“Semesta, ku mohon berpihaklah kepadaku. Aku tak menuntut segalanya menjadi apa yang ku mau. Yang ku inginkan semuanya baik-baik saja. Yakinkan diriku bahwa segala doa yang ku panjatkan baik terwujud atau pun tidak yang itulah yang tebaik untukku.
Ya Allah, Bantu aku meyakinkan hatiku bahwa kesedihanku hari ini akan tergantikan dengan kebahagiaanku esok. Aku ingin berdamai dengan keadaan, tertawa dengan lepas tanpa ada kepalsuan, menghilangkan beban yang menyelimuti pikiran walau hanya sejam saja.
Aku hanya ingin sabar dan ikhlas menerima semua kenyataan ini tanpa memandangnya penuh dengan kebencian.
Semesta, Berpihaklah kepadaku sebentar saja, setidaknya sampai aku terbiasa untuk menerima segala sesuatu yang tak sesuai dangan harapanku,”
Pinta Maureen, gadis cantik yang terbaring lemah tak berdaya yang harus menerima takdirnya dan tidak bisa menikmati masa-masa mudanya seperti seorang remaja pada umumnya.
Tubuhnya di penuhi alat-alat medis sebagai penunjang hidupnya. Tepat 2 tahun yang lalu dokter memvonis dirinya mengidap penyakit kanker. Berbagai pengobatan telah ia jalani namun nihil, hingga kini ia hanya menunggu keajaiban semesta.
Maureen pasrah akan ketetapan Tuhan padanya dan percaya semuanya akan baik-baik saja walaupun ia harus mundur dari kehidupan yang penuh dengan sandiwara.
Tersisa satu harapan yang dia panjatkan sebelum desahan nafas terakhirnya diambil. “Semoga orang-orang yang kutinggalkan tidak larut dalam kesedihan atas kepergianku. Mereka mampu melanjutkan hidupnya lagi seperti saat diriku masih ada walau pasti akan terasa berbeda. Kali ini semoga Tuhan mengabulkan permohonan terakhirku” ucapnya dalam hati sambil meneteskan air mata.
“Terima kasih semesta, sekarang aku bisa berdamai dengan keadaanku sebelum jantungku berhenti berdetak,” kata-kata terakhir yang terucap dari bibir Maureen sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Gadis yang malang, tepat di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun ia harus berpamitan dengan kehidupan ini. Membawa rasa sakit yang telah menggerogoti tubuhnya selama 2 tahun. Maureen terpaksa mengubur mimpinya untuk menjadi seorang dokter agar orang lain tidak merasakan sakit yang ia rasakan.
Sebulan lagi Maureen akan lulus, dia telah merencanakan semuanya, dia telah berusaha keras agar bisa mendapatkan beasiswa dan lanjut ke fakultas impiannya. Namun, semuanya sudah berakhir. Impian hanya tinggal impian saja. Kini dia tidak lagi merasakan sakit seperti yang ia rasakan selama ini. Kini gadis remaja ini telah tenang di surga meninggalkan beribu kenangan yang akan selalu tersimpan dalam memori keluarga, sahabat, serta orang-orang yang menyayanginya.
Percayalah kesedihanmu hari ini adalah kebahagiaanmu di hari esok ~Maureen.
