Oleh: Nur Aqilah Salim*
Dari hari-hari sukar yang silih berganti
Pada batang pohon yang patah merintih
Untuk melodi dedaunan yang terdengar lirih
Para mangsa tertatih menepi menepis belati
Bagai dalam hutan tua yang dihujam hujan deras
Bahkan daun termuda sekalipun mulai mengeras
Keras namun rapuh
Jadi rasanya sia-sia berpuluh liter air yang jatuh
Tetap saja pohon yang tak lagi utuh itu
Menolak kembali tumbuh
Konon katanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin, akan tetapi siapa yang peduli kabar batang yang kehilangan daunnya?
Selayaknya syair ini, mengalun tak karuan
Sebagaimana isi kepala yang berantakan
Seperti baru saja menjadi paling bersyukur
Tiba-tiba di masa merasa paling tersungkur
Hidup memang bagai perputaran roda
Kadang kala pula terlalu lamban
Hingga terseok-seok raga ‘tuk tetap bertahan
Hingga tersisa harap akan kuasa Tuhan
Senantiasa terpanjatkanlah wahai doa-doa baik
Menjadi pengiring langkah-langkah yang pelik
Benteng sinis untuk para antagonis
Yang berbisik tak bertitik di balik bilik-bilik
— 27 Februari 2024
*Penulis adalah Siswi SMAN 8 Soppeng
