mendengarnya sudah pasti  akan ketakutan terbirit lari tunggang langgang, disamping
kami semua terdapat satu rumah kumuh, dan penasihatku sudah pasti berada di sana.
“padahal dulu aku jatuh cinta padamu” komandan itu tersenyum menjijikkan
“bukan urusanku!” seruku dingin
“ck ck ck”
“cepat! selesaikan omong kosongmu, lalu berikan orangku”
“owh…silahkan ambil sendiri”
Komandan berbadan besar itu, mengarahkan tangan dan jari telunjuknya menunjuk ke
arah rumah kosong dan gelap itu
“menyusahkan”
Tanpa babibu lagi, aku berlari kencang memasuki rumah tidak bertuan lagi sunyi, di
depan pintu yang ku dobrak secara paksa.
Aku mengamati melihat sekitar, ruangan luas peninggalan pabrik lama sudah
tidak beroprasi, sepi tidak ada tanda tanda pasukan penjaga yang akan menghalangi
jalan, ini terlalu janggal tidak mungkin semudah ini, pasti ada sesuatu.
Rumah dua ruangan dengan bagian pintu di depan dan di tengah tempat ini,
membuat semuanya terlihat sangat lebar,  tempat yang pas bagi mereka untuk
mengepungku tanpa memberikan celah untuk kabur.
kembali, aku maju melangkah berjalan tenang waspada dengan segala
kemungkinan yang akan terjadi.
“Bruk”
dari langit langit atap ruangan, jatuh sebatang kayu berukuran setengah lengan orang
dewasa, aneh? Kenapa dari atas, manik mataku melihat kea rah atap, dan benar saja
“habisi” desisan suara terdengar
Turun beberapa orang yang bersembunyi mengelilingiku, aku tersenyum, sudah pasti
mereka tidak akan membiarkanku melalui semuanya “Alhamdulillah” perhitunganku
selalu benar.
Penyerang pertama datang dari depanku dia menggunakan pedang panjang
mengangkat tangan ingin menebasku, dengan gesit, lincah, dan kecepatan yang telah
ku perkirakan, bagaikan menari aku menghadapi mereka semua tidak ada yang mampu
menyentuhku,

Satu persatu mulai tumbang di hadapanku darah bermuncratan hasil membunuh
mereka tidak membuatku takut sama sekali, malah membuatku tambah bergairah dan
bersemangat membalas dendam mengigat masa kecilku tidak ada bahagianya
sedikitpun, di sebabkan perbuatan pemimpin mereka
“sreat”
Salah satu dari mereka yang sudah kepayahan sekarat berhasil mengores wajahku,
aku terdiam, aku lengah, memori itu kembali muncul, aku limbung badanku gemetar,
keraguan menghampiri, aku takut, tapi aku masih bisa mengontrol kesadaranku bahwa
aku harus terus maju ke depan.
Kecepatanku bertambah, membuat  orang lain yang melihatku seperti hantu
asap yang berpindah pindah dengan gerakan cepat sampai membuat kepala sakit jika
terus mengejarku.
musuh masih tersisa tujuh delapan orang, mereka ketakutan terlihat dari tubuh
mereka yang berhenti melihat rekan rekannya mati mengenaskan tidak bernyawa,
sebuah kesempatanpun datang sayang sekali jika di lewatkan.
Dengan beberapa tusukan mematikan aku berbaik hati membuat mereka langsung
bertemu malaikat maut tanpa merasakan sakit sedikitpun, lima menit waktu yang
kubutuhkan.
“sudah kubilang kau tenang saja”
Aku menoleh dari ujung ruangan masih ada satu orang berjubah hitam bersembunyi
diantara reruntuhan yang kubuat sendiri, aku tau dia bukan mata mata, aku tau dia
bukan pengintai bayaran, aku tau dia bukan musuhku.
“malik”
Panggilku kepada orang itu, dia keluar dari tempat gelap dan menghampiriku membuka
tudung kepala, wajahnya terlihat datar sedikit lega mungkin karna melihatku tidak
terkapar disini.
“harusnya aku tau” jelasnya sambil memasukan tangan ke saku celana di dalam
jubah besarnya.
“terima kasih”
“Tidak, sudah tugasku mem…”
“terima kasih karna tidak meniggalkanku sendiri” kataku penuh penghargaan

“kemampuanmu meningkat” malik mengalihkan pembicaraan
“tapi tetap tidak bisa mengalahkanmu, namamu saja malik penjaga pintu
neraka… kau kejam” kataku bergurau
“aku anggap itu sebagai pujian”
Aku tertawa
“karna kau sudah disini, bantu aku” aku kembali serius
“ sesuai keinginan anda ketua”
Kami berdua bergerak menuju pintu tengah berharap benar mereka tidak
membohongiku, berharap kejadian yang tadi hanya sebuah rintangan berlalu.
Pintu dibuka dengan tangan kokoh malik, aku yang berdiri di belakang malik
tidak menunggu lama langsung memasang kuda kuda siap dengan mode tempur,
kekuatanku hanya terkuras sepuluh persen masih tersisa banyak untuk melawan
mereka semua sebanyak apapun apalagi sekarang ada malik.
Ruangan 10×10 terbentang luas di hadapan kami, tidak ada apapun di
dalamnya, kosong hanya ada prabotan  usang tidak terpakai lagi, dindingnyapun sudah
sebagian atapnya bolong.
Kali ini benar benar tidak layak di sebut rumah atau gubuk, lebih tepatnya di
bilang gudang pembuangan barang tidak terpakai lagi.
Aku berjalan pelan menulusuri setiap inci barang apapun yang ada, masih
terlihat tidak ada tanda tanda orang yangku cari di sembunyikan, aku berusaha untuk
tetap berkonsentrasi dengan tidak membayangkan hal yang aneh aneh.
Netraku melihat di pojok ruangan terhimpit dua barang di kedua sisinya, sebuah
kotak berukuran lengan anak anak berwarna coklat seperti kotak harta karunberumur
panjang, sudah usang
Firasatku mengatakan ada sesuatau di sana, tergesa gesa aku menuju kea rah
sana,setibanya aku di depan kotak, tanpa menuggu lagi aku menghancurkan gembok
kunci lalu manarik tutupnya ke atas, aku tercengang, mendesah kecewa, menutup
kelopak mat sebentar.
Berkata dalam hati memberikan sugesti pada diri sendiri untuk tetap sabar dan
mengontrol emosi.

Kembali, aku melihat isi di dalamnya, bukan ada sebuah mayat, bukan pula aku salah
membuka barang, tidak ada apapun selain secarik kertas kecil tergulung berwarna
coklat, hanya itu, aku meraih gulungan kertas, membukanya, berkedip beberapa kali,
yang kali ini aku benar benar kaget di luar dugaan, tidak menyang tulisan apa itu,
“kalau kau memang hebat datanglah ke istana tua, naya”
Surat berisi tantangan yang terus terngiang ngiang membangkitkan kenagan kenangan
lama yang tidak ku inginkan, ta lama pundakku terasa seperti ada sesuatu yang
mengganjal dan basah
“kita harus secepatnya pergi dari sini” malik menyadarkanku, dia yang
menyampirkan padaku dengan jubah basah, setelah dia celupkan di sebuah gentong
berisi air di bagian atap bangunan yang bolon.
Aku tersadar, ternyata badanku dari tadi mengeluarkan keringat dan gemetar,
juga nafasku yang sangat sesak, di sekelilingku sebagian bangunan sudah terbakar
habis.
Dalam hitungan menit sudah pasti tempat ini bisa berubah menjadi neraka dunia,
apalagi pulau ini hanya berisi pohon pohon yang bisa mempercepat peluasan api
menyebar, sekali lagi, malik mengajakku untuk keluar karna masih melihatku mematung
terdiam tidak bereaksi.
Aku berdiri, mengeratkan jubah dan memakai tudung ke kepala, mengangguk 
ke arah malik, kamipun melesat mencari jalan keluar, ternyata ini rencana mereka,
mereka ingin membunuhku hidup hidup memanggangku dan membiarkan mayatku
hangus bersama rumah besar ini,
Entah untuk yang berapa kalinya aku menatap haru penuh kekaguman kepada
seseorang yang saat ini berada di depanku, menuntunku di antara pepohonan mencari
jalan keluar dari pulau misteri ini.
Air mataku menitik,aku tidak tau harus bagaimana aku berterima kasih kepada
bawahanku saat ini, dia selalu ada, di manapun, kapanpun, di saat sibuk sekaligus
mengurusi pekejaan yang lain, tidak peduli keadaannya sendiri, dia selalu saja datang
untuk menolongku, lihat!,
Sekarang cuaca sangat dingin, angin berembus sangat kencang dia hanya
mengunakan sehelai pakaian tipis, pasti dia datang menjemputku terburu buru, padahal

(Visited 20 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Qonita Syahidah

Qonita Aulya Syahidah gadis pelajar di mahad askar kauny juga salah satu murid manini atau pipit senja menulis cerita adalah salah satu hobby untuk mengisi waktu sengang selama 24 jam dalam sehari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *