Oleh : Uqail Khafadi

Hari itu cuaca mendung ketika ayah pulang dari kampus. Sebagaimana biasanya saya selalu menyambut kedatangan ayah dengan gembira, terlebih ada beberapa materi tulisan yang ingin kudiskusikan.

Kegembiraan saya berlipat-lipat karena ayah membawakan buku “Sumpah Pena” karya Om RIM yang berkolaborasi dengan Om Iyan. Membaca judulnya saya tersentak, rupanya ada sumpah pena. Lalu siapa yang bersumpah? Kataku membatin.

Saya coba buka dan membacanya dengan melafalkan Bismillahirrahmanirrahim dalam hati. Saya rasa dan yakin buku ini akan membantuku mewujudkan cita-citaku menjadi seorang penulis hebat.

Lembaran demi lembaran telah saya baca, hingga bisa memahami sedikit kalau yang bersumpah demi pena ternyata Allah Swt. Mataku terus liar pelototin judul demi judul tulisan dalam buku itu, hingga saya lagi-lagi terkejut dan terpesona dengan judul tulisan Om RIM, “Kutemukan Peta Surga di Ujung Penaku”.

Judul tulisan ini yang membuatku tertarik sama buku ini. Om RIM menceritakan perjuangannya menggeluti dunia tulisan sampai menjadi sebuah buku yang menginspirasi banyak orang, termasuk saya yang semakin mencintai dunia tulisan.

Buku Sumpah Pena ini telah memberikan kekuatan untuk bangkit dan menerima segala kenyataan dengan ikhlas. Salah satu testimoni pembaca buku itu membuatku bersemangat, “Cukuplah sudah Air mata ini terbuang sia-sia karena ternyata ini bukanlah ke kesengsaraan melainkan kenikmatan”.

Dari kata-kata di atas saya menemukan energi besar dalam menulis, kesuksesan diawali dengan proses yang kadang menyakitkan. Begitu pula terjadi pada diri saya sendiri, karena kebawelan atau kelalaianku, saya sering dimarahi. Namun, bagiku itu adalah motivasi saya untuk lebih baik.

Satu hal lagi yang saya rasakan, dengan banyak membaca kita menemukan kosakata baru dan wawasan bertambah. Tentu ini akan mempermudah kita untuk menjadi penulis. Jadi, marilah kawan-kawan kita budayakan membaca untuk menjadi penulis. Seperti yang saya kutip dari kata-kata Om RIM pada tulisanku sebelumnya, “Teruslah menulis karena tulisan yang baik hanya bonus dari kebiasaan”.

*SDIT ATTIN Lubuk Buaya Kota Padang

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *