Oleh: Nur Afika Arzalia Putri
Saat terbangun dari tidur, aku langsung mendengar suara pertengkaran yang terjadi di ruang tamu. Aku tidak terlalu memedulikannya karena aku hanya fokus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Setelah keluar dari kamar, aku melihat ayah dan ibu sedang bertengkar hebat. Aku ingin berpamitan kepada mereka.
“Ayah, Ibu, aku ke sekolah dulu, ya,” ucapku.
Namun, mereka tidak merespons. Mereka hanya fokus berdebat satu sama lain. Aku pun langsung pergi ke sekolah.
Saat berada di depan pintu rumah, aku mendengar suara tamparan yang sangat keras.
Aku langsung merasa khawatir.
“Apakah Ibu baik-baik saja?”
Sebenarnya, aku ingin kembali dan melihat keadaan Ibu. Namun, waktu sudah semakin mepet. Jika aku kembali untuk melerai mereka, aku bisa terlambat ke sekolah.
Aku berpikir cukup lama. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pergi ke sekolah.
Kenapa aku memilih untuk tetap pergi?
Karena aku sudah hampir terlambat dan hal seperti ini juga sudah sering terjadi. Aku berpikir bahwa aku bisa memeriksa keadaan Ibu setelah pulang sekolah.
Dalam perjalanan menuju sekolah, aku melihat beberapa ibu-ibu sedang berkumpul di sebuah warung. Saat melewati mereka, aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
“Eh, Jeng, tahu nggak sih? Keluarga sebelah ribut banget. Saya sampai hampir nggak bisa tidur gara-gara mereka ribut terus,” ucap Mbak Sari.
“Iya, Jeng. Saya juga begitu. Anak saya sampai mengeluh karena mau tidur, tetapi suara mereka berisik sekali,” jawab Mbak Siti.
“Ih, kasihan banget kalian. Untung rumah saya lumayan jauh, jadi nggak terlalu terdengar. Tapi, Jeng, tadi subuh waktu saya mau buang sampah, saya melihat suaminya Mbak Lani membawa seorang perempuan pulang, lho,” sahut Mbak Dewi.
“Hah? Masa sih, Jeng?” Mbak Sari terlihat terkejut. “Pantas saja tadi waktu saya mau ke sini dan melewati depan rumah Mbak Lani, saya mendengar mereka bertengkar lagi. Saya kira mereka bertengkar karena masalah lain. Ternyata suaminya membawa perempuan lain.”
Ketika aku melewati mereka, ibu-ibu itu langsung melihat ke arahku. Mereka tiba-tiba terdiam.
Aku tidak terlalu memedulikannya. Hal yang terus terbayang di pikiranku justru satu hal.
Siapa perempuan yang dibawa Ayah pulang?
Aku terlalu sibuk memikirkan hal itu sampai tidak menyadari seseorang berjalan dari arah depan.
Bruk!
Aku tidak sengaja menabrak seorang pria. Tubuhku hampir terjatuh, tetapi pria itu dengan cepat menangkapku.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
“Eh, iya. Aku nggak apa-apa. Maaf, tadi aku melamun,” jawabku.
“Iya, nggak apa-apa. Santai saja. Lain kali jangan melamun di jalan, nanti kejadian lagi,” katanya.
“Iya.”
Sebelum pergi, aku sempat bertatapan dengannya. Entah kenapa, pria itu hanya terdiam sambil menatap wajahku. Aku merasa sedikit aneh, tetapi tidak terlalu memikirkannya.
Yang ada di pikiranku tetap sama.
Siapa perempuan yang dibawa Ayah pulang?
Saat hendak pergi, tiba-tiba pria itu memanggilku.
“Hei!”
Aku berbalik.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Lia. Kamu?”
“Revan.”
Aku melihat Revan tersenyum lebar. Aku pun membalas senyumannya dengan lembut.
“Aku duluan, ya,” ucapku sebelum pergi.
Revan hanya tersenyum melihatku.
Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di bangkuku. Aku kembali melamun memikirkan kejadian di rumah tadi pagi.
Tiba-tiba, sekelompok siswa yang cukup populer di sekolah menghampiriku.
“Heh! Lu bisa nggak berhenti caper?” sahut Alena, ketua kelompok itu.
Aku langsung bingung.
“Hah? Maksudnya apa?”
“Alah, nggak usah pura-pura polos, deh. Tadi kamu senyum-senyum sambil bicara sama Revan, kan?” kata Alena.
“Revan? Revan siapa? Aku nggak tahu,” jawabku bingung.
“Revan yang tadi pagi kamu tabrak itu, lho. Pelupa banget, sih,” jawab Alena.
“Oh, yang itu. Tadi aku—”
Belum sempat menyelesaikan ucapanku, ponselku tiba-tiba berdering.
Ternyata Ibu menelepon.
“Bentar, aku jawab telepon dulu,” kataku.
“Ih, ya sudah. Cepetan,” jawab Alena.
Aku langsung pergi untuk mengangkat telepon.
“Halo, Bu? Kenapa?”
“Kamu pilih ikut Ayah atau ikut Ibu?”
Nada suara Ibu terdengar dingin.
“H-hah? A-apa?”
Aku sangat terkejut. Tanganku gemetar dan air mata mulai mengalir. Ponselku bahkan sampai terjatuh dari tangan.
Saat sedang menangis, tanpa sengaja Revan melihatku.
“Hei, kamu kenapa, Li?”
Aku terkejut karena ada seseorang yang melihatku menangis. Aku segera menghapus air mata di pipiku.
“Eh… aku nggak apa-apa, kok, Rev,” jawabku sambil menahan tangis.
“Yakin, Li? Kalau ada masalah, cerita saja sama aku. Aku nggak masalah kok,” ucap Revan.
Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya.
Aku tidak mengerti kenapa dia begitu mengkhawatirkanku, padahal kami baru saja bertemu.
“Aku baik-baik saja, kok, Rev. Tadi aku nonton film sedih, jadi aku nangis. Makasih, ya, sudah khawatir. Aku nggak apa-apa,” ucapku sambil tersenyum.
“Oh, begitu, ya. Aku kira kamu kenapa-kenapa,” jawab Revan sambil tersenyum.
“Eh, aku duluan, ya. Aku mau ke kelas. Bel sebentar lagi bunyi.”
Revan membantuku berdiri.
“Iya. Makasih, ya, sudah menolongku.”
“Santai saja. Aku duluan, ya, Li. Bye.”
“Bye juga, Rev.”
Setelah Revan pergi, aku mengambil ponselku dan kembali menelepon Ibu.
“Halo, Bu. Ibu sekarang ada di mana?”
“Ibu ada di pengadilan. Ibu sedang mengurus surat perceraian bersama Ayahmu.”
Aku terdiam.
“Gimana? Kamu sudah tahu mau ikut siapa?”
Aku tidak menjawab.
“Sebaiknya kamu jangan ikut Ibu. Ikut saja dengan Ayahmu yang brengsek itu.”
Aku menahan tangis.
“B-baik, Bu… Aku akan ikut Ayah.”
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Tapi, Bu, aku masih bisa bertemu Ibu, kan?”
Belum selesai aku berbicara, Ibu langsung memutuskan telepon.
Aku terdiam.
Air mataku kembali jatuh.
Bahkan Ibu sendiri tidak menginginkanku.
Aku tidak tahu dosa apa yang pernah aku lakukan di kehidupan sebelumnya sampai harus mengalami semua ini.
Haruskah aku menderita seperti ini?
Aku tidak mampu menahan tangis lagi. Aku langsung berlari menuju rooftop sekolah.
Di sana, aku menangis sejadi-jadinya.
Setelah merasa sedikit lega, aku mengambil ponsel dan menelepon Ayah.
Tidak lama kemudian, Ayah mengangkat telepon.
“Ada apa?”
“Ayah…”
“Ayah tidak bisa mengurusmu. Istri baru Ayah keberatan kalau kamu ikut tinggal bersama kami.”
Aku terdiam. Air mataku kembali mengalir.
“Ibu tidak mau mengurusku, Yah. Ibu menyuruhku ikut Ayah. Kalau Ayah juga tidak mau mengurusku, aku harus tinggal dengan siapa?”
Suaraku mulai bergetar.
“Kenapa kalian egois sekali? Kalian pernah memikirkan perasaanku, nggak?”
Aku tidak mampu menahan emosiku lagi.
“Sakit, Yah! Sakit! Hati aku sakit!”
Aku menangis semakin keras.
“Aku juga iri sama teman-temanku yang keluarganya masih utuh dan bahagia. Aku iri! Kenapa aku nggak bisa seperti mereka?”
Aku terus menangis.
“Kenapa kalian tega melakukan ini kepadaku?”
Namun, jawaban Ayah justru membuat hatiku semakin hancur.
“Nggak usah banyak bicara. Sekarang saya bukan lagi ayahmu.”
Aku membeku.
“Ayah akan memberikan rumah yang dulu kita tempati untukmu. Terserah kamu mau melakukan apa dengan rumah itu. Asalkan jangan ganggu Ayah lagi.”
Setelah mengatakan itu, Ayah langsung memutuskan telepon.
Aku hanya terdiam sambil menangis.
Aku merasa benar-benar sendirian.
Tidak ada Ayah.
Tidak ada Ibu.
Tidak ada tempat untukku pulang.
Aku menangis sejadi-jadinya sampai sekolah mulai sepi. Aku kemudian berdiri di rooftop dan menatap langit.
“Ya Allah… kenapa hidupku seperti ini?”
Suaraku pecah di tengah tangisan.
“Aku capek, Ya Allah… Aku capek jadi orang yang pura-pura kuat.”
Air mataku terus mengalir.
“Aku juga ingin punya keluarga yang bahagia. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh.”
Aku menundukkan kepala.
“Hidup cuma sekali… tapi kenapa aku harus lahir di keluarga yang egois?”
Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak tahu harus pergi ke mana.
Yang aku inginkan hanyalah satu.Sebuah rumah yang benar-benar bisa kusebut sebagai rumah.
Watansoppeng, 2 Agustus 2026
