Oleh : Andi Khadijah Azzahrah

Pagi itu, 3 November 2019. Armin terbangun dari tidurnya dan melirik jam di sebelahnya yang menunjukkan pukul 06.35 pagi. Pemuda bernetra biru langit itu belum sadar, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 20 tahun. 

Sebenarnya dari dulu, Armin merasa ulang tahun tidaklah spesial, dan tidak harus dirayakan. Armin cenderung tidak suka jika ulang tahunnya dirayakan. Pemikiran ini mungkin adalah bawaan dari keluarganya. Sebab, keluarganya memang berpikir bahwa ulang tahun hanyalah seperti hari-hari biasa, dan akan berlalu seperti hari-hari biasa pula. 

Tetapi berbeda dengan kali ini, karena ulang tahun setiap orang yang tepat berusia 20 tahun berbeda. Okay, sebelum itu mari kita perjelas apa yang spesial dari ulang tahun yang ke 20. Konon katanya, bila seseorang sudah tepat berusia 20 tahun, nama soulmate’s nya akan terukir secara otomatis seperti tato di bagian lengan tangan kanannya. Kenapa bisa seperti itu? Apa itu tanda bahwa seseorang telah dewasa? tidak ada yang tau.

Kita kembali ke seorang pemuda yang baru saja bangun. Ya,  Armin Arlert lebih tepatnya, nama lengkap dari pemuda bernetra biru langit dan berambut pirang itu. Dengan mata yang setengah terbuka, ia melirik kalender yang terdapat di meja yang sering ia pakai belajar semalaman, kemudian dia menyadari bahwa hari itu, adalah hari ulang tahunnya yang berarti hari dimana ia akan mengetahui nama dari soulmate-nya. 

Tidak mau memikirkannya lebih lama, Armin beranjak dari tempat tidur dan sedikit merapikannya, lalu bergegas untuk mandi karena hari ini dia ada kelas pagi. Setelah mandi, Armin pergi ke dapur untuk sekedar sarapan sesuatu untuk mengisi perutnya agar tidak kosong. Tidak disangka, Bunda dari Armin Arlert sedang membuatkan anak tunggal sekaligus kesayangannya tersebut sarapan.

“Loh? Bunda? Bunda kok disini?” tanya Armin dengan muka yang keheranan, sebab Armin memang tinggal sendiri dalam apartemen yang disewa. Semenjak Armin lulus dari SMA, ia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya dan memilih hidup sendiri dengan uang seadanya yang berhasil ia kumpulkan semasa SMA dengan manggung bersama band-nya. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya terlalu banyak, katanya.

“Emangnya nggak boleh kalo bunda ke tempat anak sendiri?” Kata bunda dengan nada yang dibuat seolah olah terdengar sedih.

“Enggak gitu bunda, tapi setidaknya kabarin Armin kek kalo mau mampir, Armin kan bisa jemput di stasiun” katanya. Jarak rumah dan apartemen Armin memang tidak bisa dibilang dekat, tetapi tidak juga terlalu jauh. Hanya dengan menaiki kereta 30 menit saja sudah sampai

“hehe bunda juga mendadak, soalnya bunda pengen tau nama dari soulmatenya anak bunda. Kamu kan hari ini ulang tahun.”

“Iya juga ya” batin Armin yang merasa bodoh sedari tadi tidak mengecek lengan kanannya.

“Mana sini bunda liat” ucap bunda Armin selagi mengangkat lengan baju milik Armin.

𝘈𝘯𝘯𝘪𝘦 𝘓𝘦𝘰𝘯𝘩𝘢𝘳𝘵

“Annie… Leonhart? kamu kenal dia, Armin?” kata bunda

“Huh? nggak bunda, mungkin belum ketemu” balas Armin,

lalu bunda membalas “Yaudah, sekarang kamu habiskan dulu sarapannya, nanti telat. Udah jam berapa ini.” 

“Iya bunda, makasih udah dibikinin sarapan hehe” ucap Armin sambil tersenyum cerah, tapi dalam kepalanya masih berputar nama yang sekarang terukir jelas di lengan kanannya. Annie Leonhart.

Setelah sarapan, Armin berpamitan kepada bundanya, setelah menjawab pertanyaan “Kamu nanti mau hadiah apa dari bunda?” dengan “Nggak usah bunda, bunda datang kesini udah hadiah buat Armin, Armin berangkat ya, bunda!” Armin pun berangkat ke kampusnya.

Sesampainya di kampus, Armin dikejutkan oleh ‘sapaan’ dari teman sejak kecilnya.

“Yo Armin! Hari ini didedikasikan buat lu ha ha, sini gua pengen liat  nama soulmate lu!” kata pria itu. “Gak. gak mau kasih tau!” balas Armin dengan nada yang sedikit mengejek. “Ahhh Arminn ,sejak kapan lu jadi pelit begini ?! Siapa yang ngajarin hah ?!” kata pria itu dengan sedikit berteriak. 

“Gua gak nyangka lu ga mau kasi tau gua, gua lu anggap apa min? gue pikir kita temen” katanya, mengguncang-guncang bahu Armin, dan dengan nada yang sedih. Dia memang  teman sedari kecil Armin. Siapa lagi kalo bukan Eren Yeager. Mereka sudah menjadi teman sejak mereka masih dalam kandungan. 

Oh iya, dan orang disamping Eren, yang pada lengan kanannya terpampang jelas nama Eren Yeager, dia Mikasa Ackerman. Orang yang juga sedari kecil merupakan teman Armin, atau yang lebih akrab disapa Asa. Ia dari tadi menyaksikan hanya bisa tertawa melihat kelakuan kekanak-kanakan mereka, dan untuk kesekian kalinya menyadari, “wah mereka tidak pernah berubah, masih seperti waktu pertama kali kami bertemu.” 

“Jawab  Minn , kenapa., Kasi tau  gue  donggg..” sambung Eren. Tetapi, bukannya luluh melihat ekspresi melasnya, Armin malah memasang ekspresi jijik. “Yaudah, nanti ku kasih liat, ada kelas pagi nih, harus cabut sekarang kalo gak nanti telat, bye!” kata Armin. Bukan tanpa alasan Armin berkata begitu, dia tidak berbohong, karena kelasnya memang akan dimulai 10 menit lagi. Dia harus berlari karena kelasnya cukup jauh, dia tidak boleh terlambat. Tapi alasan lainnya ya memang karena dia pengen kabur sebelum dipaksa kasi tau nama dari soulmatenya itu.

Armin berlarian cukup lama untuk menemukan gedung fakultas kedokteran. Karena Armin merupakan mahasiswa kedokteran semester 3. Dari dulu, Armin memang selalu tertarik mempelajari sains, tetapi tak jarang ia berkeliling di kota hanya untuk menyalurkan hobi nya yang lain, yaitu memotret.

Akhirnya setelah melewati beberapa gedung fakultas, ia menemukan kelasnya. “Huh, thanks God. Dosennya belum masuk” katanya, dalam hati tentu saja. Lalu dia duduk di tempat kesukaannya, yaitu kursi paling depan, kenapa? katanya biar dia bisa denger dosennya dengan jelas kalo duduk didepan. Dasar anak pintar.

Oh? bangku sebelahnya kosong? Armin baru ingat bahwa Jean, nama teman yang duduk di bangku sebelahnya sedang sakit.

“Ah, bakal sepi nih” pikirnya. Karena menurutnya, sifat Jean dan Eren sangatlah mirip, bahkan sama! . Sembari menunggu dosennya datang, Armin mengeluarkan buku catatan dan alat tulisnya dan membaca sebentar pelajaran yang sudah ia pelajari minggu lalu. Biasa, tipikal anak pintar. 

Baru sebentar ia membaca buku catatannya, tiba tiba Marco Bodt, sang ketua kelas berdiri  dan maju kedepan kelas dengan seorang gadis berambut pirang bermata biru. Armin memasang ekspresi bingung, sepertinya ia bingung Marco datang dari mana tiba-tiba sudah berada didepan kelas dengan seorang gadis. Tampaknya, Armin memang tidak memperhatikan seisi kelas dan hanya terfokus pada catatannya.

Tapi tunggu, siapa cewek yang ngikut di belakang Marco? Wajahnya terlihat familiar. Tapi, itu siapa? Tidak ingin memusingkannya, Armin kembali fokus kepada sang ketua kelas, menunggu ia memperkenalkan gadis yang mengekorinya sedari tadi itu.

“Selamat pagi teman-teman semua. Sebelumnya, aku sebagai ketua kelas, ingin mengenalkan kalian sama dia” katanya sambil menunjuk gadis itu. “Kita dapat teman baru loh, dia akan mulai gabung dengan kita hari ini. Annie, silahkan perkenalkan diri kamu” sambung Marco, sang ketua kelas sambil mempersilahkan Annie untuk bicara

“Em, halo, gue Annie Leonhardt, panggil aja Annie. Cukup?” kata gadis itu, bertanya kepada sang ketua kelas. “Oke Annie, terimakasih atas perkenalannya, semoga betah ya Annie dan oh! kamu bisa duduk di tempat yang kosong dekat Armin, cowok pirang itu” lanjutnya sembari menunjuk kursi yang sebelumnya milik Jean. Karena bisa dilihat, hanya bangku itulah satu-satunya yang kosong sekarang.

Setelah Annie duduk, sang ketua kelas menyampaikan amanah sang dosen yaitu mempelajari dan merangkum bab 12 karena sepertinya, dosen mata kuliah itu sedang ada halangan sehingga tidak bisa mengajar hari ini.

Armin hanya merespon sang ketua kelas dengan “makasih, Marco” . Tapi kalian tau? dalam pikirannya, dia sedang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, siapa tadi nama cewek itu? apakah aku salah dengar? dan apa sekarang ia duduk tepat disampingku? apa yang sedang terjadi?

Setelah Annie duduk dekatnya, cowok pirang itu menatap ke matanya. Sang gadis, tentu saja risih dan sedikit gugup ditatap dengan intens oleh cowok yang bahkan belum dia kenal itu. “Uh kenapa ni cowo ngeliatin gue gitu banget, apa ada yang salah sama penampilan gue? uh gue ga suka ini” batin Annie. Dan dia memutuskan untuk bertanya.

“Kenapa?” tanya Annie. mendengar itu, Armin sontak tersadar dari lamunannya, tapi ia masih belum memproses semuanya. “Cewek ini??? cewek yang cantik, imut banget ini soulmateku??? ini bercanda gak sih??? Ya Tuhan, kalaupun ini mimpi, tolong jangan bangunin aku,” batin Armin.

Setelah selesai berkutat dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk memastikan. Armin bertanya kepadanya, “Tunggu, siapa tadi namamu? Annie… Leonhart?” “Em. Iya, nama gue Annie. Kenapa? ada yang salah sama nama gue?” kata Annie, yang masih tidak paham dengan situasi ini.

Armin tidak bisa memercayai ini. Dia tidak tahu kenapa dia sangat lambat memproses hal ini. Padahal, pelajaran matematika dan rumus fisika yang sangat rumit pun biasanya bisa dicerna dan hafal dengan sangat cepat. Entah kenapa, dia merasa senang tapi juga bingung.

“Annie, salam kenal.” Katanya sambil menjulurkan tangan kanannya, tetapi Annie tidak sempat melihat lengan kanan pemuda itu. Annie meraih tangan milik Armin, dan itu membuat lengan baju tangan kanan milik Annie sedikit terbuka dan Armin dapat membaca namanya terukir dengan indah disana,

𝘈𝘳𝘮𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘳𝘵 

Annie tidak menyadari hal itu dan tetap menjabat tangan pemuda yang memberinya salam itu, “eh, nama lo?” tanya Annie. 

“Salam kenal sekali lagi, Annie. Namaku Armin. Armin Arlert” jawabnya.

(Visited 73 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *