Oleh: Ashilah Zahra Puti Mewa*

Seorang anak perempuan yang lahir dari rahim seorang ibu dan tentunya gadis tersebut juga memiliki ayah. Selang 3 tahun anak perempuan itu memiliki adik. Iya, adik. Ia memiliki adik perempuan. Hm, sebenarnya ia senang mempunyai adik.Tetapi bukan di situ permasalahannya.

Anak perempuan itu kini sudah kelas 2 sekolah dasar. Di sinilah mulainya semua permasalahan itu.Kedua orang tuanya mulai sering cekcok yang dimulai dari masalah kecil hingga masalah besar yang membuat mereka akhirnya memilih ‘cerai’. Iya, cerai.

Anak itu dan adiknya serta ibundanya pun pindah ke kampung halaman. Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi, semakin hari ia merasa kasih sayang dari ibundanya semakin berkurang. Kini ibundanya terlihat lebih menyayangi adiknya.

Tuhan, ini tidak adil. Aku juga butuh kasih sayang seorang ibu, terlebih sekarang aku juga sudah kehilangan peran sosok ayah. Kenapa semuanya begini? Berantakan.

Hari demi hari dilalui oleh anak perempuan ini dengan rasa sakit yang terus menjalar di hatinya. Ia tidak membenci ibu atau adiknya, tetapi ia benci dengan situasi ini. Ia merasa sudah tidak disayang lagi.

Tuhan, apa benar aku sudah tidak disayang lagi? Kenapa hanya adikku yang diperhatikan? Aku juga butuh perhatian itu. Sakit,tangis, semua kupendam seorang diri. Sesekali aku ingin sekali berteriak bahwa aku juga ingin disayang seperti ibu menyayangi adikku.

Tuhan, bahkan sekarang untuk sekadar melepaskan emosi aku tak bisa. Aku harus selalu mengalah. Apa boleh sekali saja aku tidak mau mengalah?

Aku begitu menyayangi ibu dan adikku walau aku merasa dibedakan.Tuhan, jangan ambil mereka dari ku, karena bagaimana pun aku sangat menyayangi mereka.

Aku sayang mereka selamanya.

*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *