Ketika pertama kali aku belajar bermain gitar, aku tak lamgsung menciptakan melodi yang indah. Yang aku rasakan justru sebaliknya. Setiap kali jariku menekan senar, ada rasa sakit yang perlahan muncul. Senar-senar kecil yang terlihat sederhana ternyata mampu meninggalkan perih di ujung jariku.

Aku sempat berpikir, apakah semua rasa sakit ini benar-benar diperlukan hanya untuk menghasilkan sebuah lagu? Namun aku tetap mencoba. Hari demi hari, aku kembali mengambil gitar itu, mempelajari chord yang sama, dan merasakan sakit yang sama.

Sampai akhirnya, tanpa kusadari, tubuhku mulai beradaptasi. Perlahan muncul sesuatu yang baru di ujung jariku. Sebuah lapisan kecil bernama kapalan. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah kulit yang mengeras. Tetapi bagiku, itu adalah tanda bahwa aku pernah bertahan.

Kapalan itu bukan muncul karena aku tidak pernah terluka, melainkan karena aku pernah terluka berkali-kali dan memilih untuk tetap mencoba. Dari sana aku mengerti bahwa manusia mungkin juga seperti senar gitar. Terkadang hidup menekan kita dengan keras, membuat kita merasakan rasa sakit dan ingin berhenti. Tetapi dari tekanan itulah kita belajar membentuk nada yang lebih indah.

Sebab sebuah lagu yang indah tidak tercipta tanpa adanya sentuhan pada senar. Dan seseorang yang kuat tidak terbentuk tanpa pernah melewati rasa sakit. Dulu aku menganggap rasa sakit di jariku penghalang. Sekarang aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan. Karena ternyata, beberapa luka tidak datang untuk menghancurkan kita. Beberapa luka datang untuk membentuk pelindung, agar kita mampu memainkan melodi kehidupan dengan lebih baik.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Zaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *