Bertemu dengan sosok seorang inspirator dan penggerak merupakan momen yang sangat diidam-idamkan oleh banyak orang. Tak terkecuali aku.

Tak pernah terlintas di benakku atas atas apa yang barusan aku alami. Khayalan yang bertransformasi menjadi realitas. Bertemu secara langsung dengan sosok panutan yang selama ini hanya aku lihat melalui media saja.

Sosok yang menciptakan sebuah forum untuk anak-anak generasi muda agar melestarikan budaya membaca dan menulis. Beliau juga menyediakan wadah bagi para penulis-penulis muda yang diberi nama Pena Anak Indonesia.

Hari ini, rabu, 25 Mei 2022, dengan penuh semangat, aku bersama beberapa teman yang juga merupakan member Pena Anak Indonesia berangkat menuju Aula Masjid Agung Kolaka Utara, tempat acara seminar nasional dilaksanakan.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh panitia yang juga merupakan mentor PAI Kolut dan dipersilakan duduk di tempat yang telah disediakan. Perasaan haru seketika menyelimuti alam bawah sadarku tatkala Pembawa acara yang merupakan member Bengkel Narasi, Bunda Hidayah Muslihah menyembut kedatangan kami melalui pengeras suara di hadapan seluruh peserta seminar yang hadir.

Tak lama berselang, waktu yang ditunggu akhirnya datang juga, jantungku berdetak lebih kencang saat kulihat panitia penyelenggara mengambil barisan di depan pintu, dari kejauhan terlihat sosok yang selama ini ku kagumi, sosok yang selama ini hanya mampu kuimpikan. Dialah Bang Ruslan Ismail Mage yang akrab kami sapa dengan panggilan sayang Om RIM, founder komunitas Pena Anak Indonesia.

Surprise ! Keinginanku akhirnya terpenuhi, bertemu dengan sang inspirator akhirnya menjadi kenyataan. Aku merasa mimpi di siang bolong bisa berada dalam satu ruangan dengan beliau.
Jantung ini berdetak dengan cepat serta gejolak-gejolak kebahagiaan di jiwa. Perasaan gugup, senang dan bahagia saat Sang Inspirator, Bang Ruslan Ismail Mage mulai melontarkan narasi-narasi inspiratif yang membakar semangat para peserta seminar.

Jantungku seketika berhenti saat Om RIM mememanggil kami untuk maju ke depan dan berdiri di sampingnya. Sekali lagi perasaan haru dan Bahagia itu semakin memuncak saat kami diperkenalkan di hadapan ratusan peserta seminar yang hadir. Aku hanya mampu bergumam dalam hati, “Mimpi apa aku semalam, detik ini aku bisa berdiri berdampingan dengan sang inspirator, sang penggerak, Bang Ruslan Ismail Mage.”

Setelah acara selesai, tibalah saatnya sesi foto Bersama. Tentunya kami tak ingin melewatkan momen langka ini, kami berfoto Bersama Bunda Ros yang juga melaunching buku keduanya dengan judul “ Pandemi Cinta di Taman Literasi”, Bapak Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka Utara Bersama istri, dan yang utama dengan Sang Inspirator kami, Om RIM.

Terakhir, aku hanya ingin berterima kasih tanpa limit kepada semua yang telah membantu aku dan kawan-kawan untuk bertemu dengan Om RIM. Untuk Bunda Ros, terima kasih telah mengundang kami, dan selamat atas launching buku keduanya, semoga kami bisa memiliki buku Bunda yang sangat inspiratif itu.

Terkhusus kepada Panutanku, penerangku, pembimbing sekaligus inspirasiku, Om RIM, terima kasih, terima kasih, dan terima kasih tanpa limit. Berkat Om RIM, Kemampuan menulis yang telah lama terpendam kini muncul lagi. Terima kasih atas wadah yang engkau berikan kepada kami penulis-penulis muda untuk menampung ide-ide kami. Terima kasih atas usaha tanpa batas yang Om RIM lakukan untuk menyalakan lilin-lilin yang padam di dalam jiwa ini.

Dan atas bantuan mentor-mentor hebat yang selalu membantu kami para penulis muda kami ucapkan banyak terima kasih. Tanpa bantuan dan bimbingan kalian kami mungkin tidak bisa seperti sekarang ini.

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *