Oleh: Reisya Alfi
Tuhan, aku adalah angin yang kehilangan arah, menyusuri lorong-lorong gelap tanpa ujung. Dalam setiap langkah, aku terperosok ke lubang yang kuciptakan sendiri lubang yang menelanku perlahan, meninggalkan kehampaan yang memekakkan jiwa.
Aku tersesat, Tuhan, di hutan pikiranku yang penuh duri. Aku biarkan diriku terjerat oleh bayangan kelam, melupakan cahaya yang pernah Kau titipkan di sudut hatiku. Aku berjalan jauh, menukar kasih-Mu dengan ilusi dunia yang menjanjikan kebahagiaan, namun hanya menyisakan luka yang terus membara.
Aku menciptakan jarak antara aku dan Engkau, Tuhan. Aku menjauh, tenggelam dalam pusaran kelalaian yang memenjarakan. Hati ini telah membeku, tak lagi mampu merasakan lembutnya bisikan-Mu. Telinga ini tuli, tak lagi mendengar seruan cinta dari langit. Mata ini buta, tak lagi menangkap cahaya yang Kau pancarkan di setiap pagi.
Apakah aku terlalu hina, Tuhan, hingga tak pantas Kau panggil pulang? Apakah aku terlalu rapuh, hingga tak mampu memungut diriku sendiri dari reruntuhan yang kuciptakan? Aku menyesal, Tuhan. Menyesal karena membiarkan dosa menjadi temanku, menyesal karena mengabaikan panggilan-Mu, menyesal karena melupakan siapa aku di hadapan-Mu.
Aku rindu, Tuhan. Rindu pada ketenangan yang hanya Kau miliki. Rindu pada dekap kasih yang tak pernah meninggalkan, meski aku terus menjauh. Aku ingin kembali, Tuhan, meski langkahku goyah dan penuh keraguan.
Bimbing aku, Tuhan, agar aku mampu memaafkan diriku yang telah menghianati nurani. Ajarkan aku untuk berdamai dengan luka-luka yang menghitamkan hatiku. Aku ingin kembali belajar mencintai kehidupan, bukan karena dunia, tapi karena aku tahu Kau telah menciptakannya dengan kasih.
Aku tahu, Tuhan, jalan pulang ini tak mudah. Tapi aku percaya, selangkah saja menuju-Mu, Kau akan menyambutku dengan cahaya yang tak pernah redup. Aku ingin merasakan hangatnya sinar-Mu lagi, Tuhan, sinar yang pernah menghidupkan jiwa ini.
Aku kembali, Tuhan. Dengan hati yang koyak, dengan jiwa yang rapuh, namun dengan tekad untuk menyatu kembali dalam cinta-Mu. Terimalah aku, meski aku datang dengan segala cela dan luka. Karena aku tahu, hanya Engkau yang mampu menyembuhkan segalanya.
