Part 2

Tepat pukul 04 :48 Friska bangun untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah yaitu sholat subuh dan dia berjalan ke arah tempat tidur dan mulai membereskannya. Setelah itu Friska langsung menuju ruang tengah untuk memulai rutinitasnya di pagi hari.

” Huuu,,,, akhirnya selesai juga ” ucapnya setelah membereskan seluruh rumah dan berjalan ke kamarnya.

Setelah selesai mandi dia segera memakai seragam sekolahnya dan mempersiapkan semua kebutuhan sekolahnya hari ini. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memoles wajahnya karena dia memang cantik tanpa make up.

” Friska ayo nak sarapan dulu sebelum ke sekolah ” pangil ibunya
” Iya buk” jawab Friska berjalan ke arah meja makan “
“Ibu ayah dimana kok ngak ada di meja makan. Ayah tidak pernah melewatkan sarapan bersama? ” tanya Friska karena ayahnya tidak ada di meja makan.
“Ayah sakit nak makanya gak sarapan bareng ” ucap ibunya mengcoba untuk baik-baik saja di depan anaknya.
“Baiklah bu, aku ke kamar dulu mau liat ayah ” ucapnya dengan muka sedih.

Tok tok tok ketuk Friksa
” Ayah, Friska boleh masuk ” pamit Friska
“Silahkan nah, masuk aja” sahut pak Bram, ayah Friska
” Kenapa belum berangkat sekolah nak. Ini sudah jam 7 loh ” lanjut ayah friska
“Kata ibu ayah sakit. Kenapa ngak bilang sama Friska yah? ” ucap friska dengan mimik wajah yg murung
” Hey putri ayah gak usah sedih. Ayah cuman demam biasa nanti juga sembuh ” kata pak Bram meyakinkan Friska.
“Ayah janji ” ucap Friska sambil mengacungkan jari kelingking
“Iya ayah janji. Kamu kaya anak kecil aja harus pakai janji jari kelingking. ” ucap ayah friska .
Ya udah, sekarang ke sekolah nanti kamu terlambat. Lanjutnya..

Sampai di depan pagar ,,,,

“Yah ampun pagar udah tertutup lagi. Gimana nih ?” ucapnya terengah-engah karena berlari dari rumahnya jarak yang lumayan jauh. Setiap hari Friska ke sekolah hanya berjalan kaki karena dia tidak ingin merepotkan orang tuanya untuk memberikan uang tambahan hanya untuk bayar angkot.
“Pak tolong bukain. Saya janji gak bakalan telat lagi pak ” ucap friska sambil memasang mimik wajah yg sesedih mungkin
” Aduh neng ngapin juga pake telat ” ucap pak satpam sambil membuka pintu pagar sebab dia tahu bahwa Friska adalah murid teladan jadi pasti ada alasannya mengapa Friska bisa telat hari ini.
“Terima kasih yah pak. bapak baik bangetttt ” puji Friska sambil menaikan jempolnya. Dia memang dekat dengan pak Jodi, satpam di sekolahnya, karena Friska selali datang paling awal dari pada teman-temannya yang memiliki kendaraan.

Dia berlari sekencang mungkin karena mata pelajaran pertama hari ini adalah Biologi dan gurunya adalah ibu Megan yang dijulukki guru killer. Ketika sampai didepan pintu kelasnya, dia mengumpulkan semua keberanianya sebelum masuk.
Dengan perlahan dia masuk kedalam kelas.
“Assalamualaikum bu maaf saya terlambat ” ucap Friska saat masuk ke dalm kelas dengan menundukkan kepala. Semua mata tertuju kepadanya. Teman-teman sekelasnya mulai berbisik.
Seketika ibu Megan menoleh ke sumber suara dengan mimik wajah datarnya ” Kamu tahu kan saya tidak suka dengan anak yang terlambat dan kamu tahu itu ” ucapnya.

Dengan wajah yang bias karena takut, Friska menundukkan kepalanya semakin dalam “Iya bu saya tahu. saya minta maaf bu. Izinkan saya mengikuti mata pelajaran ibu sekali ini saja. Saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi bu” dengan wajah memelas dia memohon untuk diizinkan mengikuti pelajaran pagi karena dia tidak ingin tertinggal satu mata pelajaran pun termasuk mata pelajaran Biologi.
Ibu Megan menolak dengan mentah-mentah karena baginya kedisiplinan waktu adalah nomor satu. “Keluar dari kelas saya dan berjemur di lapagan sampai jam saya habis!!!!” ucapnya dengan nada marah.
Friska sangat kaget dan membuat jantung berdabar tidak karuan. Percuma saja dia mohon sampao kapan pun Ibu Megan tidak akan memberi ampun. Kemudian diaberjalan ke arah lapagan dan berdiri dibawah sinar matahari

“Yah Allah panas banget sih ” ucapnya sambil menegadah keatas dengan keringat yang bercucuran.
Sudah hampir dua jam Friska dihukum berjemur diteriknya matahari yang begitu aduhaiii.
Ketika pak Alvaro lewat di lapangan, dia tidak sengaja melihat Friska sedang dihukum. Dia merasa heran karena dia tahu Friska orang yang tidak pernah buat masalah di sekolah. “Kok Friska di hukum ” benak pak Alvaro. Pak Alvari berjalan ke arah Friska
“Friska ngapain kamu di sini ” tanya pak alvaro dengan mimik wajah yang sendu. Dia mersa iba dengan kondisi Friska saat ini. Wajahnya sudah memarah karena teriknya matahari yang sangat panas hari ini.
“Saya di hukum pak gara-gara saya telat pak” gumam Friska karena sangat malu saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia dihukum semenjak mengenyam pendidikan disini.
“Ooo telat ” ucap pak Alvaro mangu mangu.
Kepala Friska sudah mulai sakit dan juga penglihatannya pun sudah mulai berkunang-kunang dan dia pingsan tepat di bawah kaki pak Alvaro.
” astaga friska ” ucap pak Alvaro yang kanget dan langsung sja membawa Friska di UKS.
Setelah sampai dia langsung saja membaringkannya di ranjang yang ada di dala UKS dan langsung memanggil dokter sekolah.
” Gimana keadaannya ?” tanya pak Alvaro yang sara dengan rasa cemasnya.
“Baik saja dia hanya kecapen saja ” ucap dokter sekolah. Pak Alvaro bernafas dengan lega. Untung saja Friska tidak kenapa-kenapa.
” Yah sudah kalau gitu saya pamit ” ucap dokter sekolah berjalan keluar ruangan
“Iya. Terima kasih ya dok.” Ucapnya sambil terus memandangi muka Friska yang terlihat pucat. Dia meninggal Friska dan menitipkannya dengan petugas yang piket hari ini di UKS. “Kamu jaga dia ya. Kalau sudah sadar kabari saya ya” ucapnya pada siswa yang berjaga saat ini.
“Iya pak. ” Jawab siswa tersebut.
Setelah 30 menit, Friska mulai sadar dan merasakan kepalnya sangat sakit. “Aduh kepalaku sakit banget ” ucap friska sambil memegani kepala nya
“Udah bangun Friska kami kawatir loh” ucap Siska dengan wajah yang sangat cemas. Dia merupakan sahabat Friska sejak masuk di sekolah ini. Dia langsung berlari ke UKS ketika mengetahui kalau Friska pingsan saat dihukum.
“Aku sudah tidak apa-apa. Maaf ya sudah buat kamu cemas.” Ucapnya sesal karena telah membuat sahabat satu-satunya cemas karena dia.
” Ya udah ngak apa-apa.” Balas Siska dengan senyum tipis.
Setelah kejadian itu Friska tidak mau mengulanginya lagi. Hari benar-benar hari yang sangat melelahkan.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *