Oleh: Ryan Hidayat

Aku menpunyai teman dekat yang saat kemana-mana kami selalu bersama jika ada tugas sekolah. Aku dan dia selalu mengerjakan tugas bersama karena satu kelas dengannya.
Kedekatan itu membuat aku bisa mengetahui latar belakang dari keluarganya sampai dengan kebiasaan dia sehari-hari.
Pada suatu hari saat aku datang ke rumahnya untuk bermain game, tapi dia sedang sibuk dengan tugasnya yang belum selesai
“Main game yuk,” kataku.

“Ngk bisa, tugas aku banyak yang belum kukerjakan dan besok harus dikumpul,” ucapnya dengan wajah yang kecapean.

Bermain game bersama batal, dan akhirnya aku membantu mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, bukannya main game, tapi aku langsung pulang karena sudah kemalaman dan juga baru ingat kalau besok ada ulangan.

Di pagi hari saat ulangan, semuanya berjalan lancar hingga teman sebangkuku terus meminta contekan. Aku terus menolak. Bukannya tidak ingin membantu, tapi lebih tepatnya saya tidak ingin membuat teman tersebut merasa bodoh dan tidak mampu karena seperti yang dibilang oleh salah seorang guru laki laki ku pada saat jam istirahat dulu, jika kamu mempunyai teman yang selalu bergantung dan hanya mengharapkan jawabanmu, jangan membantunya atau memberinya begitu saja. Buat dia paham dari apa yang tidak dia mengerti. Karena kalau tidak, itu sama saja menghancurkan masa depannya.

Guruku berkata seperti itu, karena jika tidak berusaha dan hanya bergantung kepada kita, bagaimana ke depannya jika kita tidak sama sekolah. Seperti orang yang sedang ingin makan ikan, jika kita langsung memberikannya ikan maka dia akan memakan ikan hari itu saja, tapi jika kita memberikan dia pancing, dia bisa saja memakan ikan lebih dari dua sampai tiga hari atau beberapa hari ke depan.

Setelah kejadian itu, aku pikir baik-baik saja, ternyata dia marah denganku karena tidak memberinya jawaban. Biasanya saat pulang kami selalu bersama, tapi sekarang dia sudah tidak menunggu lagi dan memilih pulang duluan. Padahal semua itu kulakukan untuk kebaikannya sendiri. Karena kalau dia terus seperti itu, bagaimana ke depannya jika dia sudah tidak satu sekolah dan tidak punya orang yang bisa ditempatinya untuk berharap.

Saya hanya berharap dia bisa memahami bahwa manusia memang makhluk sosial yang memiliki simbiosis mutualisme, tapi itu bukan suatu alasan untuk selalu bergantung pada orang lain. Keinginanku saat ini cuma satu yaitu persahabatan kami bisa kembali seperti sebelumnya.

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *