Oleh: Madeline Cinta Fitriadi
Angin menyapa tanda hujan kan tiba. Belaiannya seakan menyuruhku untuk menetap. Dinginnya menusuk tubuh tanda kehangatan telah jauh. Tetapi tetap saja, aku tak bisa meninggalkannya. KenapaIni penantianku, menyaksikan kepergian hal indah namun ia berjanji akan kembali esok hari.
Langit kini mendung, namun bukan air hujan yang turun. Bendungan itu tak kuat lagi untuk menahan air deras yang ingin mengalir bebas. Ia jatuh, rapuh, mengedipkan mata lalu menangis. Perasaannya telah diaduk oleh rasa cinta yang tak biasa.
Sadar, aku tak berhak untuk terus memaksamu. Dulu itu adalah tahanan, kini berubah menjadi rasa lelah. Tangis menyuruhnya pergi, namun hati meminta untuk tetap di sini. Entah larangan atau paksaan, yang jelas, itu pasti terjadi.
Aku tak membencimu, Aku harap kau pun begitu. Kita adalah dua orang yang takut untuk kehilangan, namun enggan menyampaikan. Meskipun pesan ini akan disampaikan oleh hangatnya swastamita, tapi Ia akan menghilang meninggalkan kesedihan yang belum menepi. Tapi ia berjanji pasti kembali.
Nuansa jingga ini seakan berbicara. Ia menjelaskan apa itu senja. Pergi dan berjanji untuk kembali. Keindahannya dirasakan oleh mereka yang menanti. Senja itu mendekapnya, seakan menyuruh berkata, tapi hanya airmata yang mengalir di pipinya.
Tak apa, masih ada esok hari. Berharap senja datang lagi dengan abstraksi yang menyuruh kita untuk kembali. Namun, takdir menginginkan kita tuk berpisah. Menunggulah sebentar. Baik-baik di sana. Aku pamit saat swastamita menyapa di kala senja.
