Oleh : Farah Aprilia Nursyah
Mia menutup bukunya dan bergegas bangun dari tempat tidur. Ia lalu mengotak atik mejanya untuk menemukan handphonenya. Selama kurang lebih 15 menit, Mia hanya sibuk menelpon Nancy. Mengajak dan memberitahu segalanya tentang Permainan petak umpet itu. Nancy yang awalnya menolak dan tidak percaya tapi pada akhirnya menerima ajakan Mia untuk bermain petak umpet itu bersamanya.
Langit sudah mulai gelap saat itu. Gedoran pintu Nancy membuat Mia mencabut earphone dari telinganya dan segera membukakan pintu. Terlihat Nancy di balik pintu membawa sebuah benang merah dan boneka beruang berwarna coklat pudar di genggamannya.
Mia dan Nancy duduk bersila sambil menggunting kuku – kuku tangan dan kaki mereka dan menempatkannya di sebuah wadah. “Mia, kamu yakin mau melakukan ini?” tanya Nancy menyelesaikan potongan kuku terakhirnya. “Ya” jawab Mia singkat.
Belakangan ini, cuaca di luar selalu membuat Mia ingin meneguk secangkir coklat panas. Hujan lebih sering turun dibanding minggu – minggu sebelumnya. Langit bergemuruh karena petir, rintikan hujan mulai terlihat di balik jendela kaca rumah Mia.”Untung kamu tiba lebih awal, kalau tidak kamu mungkin terjebak hujan. Mau coklat panas?” ucap Mia berjalan ke dapur dan membuka laci rak atas mengambil 2 cangkir gelas. “Ya, tolong sekalian biskuitnya ya, hahaha”. Sambil menunggu Mia kembali, Nancy berbaring di atas kasur Mia.
“Tok tok tok!” terdengar ketukan pintu depan. Nancy mendengar ketukan pintu itu, namun ia begitu malas untuk membuka pintunya. Ia hanya menunggu Mia datang untuk membuka pintu itu. Namun Mia tak kunjung datang, entah mungkin dia pura – pura tak dengar? atau memang tak dengar. Akhirnya dengan malas, jari jarinya menggenggam gagang pintu itu lalu membukanya. Tidak ada siapa – siapa melainkan sebuah boneka beruang coklat yang dibawanya tadi sekarang berada di atas keset kaki depan pintu.
Nancy kaget, dan mengambil boneka itu masuk. Nancy yang kebingungan memanggil – manggil Mia namun tak ada jawaban, bahkan ketika ia menghampirinya kedapur, Mia tidak ada disana. Terdengar suara pintu kamar mandi perlahan terbuka, Nancy kebetulan membelakangi kamar mandi itu dan berhasil membuatnya merinding. Perlahan Nancy berbalik, Oh itu Mia! tapi…kenapa Mia memegang pisau? dan matanya…matanya tidak ada!
“Nancy bangun! Baru ditinggal sebentar sudah ketiduran..kamu kecapean?” ucap Mia menepuk – nepuk pipi Nancy. Nancy terbangun dengan napas tersengal-sengal. “Aaa! Miaa! Kamu…matamu tidak apa -apa? Ternyata aku bermimpi…mimpi buruk” kata Nancy yang terlihat benar- benar ketakutan. “Ini minum dulu coklat ini…masih panas, kamu memang bermimpi apa sampai ketakutan begini??”. Nancy meneguk pelan – pelan coklat panas yang diberikan Mia. “Tadi aku bermimpi membuka pintu depan lalu menemukan boneka beruang yang kubawa tadi, lalu pintu kamar mandi disana terbuka dan kamu berada disana sambil memegang pisau, lalu matamu…tidak ada.”
Mia hanya berusaha menenangkan Nancy, mengatakan kepadanya tak perlu khawatir itu hanya sebuah mimpi buruk. Dan setelah beberapa waktu mereka lewatkan, akhirnya mereka merakit boneka tersebut. Nancy membawa boneka beruang itu dengan rasa takut. Mia duduk di lantai dan sudah bersedia dengan gunting di tangannya. Mia menggunting boneka itu pada bagian perutnya, lalu mengeluarkan isinya dan menggantinya dengan beras, tak lupa juga bersama dengan potongan – potongan kuku tangan dan kakinya bersama Nancy. Kemudian mengikatnya dengan benang merah, dan jadilah boneka rakitan itu.
Setelah boneka itu siap, mereka memberikan nama untuk boneka itu sesuai dengan petunjuk buku tersebut. Namun, Mia dan Nancy masih asik bercanda dengan memberi nama lelucon pada boneka itu. “Oke Nancy, waktunya serius, nama apa yang tepat untuk boneka ini?” ucap Mia. Dan akhirnya mereka menentukan nama “Diana” sebagai nama boneka tersebut.
Mia menuju ke kamar mandi untuk mengisi baskom dengan air. Sedangkan Nancy sendiri sedang berada di dapur mengisi gelas kedelapannya dengan campuran air garam. Sesekali Nancy berbalik memandangi kamar mandi tempat Mia berada. Rasanya, mimpinya tadi benar benar seperti nyata. Dirasa sudah cukup banyak gelas berisi air garam, Nancy membawa gelas – gelas itu di tempat- tempat nantinya akan bersembunyi. Seperti di dalam lemari, bawah kolong meja, belakang sofa, atau belakang pintu.
Malam sudah semakin larut, jam telah menunjukkan pukul 24.00. Mia dan Nancy sudah tertidur pulas di bawah selimut bermotif bunga tulip merah jambu. Dering alarm membangunkan Mia. Mia menggosok matanya dan bangun dengan terpaksa. Ia meraih alarm yang menunjukkan pukul setengah 3 pagi lalu mematikannya. “Nancy, ayo bangun, kita harus melakukannya mulai dari sekarang”. Setelah beberapa kali Mia berusaha membangunkan Nancy, Nancy bangun dengan rasa kesal, rasanya ia ingin melewatkan permainan ini, dan kembali tertidur. “Dimana kau meletakkan boneka itu? Aku sudah mencari kemana – mana tapi tidak menemukannya..” kata Mia sambil mengecek kolong tempat tidur. “Kan tadi kamu meletakkannya di kamar mandi waktu mengisi baskom itu..hoaamm” kata Nancy masih bermalasan diatas kasur
Nancy berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ketika ia masuk, dilihatnya boneka itu jelas – jelas berada disamping baskom air. “Mia! Miaa! Boneka itu ada disini!” teriak Nancy. Mia dengan cepat menghampiri Nancy di kamar mandi “Kenapa bisa boneka ini tiba- tiba ada disini? Tadi sudah kucek, bonekanya tidak ada kok!”. “Ah sudahlah, mungkin kamu tidak fokus karena mengantuk, 3 menit lagi sudah pukul 3, ayo siap siap” kata Nancy mengibas – ngibaskan tangannya karena basah. Jarum jam telah berada pas diangka 12 menunjukkan pukul 3 dini pagi. “Ayo Mia teriaklah pada boneka itu..” kata Nancy dengan buku “Na honja sumbakkojil, petak umpet sendirian” di tangannya. Mia dengan gugup dan ketakutan berteriak “Yang cari duluan Mia dan Nancy ya!….yang cari duluan Mia dan Nancy ya!….yang cari duluan Mia dan Nancy ya!”
Nancy bergidik ngeri, bulu kuduknya merinding. Ia menaruh boneka itu ke dalam baskom yang berisi air. Setelah itu, dengan cepat Mia dan Nancy keluar dari kamar mandi, lalu mereka mematikan semua saklar lampu rumah,. walaupun sekarang jantungnya berdegup kencang. Mereka kembali dengan napas yang sedikit tersengal- sengal, kemudian bersama – sama mereka menghitung angka mulai dari 1..2..3 hingga 9…10. “Mia…aku takut…ini terlalu gelap…kumohon kamu saja yang masuk dan menusuk boneka itu, aku sangat takut,” kata Nancy yang mengacung – acungkan senter hp ke segala arah. ” Nancy, aku kan tadi sudah berteriak pada boneka itu, sekarang giliran kamu dong! Kamu yang tusuk!”
Mia terus memaksa Nancy untuk masuk dan menusuk boneka itu, dan pelan- pelan pegangan pintu itu dibuka Nancy sambil menyenter nyenter kedalamnya. Diambilnya pisau di samping baskom air lalu “Tcakk!!” Nancy berhasil menusuk boneka itu sebanyak tiga kali. Kemudian ia kembali berteriak “Sekarang giliran Diana yang cari!..”. Nancy berlari ketakutan keluar dari kamar mandi itu. Terasa hawa ngeri dan suara bisikan- bisikan tak jelas mencengkram seluruh rumah. Suara- suara itu menusuk telinga yang membuat Mia dan Nancy tak bisa menahan teriakannya. Dan akhirnya permainan petak umpet dimulai.
Watansoppeng, 23 Januari 2022
