Oleh : Anugrah Dwi Junianti
Hai, ini aku Clea. Aku akan menceritakan tentang diriku dahulu yang sangat suka selfharm. Selfharm bukan hanya menggoreskan cutter,silet dan kaca di lengan, tetapi hal yang menyangkut ingin menyakiti diri sendiri itu namanya selfharm.
2019 – 2020 aku sangat sering menyakiti diriku sendiri. Aku bahkan hampir setiap harinya selalu terpuruk, dan kembali menyakiti diriku sendiri dengan cara menggoreskan benda yang tajam di lengan bagian kiriku, hanya lengan kiriku.
Aku terlalu lama menggoreskannya di lengan kiriku dan aku beralih ke lengan kananku. Kiri dan kanan adalah tempat aku meluapkan amarahku dan kesedihanku. Setiap harinya ketika aku mandi, aku merasakan perih di bagian lenganku, kiri dan kanan, perih sekali, tetapi itulah resikonya, ketika menggoreskannya dengan emosi yang penuh dan kesedihan. Perih iya, tetapi perihnya lebih di dada, rasa sesak selalu.
Suatu hari aku lupa memakai baju dengan lengan yang panjang, sehingga mamaku melihatnya dan memarahiku, papa juga tetapi untungnya aku tidak di pukul lagi.
Saat itu juga aku bercerita kepada teman dari luar kota, menceritakan semua kejadian di pagi hari. Dia membujukku untuk berhenti selfharm, berhenti menyiksa diri sendiri. Akupun berhenti saat itu juga tepat di tahun 2020 pertengahan bulan.
Di tahun 2021, aku kembali menyakiti diriku sendiri, dengan cara memakan Indomie setiap harinya, tanpa henti, padahal aku sudah tahu apa penyebabnya ketika memakan mie setiap hari, sampai saat ini di hari Minggu, 10 Oktober 2021.
Karena aku sudah di bolehkan untuk mengendarai sepeda motor, ketika aku sendiri di malam hari, maka aku akan berpikir ingin membuat diriku sendiri kecelakaan, bahkan aku berpikir”kenapa aku tetap selamat padahal dari tadi aku melamun”.
Kemarin tepat tanggal 9 Oktober 2021, aku berada di rumah nenekku (mamanya mama) untuk melihat adik sepupuku yang kecil bernama Adit dan kakaknya Arya, tetapi Arya selalu mengangguku sehingga Arya diomeli, karena memang salahnya, aku pun ikut diomeli. Aku dengan cepat mengambil kunci motor dan pulang.
Aku mengendarai motor dengan sangat cepat, sehingga berpikir ingin menabrakkan diriku saja. Emosiku benar benar sudah di ujung tanduk. Karena tidak tahu ingin melampiaskan kemana, akupun membalap dengan kecepatan tinggi sampai di rumah nenek (mamanya papa). Aku tetap melajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Namun aku tetap selamat. Ketika aku ingin menyakiti diriku sendiri aku tetap selamat. Selfharm belum bisa aku hilangkan. Aku masih tetap menyakiti diriku.
Untuk diriku, aku yakin kamu bisa. Lepaskan selfharm dan hiduplah tanpa menyakiti dirimu sendiri. Stop untuk selfharm. Cobalah untuk selfhealing, menenangkan dirimu, agar kamu tidak berpikir ingin melukai dirimu sendiri.
Aku bersyukur tetap selamat dalam keadaan apapun. Tuhan masih sayang kepadaku. Tuhan masih ingin aku tetap disini menjalani hidupku yang terus- terusan diacak oleh semesta.
Untuk kalian, aku sangat memohon jangan menyakiti diri kalian sendiri, karena itu juga ada resikonya. Tetap tenang, jangan melakukan apapun untuk menyakiti dirimu sendiri. Tidak semua masalah akan selesai dengan selfharm.
Terimakasih untuk diriku yang masih bertahan sampai sekarang dengan selfharm. Aku yakin aku akan bisa terlepas dari semua ini dan mencoba untuk hidup tanpa itu.
Watansoppeng,10 Oktober 2021
