Oleh: Jusnia Paseba
2. Sebuah Ketidaksengajaan
Suasana kelas XI Bahasa 2 menjadi heboh karena tragedi salah satu siswa yang digendong oleh ketua The Avengers.
Kini siswa-siswa lainnya mulai menginterogasi siswi yang bersangkutan.
Dia Bianca Slafarah Kenziadhimata gadis yang berhasil menarik perhatian ribuan siswa terlebih lagi pada kaum hawa dikarenakan tragedi pingsan di lapangan saat upacara dan yang menyita pandangan siswa adalah ketika dia digendong oleh Ketua The Avengers menuju UKS.
“Far, gimana sih rasanya digendong sama ketua geng di sekolah ini?” Tanya salah satu siswi yang duduk di depan bangku Farah.
“Yah,saya nggak tau soalnya kan saya ga sadar,” jawaban Farah membuat membuat semua kaum hawa mundur dan memilih untuk kembali ke bangku masing-masing.
“Far, loh serius ga tau rasanya digendong sama ketua geng?” Kini tinggal Cici yang bertahan. Citra Lucianty atau Cici merupakan sahabat Farah saat duduk di bangku SMA.
“Orang saya ga sadar gimana mau tau rasanya. Lagian yang nolongin saya siapa sih?” Jujur saja sedari tadi Farah risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dirinya ditolong oleh ketua geng. Helloween ketua geng itu siapa? Farah tidak tau!
“Astagfirullah! Tadi yang nolongin loh itu Naufal, loh tau ga sih?”
“Nggak tau,” jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.
“Loh ga tau Naufal? Ketua geng The Avengers?”
“Naufal? The Avengers? Saya ga tau,” kata Farah dengan mimik wajah yang susah diartikan.
“Astagfirullah Far, loh udah hampir 2 tahun sekolah di sini dan siswa terkeren bin kejaran para kaum hawa loh ga tau juga? Duh tenggelam ajah dah loh.”
“Namanya juga ga tau.”
Farah ini tipe-tipe siswa yang kalau ke sekolah tujuannya belajar yah dia cuman belajar, jika waktu istirahat dia menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas,sangat jarang dia mengunjungi kantin.
“Cemen loh ah, anak cupu ajah tau. Masa loh yang diam-diam gini ga tau.”
“Emangnya Naufal itu anak bahasa juga?” Tanya Farah masih penasaran.
“Bukan, dia anak IPA, temannya my bebep Bintang, temannya Baron juga,” jawab Cici dengan senyuman lebarnya.
“Oh temannya Bintang. Kalau gitu nanti tanya Bintang yah,saya titip makasih sama ketua gengnya,makasih karena udah nolongin saya,maaf ga bisa datengin langsung karena ada urusan.”
“Nanti dah gue tanya. Emang loh ada urusan apa sih?” Tanya Cici kepo. Kayaknya temannya ini tiap hari banyak urusan.
“Nih mau baca buku,” mendengar itu Cici dibuat melongo apa katanya? Baca novel menjadi kesibukannya? Yailah kan bisa ditinggal dulu sebentar.
“Holla everyone, teman kelas loh yang paling ganteng datang nih,” Teriak Baron di depan pintu kelas.
“Idih masih gantengan pacar gue juga,” sahut Cici dari belakang.
“Untung Bintang teman gue. Iya, Bintang emang ganteng tapi masih gantengan gue sih. Iya nggak Far?” Kata Baron dengan menaik turunkan alisnya.
“Najis Ron!” Pekik Cici.
“Eh Baron, nanti saya minta tolong yah bilang makasih sama ketua geng kamu,makasih udah tolongin saya,” lagi dan lagi Farah hanya bisa menitipkan terima kasih itu pada orang lain.
“Kenapa nggak loh ajah yang sampein?”
“Nanti,ada kesibukan Ron. Bisa kan?” Tanya Farah memastikan.
“Bisa kok, gampang itu mah.”
“Ya udah. makasih yah,” kata Farah lalu kembali membaca novelnya.
“Far, nanti balik sekolah ke mana?” Tanya Cici lagi.
“Ke tempat wajib,” jawabnya singkat dan Cici sudah tidak asing lagi dengan jawaban itu.
“Mau ditemenin?”
“Ga usah Ci makasih. Mungkin nanti agak lama.”
Saat bel berbunyi nyaring, sontak seisi kelas menghela napasnya dan membatin ‘selamat’
ternyata kebahagiaan para pelajar itu sangat mudah, ketika bel istirahat dan ketika bel pulang. Kalau kata mereka mah ‘ surga duniawi coy. ‘
*******
“Siapa Ma?” Tanya Naufal saat memasuki ruang sang ibu.
“Pasien Mama. Kayaknya dia satu sekolah sama kamu.”
Naufal tidak menjawab. Dia hanya mengedikkan bahunya seraya menatap seseorang yang tengah berbaring di brankar.
“Seragam kamu mirip, Mama liat identitas sekolahnya sama kayak punya kamu,” kata Faizah seraya menunjuk lambang yang ada lengan kanan Naufal.
Naufal tidak menggubris,dia kembali fokus pada sang ibu yang kelihatannya sibuk menulis resep obat buat pasien.
“Istirahat yang cukup yah sayang. Jangan dipaksain kerja yang berat-berat. Ingat kondisi fisik kamu sekarang lemah,” pesan Faizah pada seorang pasien itu.
“Iya dok,” jawabnya singkat lalu bangkit dari brankar.
“Saya permisi dulu yah,” ketika sudah mengambil resep yang diberikan Faizah, gadis itu pamit pulang.
Tak sengaja pandangan Naufal bertubrukan dengan pandangan gadis itu. Dilihat dekat begini sepertinya Naufal pernah bertemu, tapi di mana? Siapa dia?
Belum sempat Naufal mengingat, gadis itu sudah pergi meninggalkan ruangan dokter Faizah alias Mama Naufal.
“Teman sekolah Abang kan?” Tanyanya kembali duduk di hadapan Naufal.
“Kayak pernah ketemu deh Ma, tapi ga tau di mana. Namanya siapa?” Tanya Naufal kepo.
“Dia itu Farah, kalau ga salah nama panjangnya Bianca Slafarah Kenziadhimata.”
“Farah?” Beo Naufal. Mendengar nama itu seperti ada yang mengganjal dan tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
“Naufal, loh masih ingat ga kejadian tadi pagi?” Tanya Baron sembari makan baksonya.
“Kejadian apaan?” Tanya Naufal heran.
“Et dah, belum apa-apa loh udah lupa. Itu yang teman kelas gue pingsan.”
“Yah terus kenapa?”
“Namanya Farah, lebih tepatnya Bianca Slafarah Kenziadhimata itu nama panjangnya yah btw.”
“Gue nggak nanyain namanya loh Ron,” kata Naufal kesal, berbicara dengan Baron itu susah nyambung bagi Naufal.
“Makanya dengarin dulu. Loh mah ga asik main potong ajah,” kesal Baron sebelum melanjutkan ucapannya,”jadi Farah mau bilang makasih sama loh karena loh udah nolongin dia tadi, dan dia juga mau minta maaf karena ga sempat nyampein langsung-“
“Emang kenapa dia ga nyampein langsung,. Nah, begini nih bagaimana mau nyambung kalau yang satunya ngomong pakai dijabarkan dulu sedangkan yang satunya suka motong pembicaraan, susah bersatu seperti menyatukan x dan y yang memiliki koefisien berbeda,anda tau? Jika dalam Aljabar itu tidak akan bisa menyatu alias tidak akan ada hasilnya karena variabelnya berbeda dan sama terpisahkan oleh koefisien.
“Gue bilang jangan dipotong Naufal!!! Jadi dia itu minta maaf banget ga bisa sampein secara langsung karena dia ada kesibukan. Makanya dia nitip ke gue Maaf dan Terima kasihnya. JELAS?” teriak Baron di akhir katanya.
“Iya iya jelas. Udah kan?”
“I–iya udah emang apa lagi.”
“Hey Abang!” Kata Faizah sembari mengguncang tubuh Naufal.
“Eh,kenapa Ma?”Tanya Naufal sedikit terkejut.
“Ngelamun?”
“Nggak kok.”
“Kenal Farah ga?” Tanyanya kembali.
“Farah? Kalau dibilang kenal cuman kenal nama.”
“Bener-“
“Tadi pingsan di sekolah. Naufal yang bantuin ke UKS,” sambung Naufal cepat.
Faizah yang mendengar membelalakkan matanya.
“Farah pingsan?” Tanyanya sedikit panik dan dibalas anggukan oleh Naufal.
“Ya ampun, pantes ajah tadi lemah banget.”
“Emangnya dia kenapa Ma?” Naufal cukup penasaran mengenai gadis itu.
Faizah cukup diam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya,” Mama minta tolong sama Abang, sangat minta tolong,” kata Faizah menatap anak sulungnya dengan lekat.
See you next part!
