Oleh: Nur Aqilah Salim*

Dari hari-hari sukar yang silih berganti
Pada batang pohon yang patah merintih
Untuk melodi dedaunan yang terdengar lirih
Para mangsa tertatih menepi menepis belati

Bagai dalam hutan tua yang dihujam hujan deras
Bahkan daun termuda sekalipun mulai mengeras
Keras namun rapuh
Jadi rasanya sia-sia berpuluh liter air yang jatuh
Tetap saja pohon yang tak lagi utuh itu
Menolak kembali tumbuh

Konon katanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin, akan tetapi siapa yang peduli kabar batang yang kehilangan daunnya?

Selayaknya syair ini, mengalun tak karuan
Sebagaimana isi kepala yang berantakan
Seperti baru saja menjadi paling bersyukur
Tiba-tiba di masa merasa paling tersungkur

Hidup memang bagai perputaran roda
Kadang kala pula terlalu lamban
Hingga terseok-seok raga ‘tuk tetap bertahan
Hingga tersisa harap akan kuasa Tuhan

Senantiasa terpanjatkanlah wahai doa-doa baik
Menjadi pengiring langkah-langkah yang pelik
Benteng sinis untuk para antagonis
Yang berbisik tak bertitik di balik bilik-bilik

— 27 Februari 2024

*Penulis adalah Siswi SMAN 8 Soppeng

(Visited 13 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *