aku yakin, dia sebelumnya sedang bersantai karna ini hari liburnya, hari libur yang
sangat berharga, dia jarang sekali meminta waktu istirahatnya.
Walaupun aku memberikannya sebagai bonus atas pencapaiannya selama ini
dalam bekerja, dia tetap tidak mengambilnya, walaupun aku memaksa karna sangat
terlihat dia sudah kelelahan, tetap saja dia tidak mau.
“melihatmu duduk tenang seperti ini sudah sebagai istirahat untukku”
Katanya waktu itu setelah aku kurung dia di kamar dan di jaga penjaga paling tangguh,
aku tau dia sangat lihai melakukan apapun.
Pukul 04:35 di kediaman the hunters mafia.
Saat ini aku duduk di meja kerja, tidak melakukan apa apa, tapi sedang berpikir
keras siapa dalang di balik ini semua, mungkinkah mereka yang telah membunuh
keluargaku, mereka yang membuat kehidupanku di masa kecil menderita?, siapa?, apa
mau mereka?, kenapa mereka bisa tau istana tua?.
Hanya orang orang terdekatku yang mengetahui itu, istana tua tidak ada dalam
sejarah, tidak ada yang menulis ceritanya, itu bisa di pastikan karna aku telah
menyelidikinya.
Kalaupun ada, aku sudah membuat kontrak dengan mereka, apa ada yang
mengkhianatiku?, apa yang ha…
Tok tok tok
“ketua aku membawakan makanan untukmu” itu suara max
“masuklah”
Max masuk membawa nampan berisi maknan dan minuman hangat, asap masih
terlihat mengebul,dengan telaten dia menaruh piring, sendok, dan garpu di hadapanku,
kemudian mundur sedikit berdiri di samping menungguku.
“ini makanan khas Indonesia”
Aku terpekur menatap makanan berupa sayur sayuran berwarna hijau dan putih di
tambah beberapa potong tahu kecil kecil, nasi padat yang di iris besar besar, juga di
tambah mie bihun secukupnya, lalu di siram oleh kuah kacang hingga mengenang,
yang terakhir bumbu dengan bawang merah yang di iris lalu di goreng hingga berwarna
coklat,
Hmmm ini sudah pasti sangat lezat, tapi untuk keadaanku yang sekarang, mau seenak
apapun hidangannya, aku tidak berselera untuk melahapnya
“ketua tidak pelu datang, saya akan mengantikan anda”
“aku seorang pemimpin, dan tidak akan pernah lari dari tanggung jawabku, aku
bukan pengecut!,Bertahun tahun aku membuat aorganisasi tidak mungkin hanya karna
masalah gini doang aku mundur”
Setengah jam berlalu, akhirnya aku berhasil mengahabiskan seluruh isi di dalam piring
beling itu, saat ini moodku sangat buruk, fikiranku bercabang kemana mana,
“kamu boleh pergi”
Max membungkukkan badan lalu keluar
Aku menghela nafas, menghempaskan badan kesandaran kursi, mengerutkan kening
dengan mengunakan 3 jari tangan sebentar, berdiri, berjalan keluar ruang kerja,
melangkah terus menuju kamar.
Tapi tidak langsung menuju kasur tidur, aku pergi ke kamar mandi untuk bersih
bersih, gosok gigi, cuci kaki, dan semacamnya, setelah beberapa lama, keluar dari
kamar mandi, aku mengarah ke sebuah cermin berukuran besar cukup untuk seluruh
anggota tubuhku terlihat.
Disana, pantulan dari diriku tergamblang jelas, tangan memegang wajah,
menelusuri setiap lekuk yang telah sang pencipta berikan, terdapat luka bekas jahitan di
bagian alis sebelah kiri hingga menembus mata.
Mungkin terlihat sangat menyeramkan tapi bagi yang mempunyainya ini terlihat
keren, ada juga sebuah goresan juga bekas pertarungan sebelumnya yang terdapat di
pipi sebelah kanan, yahh sebuah tanda kembali terukir mungkin warga warga biasa
akan semakin takut padaku.
Aku wanita berumur 17 tahun hidup di Negara eropa, sedangkan aku
berkebangsaan asia, aku menyamar menyerupai warga disini, menjalani keseharian
seperti orang sini.
Membuatku enggan untuk meninggalkan kota penuh dengan sejarah, aku
menggunakan wig pirang khusus, seperti warna khas rambut mereka, setelan pakaian
yang selalu panjang, seperti baju yang kerahnya menutupi seluruh leher, dan celana
panjang yang tidak terlalu ketat, orang manapun tidak akan mengira bahwa di tengah
tengah mereka ada orang yang sedang “menyusup”.
Setelah selesai bercermin, aku melangkah membuka meja berlaci di samping
tempat tidur, mengambil buku yang menulis seluruh sejarah yang telah kulalui,
membuka lembar demi lembaran.
Dari aku mulai kuliah di negaraku sendiri hingga aku mencapai pulau eropa ini,
aku berkuliah di dua Negara sekaligus asia dan eropa agar aku bisa membandingkan,
mengukur, dan membaca kekuatan lawan dan tempat kelahiranku sendiri.
Setelah menjalani kehidupan belajar selama beberapa tahun di universitas, aku
mulai membuat usaha sendiri, di mulai dengan membuat restoran kecil, membuat
beberapa cabang di berbagai kota, terus hingga membuat beberapa prodak baru,
menyebar luaskan, masuk ke dalam pasar perdagangan memproduksikan ke luar
negeri, menetap di sana, menjadi salah satu orang terkaya, lalu membuat pabrik
senjata moderent.
Hal yang ku impi impikan, terus hingga aku akhirnya membeli saham saham
perusahaan internasional, pada akhirnya aku terdaftar menjadi orang terkaya tahun 2024.
sampai pada halaman dimana tertulis nama orang baik yang menolongku disaat
saat genting 12 tahun lalu, aku tersenyum, memeluk buku bersampul coklat muda abu
abu, warna kesukaanku, aku kembali menaruh buku itu di dalam laci menguncinya
rapat rapat, kuncinya selalu bersamaku.
Aku bawa kemanapun termaksud saat tidur, ya sebuah kalung.Malam terasa
cepat aku langsung terlelap begitu mencapai atas kasur
Suara burung berkicau hal yang pertama kali kudengar setelah tidur lelap tanpa
mimpi yang mengiriku, aku bangkit duduk, menguap sebentar, merentangkan tangan
lebar lebar melemaskan tubuh, turun dari kasur, berjalan ke kamar mandi bersiap siap
menjalani hari hari yang menungguku.
Sambil menuju ruang kerja aku teringat kembali dengan surat yang
mengundangku untuk mendatangi istana tua, bertahun tahun aku tidak pernah lagi
mengunjungi tempat itu, sudah seperti apa ya.
