Bayang-bayang samar aku bisa melihat tangan besar yang menarik bajuku dan melemparku ke pojok ruangan. Napasku terengah-engah, lebam menyelimuti seluruh tubuhku. Rambutku acak-acakkan, semua persendianku mati rasa, tidak ada kekuatan sedikit pun untuk melawan.
Aku hanya bisa pasrah pukulan demi pukulan terus berdatangan; buk buk buk!
Tiga pukulan kembali menghantam kaki-kaki kecilku yang sudah tidak bisa digerakkan lagi.
“Tidak apa-apa, semua akan berakhir, semua akan baik-baik saja, aku akan keluar dari sini.” Aku berbicara dalam hati, mencoba menenangkan diriku sediri yang tidak henti-hentinya menangis.
“Mati kau!”…….
Masih bisa kudengar sedikit suara orang itu menyumpah serapahiku. Ruangan gelap dan pengap, udara yang panas, sakit yang tak tertahankan dari tubuh mungilku. Dia tak berhenti juga, membuatku kehilangan kesadaran.
“Tidak boleh, tidak boleh, harus bangun! Dasar manusia tak punya hat!”
Lelah. mataku lama-lama menutup, dunia yang kulihat saat ini tidak terasa lagi satu tendangan terakhir mengarah ke mukaku
Napasku memburu, kepalaku pusing, badabku gemetar, tanganku mengepal kuat, kedua alisku berkerut menahan semua sakit ini.
“Mimpi lagi,” lirih suaraku keluar mencoba berfpkir jernih.
“Kau tak apa-apa…”
Di sampingku berdiri seorang laki-laki berjas model pelayan, dengan belahan kepala di tengah, salah satunya disisir kebelakang kepala, sebelahnya lagi di biarka terurai menutupi sebagian matanya.
Wajah pucatnya memancarkan kekhawatiran yang jelas, tangannya yang terangkat sedikit seperti ingin memegang dahiku.
Saat ini aku adalah pendiri dari sebuah organisasi besar pemberantas mafia di beberapa negara. Kami memiliki akses masuk kejalan-jalan yang tidak bisa dilewati penjahat biasa.
Kami berkerja sama kepolisian dunia, kami memiliki hacker terhebat internasional, kami adalah the hunters mafia, 99% dunia sudah kami taklukan dengan mudah.
Namun, ada satu musuh bebuyutan yang hingga sekarang tidak juga berhasil kami musnahkan, dua belas tahun berlalu sejak kejadian itu di umur 5 tahun, aku masih belum bisa melupakan kenagan buruk yang menghantui terus setiap malam.
Aku sudah berketetapan akan membalas apa yang terjadi padaku dulu, tubuh tak bernyawa adalah nama kelompok gangster terkenal yang haus darah dan ta punya belas kasihan kepada target sasaran mereka.
Bertahun-tahun aku membuat rencana, mangumpulkan informasi dari intel-intel khusus, mengejar mereka tanpa henti, tidak ada waktu istirahat, setiap kami mendapat informasi baru, dengan sigap, kami langsung mengusup ke tkp, tapi entah mengapa?
Mereka selalu bergerak satu langkah di depan, kami mekehilangan mereka, setiap akan berhasil tertangkap, mereka pasti berhasillolos walau kami telah mengepung mereka.
Lima tahun lalu, saat aku berhasil menyandera seratus orang dari pasukan mereka, entah dengan lihainya, tentara sebanyak itu dengan mudahnya kabur dari penjara bawah tanah yang tingkat kesulitanya mencapai tiga level dunia, seharusnya orang yang mempunyai kekuatan bisa menghilangpun tidak akan bisa keluar.
Jam menunjukan pukul delapan malam, sudah saatnya aku datang ke tempat pertemuan, beberapa saat yang lalu, seseorang dengan identitas tidak jelas menghubungi kami, dia mengatakan akan memberikan penasihat kepercayaanku jika aku mau datang sendiri ke tempat yang mereka telah tentukan, tanpa membawa apapun termaksud bodyguard dan senjata tajam yang ku sembunyikan.
“baiklah itu mudah bagiku” jawabku tenang
“bagus!, hadir jam Sembilan malam atau orangmu mati”
Tut tut tut
Telepon dimatikan langsung secara sepihak, aku hanya bisa mematung terdiam, memasukan telepon ke saku, berpikir langkah selanjutnya yang harus kulakukan, aku tersenyum, ini sangat seru dan menantang, aku sudah tidak sabar dengan kejutan yang mereka siapkan untukku.
“itu pasti sebuah jebakan, jangan datang kesana”
Max pelayan pribadiku, seorang yang paling setia di bandingkan yang lainnya, dia tulus benar benar mengikutiku
“tenang saja”
“aku akan mengirim pengintai sebelum kau kesana”
“tidak perlu… kita harus mengikuti peraturan”
“tapi…”
“ini perintah!!!” seruku tegas
“baik, sesuai keinginan anda ketua” max memberi hormat lalu pergi
Pulau tak di peta
“Wah, wah, wah, cepet juga kau sampainya vany, padahal aku sudah mengirim tentara bayaran untuk menghadangmu masuk pulau ini”
Diantara pohon pohon dihutan ini, berkumpul sekitar dua puluh orang berjubah hitam berlambang tubuh berwarna putih pucat, wajah mereka ditutupi tudung kepala besar yang membuat mereka harus mendongak jika ingin melihat, tapi bagi orang seperti mereka itu bukan masalah besar untuk bertarung.
Di paling depan berdiri seorang laki laki berbadan besar sekitar umur empat puluhan dengan tangan kanannya yang bertato, jubahnya juga terlihat lebih mewah dari yang lainnya,dialah komandan pasukan. Malam semakin larut, hutan yang terlihat tidak terawat semakin menyeramkan dengan hawa yang dingin, suara hewan buas bersahut sahutan, orang biasa yang
bersambung…
