Oleh: Amara Nasifa*

Diklat diadakan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 15–17 November 2024 lalu. Sebelum hari-H, semua yang mencalonkan diri menjadi anggota PMR mengikuti rapat persiapan dan pembagian sangga (regu). Kami dibagi menjadi 7 sangga, di antaranya 6 sangga perempuan dan 1 sangga laki-laki. Masing-masing sangga terdapat satu atau dua pendamping yang merupakan anggota PMR, atau yang aku sebut “kakak sangga”. Aku berada di sangga ke-4 bersama lima temanku yang lain.

Saat hari diklat tiba, aku menyusun barang-barangku dan bersiap. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 14.00, aku menuju lapangan untuk upacara pembukaan. Cuaca saat itu sangat panas dan kakiku terasa pegal karena terlalu lama berdiri. Aku mulai merasa pusing dan tidak lama setelah itu aku jatuh pingsan dan berakhir di UKS. Ketika sadar, aku mendengar suara riuh dari luar karena upacara telah selesai. Kupejamkan mata dan kubiarkan sejenak tubuhku berbaring. Merasa kepalaku sudah tidak sepusing tadi, aku bangun dan keluar karena teringat harus mengikuti tes kepalangmerahan.

Setelah selesai, kami semua diminta ke ruang istirahat masing-masing untuk mengganti pakaian karena materi pertama akan dimulai. Aku risau karena barang-barangku masih tertinggal di asrama yang seharusnya kubawa setelah selesai upacara. Setelah meminta izin dan sempat dimarahi, aku berlari ke asrama dan kembali tidak lama. Tiba di ruang istirahat, aku mengganti pakaianku dan melemparnya begitu saja ke lantai. Aku dengan cepat mengancing kemejaku, kemudian memakai sepatu asal-asalan dan berlari ke lapangan. Materi pertama diakhiri ketika azan Magrib berkumandang. Kami bergegas mengambil wudu dan salat berjamaah di musala. Setelah salat, kami makan malam bersama di lapangan, dibantu dengan penerangan seadanya oleh kakak panitia menggunakan senter. Sehabis makan malam, kami istirahat sebentar menanti azan Isya, kemudian menuju aula sekolah untuk menerima materi selanjutnya.

Keesokan harinya, kami sarapan bersama di lapangan, dilanjutkan dengan arahan dari ketua panitia mengenai kegiatan jelajah alam. Aku dan teman-temanku sepakat akan membawa satu tas berukuran sedang yang cukup membawa botol air, buku, camilan, dan obat-obatan untuk berjaga-jaga. Jelajah alam kali ini terdiri dari 9 pos, di mana pada setiap pos kami akan diberikan pertanyaan terkait materi yang telah dijelaskan. Aku dan teman-temanku berjalan keluar dari sekolah dengan mengikuti petunjuk arah berupa tali berwarna biru.

Beberapa pos telah berhasil kami lewati walau menjawab pertanyaan dengan takut dan ragu-ragu. Kami juga sempat tersesat karena sulit membedakan tali milik warga dan tali yang dipasang oleh kakak panitia. Hingga kami tiba di pos keenam, kami disuruh turun ke sungai yang cukup deras dan disiram dengan air sungai tersebut, yang jika tidak salah dengar, air sungai ini adalah aliran dari bekas mandi sapi. Setelah itu, kami diberikan sedikit wejangan dan melakukan perjanjian, kemudian kami dipasangi slayer kuning khas anggota PMR sebagai tanda bahwa kami telah resmi menjadi bagian dari anggota.

Setelah melewati pos keenam, kami berjalan beriringan di pematang sawah sambil terus mengikuti petunjuk arah. Sampai di pos ketujuh, kakak penjaga yang ada di sana melepaskan slayer dan ID card kami, kemudian meminta kami melewati kubangan lumpur dengan posisi tiarap tanpa menyentuh tali (jaring) di atasnya. Setelah berhasil melewati kubangan lumpur tersebut dengan susah payah, kami memasang kembali slayer dan ID card kami, kemudian melanjutkan perjalanan. Pos selanjutnya berada di area sekolah. Kami disuruh turun ke selokan dengan posisi jongkok dan kedua tangan memegang telinga sambil menyanyikan lagu anak-anak hingga mencapai ujung. Kemudian kami meneruskan perjalanan ke pos terakhir yang terletak di ujung barat belakang sekolah. Setelah selesai dari pos terakhir, aku dan teman-temanku kembali ke ruang istirahat dan langsung bersih-bersih. Aku membasuh wajah dan tubuhku dengan air, kemudian mencuci slayer dan sepatuku seadanya dengan sabun cuci piring. Setelah itu, aku dan teman-temanku mengganti baju dan beristirahat menanti azan Zuhur.

Setelah melakukan salat berjamaah, kami mengikuti peralihan anggota PMR di aula sekolah. Kegiatan berakhir ketika memasuki waktu Asar. Kami kembali ke ruang istirahat dan bersiap untuk salat. Setelah salat, kami berkumpul di lapangan untuk lomba antar sangga. Aku berdua dengan temanku mengikuti lomba balap sarung dan berhasil tiba di garis finis urutan kedua. Cukup baik! Karena di urutan pertama jelas dimenangkan oleh sangga terakhir yang anggotanya laki-laki. Saat malam tiba dan selesai salat Magrib, kami makan malam bersama, kemudian menuju aula sekolah untuk mengikuti post test PMR, yaitu tes akhir untuk mengecek pemahaman kami. Setelah mengerjakan tes dengan baik, kami kembali ke ruang istirahat, mengganti baju, dan latihan untuk persembahan sangga. Aku dan teman-temanku membawakan dance flashmob dan tampil dengan baik serta memuaskan.

Keesokan harinya, sekitar pukul 03.00 dini hari, aku merasakan gerakan di sampingku. Tepat ketika ingin membuka mata, tiba-tiba sebuah kain diikat menutupi mataku. Aku terkejut dan hampir berteriak sebelum mendengar seseorang berbisik menyuruhku untuk tetap diam dan berdiri. Dengan mata tertutup, aku merasa dituntun keluar. Kupegang erat tangannya karena takut dan mencoba menebak apa yang terjadi. Namun, tangan yang memegangku tiba-tiba menghilang. Aku mendengar banyak suara bisikan minta tolong, disusul tangisan yang tidak jelas dari mana asalnya. Aku pun mencoba memberanikan diri meraba sekelilingku. Dapat! Aku berhasil memegang sesuatu yang di atasnya terikat dengan tali. Aku diam sebentar lalu tersadar, kudorong benda atau apa pun itu yang kupikir adalah pocong. Aku sudah menebak, ini pasti jurit malam.

Jurit malam terus berlanjut dengan berbagai uji nyali yang cukup membuatku merinding. Hingga tanganku diraih dan dituntun ke sebuah ruangan dan disuruh duduk diam. Sekitar 10 menit lamanya, terdengar suara berat seorang laki-laki yang memberikan renungan tentang kehilangan kedua orang tua. Ketika penutup mataku dibuka, kulihat ruangan gelap yang hanya disinari dengan lilin-lilin kecil di tengah-tengah kami. Aku bisa melihat teman-temanku yang lain, ada yang menangis, ada juga yang hanya terdiam menatap lilin-lilin tersebut. Renungan pun selesai dan lampu dinyalakan. Kami semua kembali ke ruang istirahat karena azan Subuh sudah berkumandang.

Pukul enam pagi, kami sarapan bersama di lapangan. Aku ingat setiap kali makan bersama, kami harus menghabiskan makanan dan tidak boleh menyisakan baik sebutir nasi ataupun noda sambal di piring. Setelah sarapan, kami berbaris di lapangan untuk melakukan upacara penutupan. Selesai upacara, ketua panitia membacakan pengumuman juara. Aku senang sekali karena sanggaku berhasil mendapatkan 3 juara sekaligus, yaitu juara 1 pecah balon, juara 2 balap sarung, dan dinobatkan sebagai sangga terbaik dan terkompak. Kegiatan terakhir yaitu sayonara. Kami semua naik ke tribun dan saling berpelukan dengan seluruh kakak panitia serta diberikan sambutan hangat sebagai anggota baru PMR.

Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagiku. Dari sini, aku belajar banyak hal tentang pentingnya kerja sama tim dan kemampuan mengatasi kesulitan. Aku juga belajar tentang nilai-nilai kepalangmerahan, kedisiplinan, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kegiatanku sehari-hari. Pengalaman ini telah membentukku menjadi lebih kuat, mandiri, dan memiliki semangat untuk terus belajar dan berkembang.

Watansoppeng,12 Mei 2025

*Penulis adalah Siswi MAN 1 Soppeng

(Visited 253 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *