Oleh: Madeline Cinta Fitriadi*
Sore menjelang malam, langit di kala itu bersajak, memikirkan kata bernuansa sansekerta yang memiliki artian dalam. Menciptakan alunan kalimat indah di ujung pupil matanya yang tak bicara. Ia hening, tak berkutik sepatah kata pun. Biarkan tatapannya yang memberi makna pada dunia. Syukur ia menikmati keindahan semesta senja ini. Langit menemaninya, di tengah cakrawala yang kian meredup.
Kecewa baru saja menghampirinya. Ia berada di antara keraguan, sedangkan kepastian sudah menunggunya. Tak apa, memang susah untuk mengambil keputusan yang dapat diterima dengan lapang dada. Lambat laun, pikirannya sampai di suatu tempat. Tempat di mana ia telah menemukan jalan atas masalah ini, walau tak bisa berjumpa lagi. Ia harus bisa menerima penantian waktu yang sudah lama.
Ia berharap, namun tak terbalas. Ia tak ingin mengacau apa yang sudah dirancang lalu ditetapkan. Ini bukan tentang formalitas, tapi individual. Saatnya egoisme bermain dijalurnya. Ia melepaskan apa yang belum ia genggam. Ikhlas mengiringi pengorbanannya. Sudah lama jawaban tak menghampiri, dan inilah saatnya.
Meskipun begitu, asmaraloka ini tak dapat dikhianati. Ia murni dari hati nan paling suci. Ia mungkin melepaskan dengan ikhlas di kata, namun tidak di mata. Kebohongan sedikit memberi citarasa pada kisah cinta miliknya. Janganlah lagi berpura-pura. Cukup kirim pesan lewat doa, kemudian tersampaikan melalui Tuhan Yang Esa. Apa pun rencanamu ke depannya, takdir Tuhan adalah yang terbaik untuk kita.
*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris Padang
