Pada hari ini tepatnya pada 25 Mei 2022 telah dilaksanakan sebuah even yang sangat berkualitas dengan narasumber yang sangat hebat. Agenda SEMINAR NASIONAL yang berjudul MENJADI GURU TANGGUH DI TENGAH SERBUAN IMPERIALISME. DIGITAL. Even in diselenggarakan oleh IGTKI-HIMPAUDI di Islamic Center Mesjid Agung Kolaka Utara.
Pada awalnya saya dipenuhi rasa tanya tentang apa itu seminar, kenapa dan untuk apa seminar diadakan. Mungkin sebagian anak yang seusia dengan saya memiliki pertanyaan yang sama, karna saya pribadi tidak paham akan hal itu. Namun hari ini saya telah menemukan jawabannya.
Sehari sebelum acara ini berlangsung, kami, anak-anak PAI, diundang oleh bunda Rosmawati, sang mentor hebat kami di PAI, untuk datang keacara tersebut. Awalnya saya tidak tertarik untuk ikut karena yang terlintas dalam benak saya bahwa itu bukan zona saya.
Tahu tidak, apa yang membuat saya akhirnya antusias ikut dalam kegiatan itu? Hal itu adalah karena saya sangat ingin bertemu langsung dengan sang Inspirator hebat dengan berbagai bukunya yang dipenuhi dengan kata-kata yang indah dan menggetarkan jiwa dan sang penggerak yang mampu menggerakkan jiwa dan raga untuk selalu memberikan energi positif bagi orang-orang di sekeliling kita. Beliau adalah Ruslan Ismail Mage tapi kami anak-anak PAI memanggilnya dengan om RIM.
Beliau adalah seseorang yang telah menyalurkan energi positifnya kepada saya lewat narasi-narasinya yang sangat apik. Inilah yang membuat saya untuk muncul ke permukaan. Tentu saja tidak akan pernah lapas dari bantuan bunda dan om mentor yang hebat di pena anak Indonesia terutama bunda Rosmawati. Berkat bimbingan dan dorongan beliau saya bisa untuk mengasah bakat saya dalam menulis karna saya termasuk orang yang takut untuk tampil di depan umum baik secara fisik maupun nonfisik dalam hal ini menulis. Namun dengan bantuan bunda Rosmawati dan dengan adanya buku 21 Hukum Kesuksesan Sejati milik om RIM yang telah saya baca membuat saya tidak takut lagi untuk muncul ke permukaan dan terus mengasah bakat yang terpendam lama dalam diri saya.
Hati ini dag dig dug saat detik-detik om RIM akan memasuki aula tempat kegiatan itu berlangsung. Dada ini serasa seperti gemuru tak karuan saat beliau berjalan beriringan dengan we Kadis Pendidikan.
“Masyallah, ini kah yang namanya om Ruslan Ismail Mage yang sering kami panggil dengan sebutan om RIM?” ucapku dengan rasa takjub. Sosok yang terlihat begitu berwibawah dan karismatik.
Salah satu narasinya yang sangat saya suka yaitu “Hidup ini pilihan mau jadi emas atau jadi debu jika mau jadi emas jadikan musuhmu konsultan pribadimu, jika memilih menjadi debu silahkan ladeni musuhmu” narasi yang menjadi pengangan saya.
Bertemu dengan beliau adalah suatu kebanggaan teristimewa bagi saya karena saya sangat ingin bertemu dengan beliau dan hari ini terwujud. Saya sangat bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengannya. Jika ditanya bagamana rasanya saat bertemu, maka saya akan menjawab “Nano-nano, rame rasanya.” Kenapa? Karena yang saya rasakan adalah rasa gugup yang luar biasa bahkan tangan ini keringat dingin saat saya akan bersalaman dengan beliau dan saya bingung apa yang akan saya lakukan ketika dihadapan beliau, rasa senang yang luar biasa karena akhirnya bisa bercengkrama dengan beliau secara offline bukan online lagi seperti selama ini terjalin dan rasa sedih secara bersamaan karena waktu bertemu yang tidak banyak.
Maka dari itu saya menulis narasi singkat ini, menceritakan pengalaman saya bertemu dengan om Ruslan Ismail Mage agar menjadi rekam jejak pertemuanku dengannya. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Om RIM dan keluarga dan bisa dipertemukan kembali dalam keadaan yang baik. Aamiin..
