Oleh: Afika Shidqya Azzahra.

Abadi, abadi, dan abadilah.

Akan kuabadikan dirimu pada sajak ini.

Akan kuabadikan setiap senyum darimu yang pernah kudapatkan, namun tak sempat kumiliki.

Terciptanya garis melengkung samar di wajahmu ketika engkau memancarkan senyuman itu untuk pertama kalinya, ternyata dapat menyadarkanku bahwa aku mencintaimu.

Aku sangat berterima kasih kepada semesta yang telah membiarkanku memiliki waktu yang cukup lama hanya untuk menatap matamu setiap hari.

Tanyakan padaku seberapa besar cinta yang telah kuberikan untukmu.

Maka akan kujawab dengan seberapa lama waktu yang kuhabiskan hanya untuk mencintaimu.

Waktu yang telah kuberikan untuk menatap mata teduh yang tak pernah benar-benar sampai padaku itu.

Waktu yang kuberikan hanya untuk memperhatikan setiap detail ciri dirimu.

Sungguh, aku telah amat berterima kasih kepada semesta karena telah mempertemukan kami.

Meski tanpa diizinkan untuk bersama.

Dari diriku,
untuk jiwaku (kamu).

Watansoppeng,1 September 2026

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *