Tuhan, jika aku masih pantas, aku ingin pulang.
Ajarkan aku untuk memperbaiki langkahku. Bimbing aku untuk menjadikan luka ini sebagai kekuatan, bukan alasan untuk menyerah. Aku ingin belajar mencintai, mengampuni, dan memaafkan—terutama diriku sendiri.
Masa lalu itu pahit, Tuhan, namun aku percaya, Kau masih menyimpan manisnya hari esok. Aku tak ingin lagi larut dalam gelap. Aku tak ingin lagi menukar akhirat dengan dunia. Aku ingin kembali ke jalan-Mu, membawa segala yang kupunya—meski hanya penyesalan, air mata, dan harapan kecil yang mulai bersemi.
Tuhan, aku ingin menjadi seseorang yang mampu bangkit, meski berkali-kali jatuh. Aku ingin menjadi hamba-Mu yang kembali, meski dengan langkah yang gemetar. Karena aku tahu, Kau adalah tujuan terakhir dari semua perjalanan ini.
Tuhan, aku pulang. Aku kembali pada-Mu, dengan hati yang penuh luka, namun penuh harapan. Biarkan cahaya-Mu menjadi pelita dalam gelapku. Aku percaya, Kau selalu ada, menanti aku kembali.
