Oleh: Ridho Putra
Minggu pagi, 30 Oktober 2022, di rumah tempatku tinggal, suasananya cerah berawan. Saya termangu dan merenungi kegagalan demi kegagalan yang saya alami belakangan ini.
Apakah langkah ini harus terhenti? Apakah semangat mudaku yang selama ini membara sudah mulai melemah? Ke mana optimismeku menatap masa depan bersembunyi? Pertanyaan sejenis lainnya terus bertubi-tubi meminta jawaban batinku.
Saya mencoba mengingat deretan kegagalan yang telah terjadi sambil mencari pelajaran yang dapat diambil dari sebuah kegagalan. Bukankah ungkapan klasik mengatakan, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Semoga.
Pertama, gagal mengirim tulisan saya ke media Pena Anak Indonesia (PAI) karena sudah banyak tulisan yang hampir sama dengan tema tulisan yang saya buat. Setelah saya pikir sebenarnya kegagalan ini memiliki arti penting dalam kehidupan saya. Dengan kegagalan pertama ini, saya merasa harus mencari jati diri saya bahwa di mana kelebihan dan kelemahan saya dan berupaya untuk terus berkarya.
Muncul lagi yang kedua, gagal dalam membuat VCO dalam P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang merupakan program Kurikulum Merdeka yang telah saya jalankan selama dua minggu belakangan ini. Ternyata kegagalan kali ini justru saya merasakan adanya keakraban di antara teman sekelompok karena merasakan kesedihan dan rasa bertanggung jawab bersama atas kegagalan VCO yang kami buat.
Selanjutnya kemarin, tanggal 29 Oktober 2022 saya mengikuti Olimpiade Matematika di SMA N 1 2×11 Enam Lingkung. Lagi-lagi belum berhasil. Saya hanya meraih peringkat 26 dari 50 siswa peserta. Hanya 14 siswa masuk babak final di luar saya tentunya. Waduh gagal lagi, gagal lagi, gagal lagi, kataku membatin.
Dengan perasaan yang masih kecewa, saya mencoba mengambil makna dari kegagalan ini. Berarti saya harus berjuang lebih keras lagi untuk belajar dengan tekun dan bersemangat tinggi untuk meraih prestasi. Saya harus mencoba lagi, mencoba lagi, dan mencoba lagi.
Saya mencurahkan kekecewaan ini dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta, Allah Swt. Ternyata, kegagalan yang saya alami memiliki arti penting dalam membentuk dan menuntun diri saya ke arah yang lebih baik. Sesungguhnya hanya orang yang berani gagal yang bisa berhasil, dan guru kegagalan yang paling sempurna adalah Thomas Alva Edison sang pencipta bola lampu. Saya pun mulai berdamai dengan kegagalan.
*Siswa SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman
