Oleh: Suci Angraini

Aldino bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, dan tidak ada kata maaf bagi orang yang menyakiti adiknya, baik itu laki-laki atau pun perempuan, semuanya sama saja di mata Aldino.

“Jangan kasihani dia, buat dia senasib dengan orang-orang yang menyakiti princess Bagaskara. Kau tahu kan bahwa jika ada yang menyakiti adik-adikmu, maka bukan hanya kau, ayahmu, dan bunda yang marah, tapi semua anggota keluarga Bagaskara akan turun tangan termasuk yang terkejam, karena Vani dan Veni adalah kesayangan keluarga Bagaskara,”Clara berucap sambil tersenyum penuh arti kepada Aldino.

“Yah, Al tau itu bund, jadi Al gerak cepat sebelum diamuk family Bagaskara karena dituduh tidak menjaga princess mereka ini dengan baik,”ucap Aldino menatap adik kembarnya yang duduk di sampingnya.

“Van, apakah Vani ngerti apa yang bunda dan abang Al bicarakan?” ucap Venia berbisik.

“Nga, Vani nga ngerti,”jawab Vania balik berbisik kepada Venia.

“Ya udah, daripada di sini dengerin omongan bunda sama abang Al yang tidak Vani dan Veni ngerti, mending kita pergi bakar rumah Om Angga yang ini,”ajak Venia kepada Vania sambil tersenyum dan memainkan alisnya dan memperlihatkan foto mansion mewah yang berwarna putih elegan.

“Ide bagus tuh, tapi,”ucap Vania menggantung ucapannya.

“Tapi apa Van?”tanya Veni penasaran.

“Tapi daripada kita bakar rumahnya Om Angga, mending kita jual aja, kan hasilnya lumayan tuh, ntar kita bagi dua.”ucap Vania melanjutkan ucapannya yang sempat ia gantung.

Venia tersenyum dan mengangguk cepat pertanda bahwa ia setuju dengan ide saudara kembarnya ini.

Sedangkan Clara dan Aldino hanya mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh si twin, wajarlah Clara dan Aldino tidak mengerti karena si twin berbicara masih dengan nada berbisik-bisik.

“Lagi ngomongin apaan dek? “tanya Aldino.

“Iya tuh, lagi ngomongin apaan hmm, kayaknya seru banget sampai senyum-senyum gitu,”Clara juga bertanya kepada anak kembarnya dengan lembut.

“Nga ada kok bund, bang.”jawab si twin secara bersamaan dan menampilkan senyum manisnya masing-masing.

“Beneran?”tanya Aldino lagi

“Beneran abang, emang abang nga percaya sama adik-adik Abang yang gemoy ini hah?”ucap Venia sambil menatap tajam sang abang, Vania mengangguk dan ikut menatap tajam sang abang.

“Ngapain natap abang kayak gitu?, Kalian pikir dengan kalian natap abang kayak gitu Abang bakal takut hmm?, nga bakal honey,”ucap Aldino dengan terkekeh.

“Is ngapain ketawa sih bang, emang ada yang salah sama wajah kami?,”tanya si twin sambil menatap wajah satu sama lain dan memainkan pipi satu sama lain.

“Aaaaaaa kalian anak siapa sih, kok gemoy banget,”Aldino teriak dan teriakan Aldino membuat si twin kaget.

Aldino langsung memeluk erat tubuh mungil adik kembarnya dengan gemas sehingga tidak sadar bahwa si twin hampir kehabisan nafas.

Vania dan Venia hampir mati dibuat oleh Aldino kalau saja Vania dan Venia tidak mengigit bahu Aldino yang membuat Aldino melepaskan pelukannya karena merasa kesakitan di kedua bahunya.

“Hos hos hos, abang hos mau bunuh kami hah”,teriak Venia dengan nafas ngos-ngosannya.

“Siapa suruh gemesin banget,”ucap Aldino dengan tatapan tidak bersalahnya.

“Noh, tanya bunda kenapa ngelahirin kami dengan wajah yang imut-imut ini.”ucap Venia dengan memalingkan wajahn sombongnya dan bersidekap dada, Vania yang melihat gaya Venia pun ikut mengikuti gaya Venia.

Sedangkan Clara hanya tersenyum bahagia melihat kelakuan ke 3 anak-anaknya yang kadang akur, kadang susah akur.

“Dih, sombong amat anda,”ucap Aldino melihat gaya Vania dan Venia yang berlagak sombong.

“Biarin,”ucap si twin menaruh jari telunjuk dan jari tengahnya di depan mata mereka masing-masing dan setelah itu mereka mengarahkankan kedua jarinya itu ke Aldino, dan si twin pun melenggang pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Clara dan Aldino hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan si twin, dan mereka pun berlalu pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

°Kamar si twin°

Vania dan Venia sudah mengenakan hoodie hitam, celana kulot putih, topi hitam, dan kacam photocromic yang sama, dan penampilan mereka itu akan membuat siapa saja yang melihatnya tidak akan bisa membedakan yang mana Vania dan yang mana Venia.

“Surat rumahnya udah ada kan Ven?,”tanya Vania.

“Udah, nih suratnya,”ucap Venia menunjukkan surat rumah kepada Vania.

“Ya udah, kuy kita pergi ke rumah calon pembelinya,”ajak Vania.

“Wih, udah ada aja calon pembelinya, dapat dari mana Van?”tanya Veni

“Kan Vani promosi in rumah Om Angga di Instagram, trus banyak yang mau beli tuh rumah, tapi Vani cuman pilih yang pertama komen, dan ya udah, Vani nanya di mana alamat rumahnya, dan dia kasi alamatnya, gitu ceritanya,”Vania menjelaskan panjang lebar.

“Ya udah, yuk ke rumahnya,”ucap Veni.

“Yuk lah,” balas Vania.

Dan mereka pun bergegas menuju garasi untuk memilih mobil yang akan mereka kendarai untuk ke rumah calon pembeli. Setelah mereka menentukan pilihan mobil yang akan mereka kendarai, mereka bergegas mengendarai mobil itu keluar mansion mewahnya sebelum bunda dan abang mereka tau kalau mereka keluar tanpa pengawasan bodyguard pribadi mereka hanya keluar untuk menjual rumah yang bukan milik mereka.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *