Oleh: Izz Zayani
Aku pernah berniat mengabadikanmu.
Bukan dalam foto, sebab gambar hanya mampu menyimpan rupa. Bukan pula dalam ingatan, sebab ingatan punya kebiasaan buruk: ia memudarkan sesuatu sedikit demi sedikit, sampai yang tersisa hanyalah perasaan tanpa wajah.
Maka kupilih tulisan.
Kupikir, barangkali kata-kata akan cukup untuk menahanmu. Barangkali dengan menyusun namamu di antara kalimat-kalimat, kau akan tinggal sedikit lebih lama.
Tetapi kau berjalan terlalu cepat.
Ketika aku baru menulis bait pertama tentang bagaimana kau datang, kau sudah sampai di bait ketiga tentang bagaimana kau pergi. Ketika aku baru hendak mencari kata yang paling tepat untuk menggambarkan senyummu, senyum itu sudah menjadi sesuatu yang hanya bisa kuingat, bukan lagi kulihat.
Aku mengejarmu dengan tinta, sementara kau berlari dengan waktu.
Dan mungkin, itulah sebabnya aku tak pernah berhasil menuliskanmu dengan sempurna.
Selalu ada bagian yang tertinggal. Sebuah percakapan yang belum sempat kucatat, tatapan yang luput kuterjemahkan, perasaan yang terlalu cepat berubah menjadi masa lalu.
Namun barangkali, justru di situlah keabadianmu.
Kau tidak abadi karena kutulis dengan sempurna. Kau abadi karena selalu ada sesuatu tentangmu yang gagal kutuliskan.
Sebab setiap kali kubuka kembali halaman ini, aku menemukan bahwa kau telah berjalan lebih jauh daripada kalimat terakhir yang kutulis.
Dan akhirnya aku mengerti—
aku tidak pernah benar-benar ingin membuatmu sempurna dalam tulisanku.
Aku hanya ingin menyisakan sedikit ruang bagi ketidaksempurnaanmu untuk tinggal.
Sebab kau, dengan segala yang tak sempat kucatat, tak selesai kuceritakan, dan tak berhasil kuabadikan—
adalah ketidaksempurnaan yang paling sempurna.
Watansoppeng, 1 September 2026
