Oleh: Suci Angraini

Bumi Patampanua, tanah kelahiranku. Tempat aku menuntut ilmu agar kelak menjadi petarung masa depan yang tangguh. Generasi emas tumpuan masa depan bangsa.Bangga menjadi salah satu orang yang diundang pada sebuah momen yang sangat spesial, yaitu “Seminar Nasional, Menjadi Guru Tangguh Di tengah Serbuan Imperialisme Digital”, yang diadakan pada hari Rabu, 25 Mei 2022, di aula Masjid Agung Kolaka Utara. Aku belum terlalu mengerti apa itu seminar nasional. Namun, meskipun datang agak telat, tapi aku merasa begitu bersemangat karena aku tahu persis bahwa yang akan datang membawakan materi adalah tokoh panutan yang sekaligus adalah pendiri Pena anak Indonesia, yaitu Bapak Ruslan Ismail Mage, yang sering kami panggil Om RIM.

Aku dan seniorku sedikit ragu ketika masuk ke dalam aula Masjid Agung Kolaka Utara. Panitia dengan ramah mempersilakan untuk mengambil tempat yang ditunjukkan, namun, kami melihat sekeliling dan berharap menemukan teman-teman anggota PAI Kolut lainnya. Tak lama kemudian, salah seorang member PAI datang dan menyapa kami. Ia kemudian mengajak kami untuk mengambil tempat bersama dengan anak-anak PAI lainnya yang sudah datang lebih awal dari kami.

Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu langsung dengan sang inspirator. Aku juga tak menyangka bisa menghadiri launching buku ke-2 Bunda Ros yang berjudul “Pandemi Cinta di Taman Literasi”.

Aku merasa bersyukur bisa bertemu dengan beberapa mentor PAI Kolut serta beberapa teman PAI lainnya di seminar itu. Aku merasakan kehangatan saat berkenalan dan berbincang-bincang dengan beberapa member Pena Anak Indonesia. Mereka begitu asik diajak berbincang dan bercanda.

Saat seminarnya selesai, kami ingin sekali menggunakan kesempatan itu untuk berfoto-foto bersama Om RIM kesayangan kami. Namun, hal itu tidaklah mudah. Banyak juga peserta seminar lainnya yang ingin foto bareng sang inspirator dan penggerak kenamaan itu. Banyak yang ingin mengabadikan momen yang sangat spesial itu. Berfoto bersama Om RIM adalah momen langka yang begitu dirindukan oleh semua orang, termasuk anak-anak Pena Anak Indonesia.

Kami menunggu cukup lama agar bisa berfoto dengan Om Ruslan Ismail Mage, dan saat ada kesempatan, aduh…lagi-lagi diambil alih oleh para peserta seminar lainnya. Huh…Om RIM banyak sekali fansnya di Kolut.

Tapi untungnya ada Bunda Ros dan Pak Samrin yang menuntun kami agar bisa berfoto dengan Om Ruslan Ismail Mage, dan itu membuat kami senang. Kami mengabadikan semua momen indah itu bukan hanya dengan Om RIM, tapi juga bersama Bunda Ros. Alangkah bangganya karena kami juga bisa berfoto bersama Bapak kepala Dinas Pendidikan Kolaka Utara bersama dengan Ibu.

Terakhir, kami member Pena Anak Indonesia berbincang dan makan bersama, foto-foto, dan saling berpamitan untuk pulang ke rumah dan ada juga yang lanjut ke sekolahnya.

Huh, sungguh hari yang tak akan pernah bisa kulupakan. Bertemu sang inspirator adalah salah satu impian aku saat bergabung di komunitas Pena Anak Indonesia. Om RIM hebat, dan selalu menjadi panutan kami. Aku ingin menjadi penulis kenamaan seperti beliau. Menjadi penulis yang selalu menginspirasi. Penulis yang rendah hati, yang senantiasa peduli pada hidup dan kehidupan.

Semoga cita-citaku tercapai, masa depanku semakin ceria. Aamiin.

(Visited 67 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *