Oleh : Madeline Cinta Fitriadi*

Di kala embun pagi menyapa dunia, dan mentari memancarkan sinarnya, hangat yang kurasa, tak sebanding dengan pelukan yang ia berikan. Tak ada kisah lain yang lebih indah dari cerita tentangnya. Wanita cantik yang selalu menjagaku, memahami segala ceritaku, dan perantara baik yang mengantarkan tidurku.

Di saat bulan menggantikan sang mentari, bulan dan bintang bak pelita yang menerangi malam. Aku menutup mata lalu memasuki dunia fiksi. Mimpi indah ini adalah bukti cintamu yang abadi. Mimpi itu kubangun sebagai hadiah kecil yang akan kuberikan untukmu nanti. Mungkin kelak kesuksesan menghampiriku untuk membahagiakanmu. Harapanmu adalah suatu perjuangan buatku, dan doa-doamu sebagai penerang bagi jalanku.

Bu, jangan pernah berhenti menyayangiku meski usiaku sudah tak kecil lagi. Semangat darimu masih kubutuhkan. Dekaplah aku selalu, meski nisan kini mejadi rumahmu. Kepergianmu membuatku sadar, tak ada lagi yang menjagaku dengan ikhlas. Tak ada lagi yang menyayangiku dengan tulus.

Ibu, aku kehilangan separuh duniaku. Jalanku kadang tersandung dan pandanganku kian kabur. Tak ada lagi yang membantuku bangun di kala aku jatuh. Mandiriku mengiringi kepergianmu. Ternyata semesta tak mengizinkan kita bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Air mataku sudah tak terbendung saat menyaksikan penutupan liang lahat terakhirmu. Tergambar sosok wanita tua yang mendekapku saat aku menangis di kuburanmu.

Ibu, bidadari hebatku. Wahai lautan dan matahariku. Bilangan denyut nadi tak akan mampu membalas semerbak pemberianmu. Wanita yang kusayangi dan kuhormati, terima kasih telah hadir dalam hidupku.

*Siswi SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariman

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *