Oleh: Suci Angraini
Si twin’s pun sampai di rumah si calon pembeli.
Tok tok tok,
Mereka mengetuk pintu rumah yang mereka yakini bahwa rumah itu adalah milik calon pembeli yang mereka bicarakan tadi.
“Permisi,”Venia berteriak dan masih mengetuk pintu.
Sedangkan Vania hanya memandangi Venia dengan bingung.
“Heh, itukan ada belnya Ven, ngapain pake diketuk segala pintunya, kan bisa mencet bel,”ucap Vania yang sedari tadi diam melihat apa yang dilakukan saudari kembarnya itu.
Venia pun menoleh ke samping kanan dan melihat ada bel.
“Ouh iya, tapi kenapa Venia nga liat yah?, apa jangan-jangan belnya sembunyi dari Venia yah? ucap Venia sambil memelototi bel yang terpasang di tembok.
“Belnya dari tadi di situ loh Ven, belnya nga kemana-mana, iyakan,”ucap Vania dan meminta persetujuan dari bel tersebut.
“Iya, nga kemana-mana kok.”
“Tuh belnya aja bilang nga kemana-mana,”ucap Vania saat mendengar suara yang ia yakini keluar dari bel yang terpasang di samping pintu tersebut.
“Boong nih belnya, kalau nga kemana-mana trus kenapa Veni tadi nga liat dia ada di situ,”bantah Venia.
“Veni kan tadi denger sendiri belnya ngomong apa,”ucap Vania
“Udah dibilang belnya bo’ong.”ucap Venia lagi.
“Permisi, tapi belnya nga bisa ngomong dek.,ucap seorang ibu di pintu rumah yang mereka tempati sekarang.
“Eh, trus tadi yang ngomong siapa dong kalau bukan bel ini,”ucap Venia kebingungan.
“Yang tadi ngomong itu bukan belnya dek, tapi yang ngomong tadi itu ibu,”ucap ibu itu gemas melihat tingkah mereka yang tadi berbicara dengan bel yang sama sekali tidak bisa berbicara.
“Ouh gitu yah bu,”ucap Vania dan di akhiri dengan kekehan kecil dari Vania dan Venia.
“Iyah dek, tapi adek ada urusan apa yah? tanya ibu tersebut.
“Oh iya, ini benar kan kediaman pak Dodi?’ tanya Venia.
“Iya bener, tapi ada urusan apa dek sama suami saya?’tanya ibu itu.
“Katanya pak Dodi mau membeli rumah yang kami promosikan di media sosial bu,”jawab Venia.
“Ouh ternyata adek-adek ini yang punya rumah itu.”ucap ibu itu.
“Iya bu, pak Dodi nya kemana yah kalau boleh tau?.”tanya Vania.
“Suami saya nga ada dek, sini surat rumahnya, biar ibu yang tanda tangani,”ucap ibu itu.
“Yaudah, ini bu surat-suratnya, dan ibu udah tau kan berapa kesepakatan harganya?’Venia menyerahkan surat-surat rumah itu kepada ibu tersebut.
Istri pak Dodi itupun mengangguk dan menandatangani surat-surat rumah yang di berikan oleh Venia.
“Nah ini sudah saya tanda tangani, tunggu di sini dulu yah dek, ibu mau ambil cek dulu,”ucap istri pak Dodi setelah menandatangani surat-surat tersebut.
Si twin’s pun hanya mengangguk dan menunggu istri pak Dodi itu keluar.
“Ini dek, nominal yang ibu tulis di cek itu udah sesuai dengan kesepakatannya kan?”tanya istri Pak Dodi.
“Oiya bu, terima kasih dan semoga senang dengan rumah barunya”,ucap Vania dengan tersenyum manis dan diikuti oleh Venia.
“Iya dek, terima kasih kembali.”istri pak Dodi itu membalas senyum si twin’s.
“Kalau begitu kami pamit pulang yah bu,”ucap si twin’s dengan sopan.
“Iya dek, hati-hati di jalan,”ucap istri pak Dodi.
Si twin’s pun memasuki mobil yang mereka parkirkan di halaman rumah pak Dodi dan mengendarai mobil tersebut keluar dari halaman rumah pak Dodi.
“Ven, yuk kita cairin cek hasil kerja keras kita,”ucap Vania
“Yuk, eh itu ada bank, kita cairinnya di situ aja,”ucap Venia.
“Eh iya, yaudah ayo.,ucap Vania.
Si twin’s turun dari mobil dan memasuki bank tersebut untuk mencairkan cek hasil penjualan rumah yang mereka jual tadi.
Setelah selesai mencairkan cek tersebut, si twin’s berjalan keluar dari bank dan menuju mobil dengan membawa 3 koper yang semuanya berisi uang merah.
“Yey, inilah hasil dari kerja keras kita.,girang si twin’s sambil lompat-lompat dan berteriak kegirangan karena mendapatkan uang yang banyak tanpa bantuan siapapun.
“Ya udah, yuk kita pulang, ntar diomelin lagi kalau kita nga ada di rumah,”ucap Vania.
“Yaudah, sekarang Venia lagi yang bawa mobil, kan tadi Vania Mulu yang bawa mobilnya, mumpung Venia lagi baik hati nih yah, jadi Venia yang bakalan bawa mobilnya.”ucap Venia.
“Ya udah, terserah deh.,ucap Vania.
Si twin’s memasuki mobil dan mengendarai mobil itu menuju mansion mewah mereka.
Si twin’s sampai di depan gerbang mansion mereka. Sebelum memasuki gerbang, si twin’s dihentikan oleh satpam penjaga mansion mereka. Si twin’s yang dihentikan pun langsung membuka kaca mobil.
“Eh non dari mana?, Kok cuman berdua aja?, bodyguardnya mana?, Kenapa non nga bawa bodyguard?.”tanya satpam itu bertubi-tubi.
“Em anu, kan tadi itu semua supir, penjaga, pelayan, dan bapak lagi jamnya istirahat, jadi kami keluar tanpa ada orang yang tau,”ucap Venia.
“Nga ada orang yang tau?, Jadi tuan, nyonya, dan tuan muda nga tau juga kalau non keluar tanpa penjagaan bodyguard?, astaga non, gimana kalau nyonya, tuan, sama tuan muda tau kalau non keluar cuman berdua doang, pasti semua penjaga bakal dimarahin non,”satpam itu sangat panik.
“Ayah kan nga ada di rumah, ayah pergi ke kantor, trus Abang Al sama bunda lagi ada di kamarnya, mereka nga tau kalau kami berdua keluar,”ucap Vania.
“Ya udah, mending sekarang non masuk, trus parkirin mobilnya di tempat semula yah non sebelum ada yang tau,”ucap satpam.
Si twin’s memasukkan mobil itu ke garasi dan memarkirnya seperti semula, setelah itu si twin’s masuk rumah dengan hati-hati. Saat melihat tidak ada orang di ruang tamu, twin’s berlari menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
“Mereka dari mana?, dan apa yang mereka bawa?.”ucap Aldino saat baru saja keluar dari dapur untuk mengambil cemilan, dan melihat si twin’s menaiki tangga dengan terburu-buru dengan koper yang mereka bawa.
“Apa mungkin mereka habis keluar?”tanya Aldino kepada dirinya sendiri.
“Tapi untuk apa mereka keluar?.”
“Tidak mungkin kan kalau mereka habis dari taman belakang, jika memang benar adik-adik kecilku itu pergi ke taman belakang, mengapa pakaian yang mereka pakai itu sangat rapi, lagi pula mereka jika ke taman belakang tidak akan menggunakan sepatu kan.”
“Lalu mereka habis dari mana?.”
“Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka.”
Aldino terus menerka-nerka apakah si twin’s habis dari luar ataukah hanya di taman belakang? Aldino sekarang dilanda rasa penasaran.
