Selasa (13/9), Komunitas Bengkel Narasi menggulirkan gerakan “Pena Anak Indonesia (PAI)” untuk memastikan tongkat estafet gerakan literasi membaca dan menulis diteruskan antar generasi. Komunitas PAI ini dihimpun dalam grup WhatApp https://bit.ly/penaanakindonesia dan platform menulis dari berbasis website https://penaanakindonesia.bengkelnarasi.com/.
“Melalui gerakan PAI ini, generasi penerus bangsa dapat saling dukung dalam mengembangkan budaya literasi membaca dan menulis. Ini penting sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak negatif derasnya arus teknologi informasi yang cenderung menjadikan mereka objek penikmat konten. Kalaupun ada yang menjadi kreator konten, orientasinya hanya popularitas dan materi, bukan ke nilai-nilai dalam konten, sangat jauh dari nilai edukatif,” jelas Ruslan Ismail Mage, founder Bengkel Narasi.
Gerakan menulis di “Pena Anak Indonesia” dilakukan dengan tiga pendekatan sederhana dalam berlatih menulis: menulis bebas (free writing), menulis deskripsi (descriptive writing), dan menulis opini (opinion writing).
Ruslan Ismail Mage
Melalui pendekatan menulis bebas (free writing), anak-anak dilatih untuk menuliskan kata-kata yang terlintas di pikiran, layaknya berbicara dengan seorang teman, dan menulis kata-kata selancar bertutur lisan.
Melalui pendekatan menulis deskripsi (descriptive writing), anak-anak dilatih untuk menggambarkan seseorang, tempat atau benda, sehingga pembaca dapat membayangkan gambaran dari benda, tempat atau benda yang kita sampaikan lewat tulisan tadi. Dalam pemberian gambaran itu anak-anak kita mengandalkan pancaindra. Anak-anak kita dapat menuliskan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dengan mulut, dirasakan dengan indra perasa, misalnya halus dan kasar permukaan benda atau kulit sesorang.
dsb.
Melalui pendekatan menulis opini (opinion writing), anak-anak dilatih menulis pandangan, pendapat dan pikiran terhadap permasalahan atau pertanyaan yang berdasar pada alasan, data dan fakta yang dapat membenarkan sudut pandangnya. Untuk latihan menulis opini, bisa digunakan dengan permasalahan di sekitar.
Dalam gerakan PAI, sejumlah mentor hadir secara sukarela. Mereka adalah akademisi, pendidik, penulis, editor, dan profesional kerja dengan kompetensi menulis yang tidak diragukan lagi.
“Mentor-mentor tersebut adalah anggota Komunitas Bengkel Narasi. Ini merupakan bentuk komitmen mereka dalam meneruskan tongkat estafet literasi membaca dan menulis,” Jelas Iyan Apt, co-founder Bengkel Narasi. Dari tulisan-tulisan anggota PAI, para mentor akan menyeleksi dan mengumpulkannya menjadi buku elektronik. Semua gratis, anak-anak tidak dipungut biaya untuk penerbitan buku elektronik,” tambahnya. []







