Oleh: Nur Afika Arzalia Putri

BAB 1

Mungkin… bagi kalian semua rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang, berbagi cerita yang menyenangkan, dan tertawa bersama keluarga. Tapi… bagiku rumah adalah tempat yang berisik dan penuh pertengkaran.

Kadang aku mikir, kenapa sih aku tidak terlahir di keluarga yang cemara? Dari kecil aku tumbuh dengan mandiri, tuntutan, dan kekerasan.

Terkadang seusai sekolah aku merenungkan diri di rooftop memikirkan semua hal yang terjadi di dalam hidupku. Terkadang juga aku mikir, jika aku tidak ada, apakah mereka akan peduli dengan diriku?

Di tengah lamunanku, suara HP berdering memecah suasana. Ternyata panggilan dari ibuku. Saat aku mengangkatnya, terdengar keras suara ibuku yang sedang marah karena aku belum pulang-pulang.

Di situ aku berkata, “Sebentar lagi aku akan pulang, Bu. Tadi aku sedang mengerjakan tugas dari guruku.”

Ibuku tidak menjawab perkataanku, tapi dia sedang bertengkar dengan ayahku. Di situ aku langsung menutup teleponnya, menahan air mata, dan pulang.

Di depan pintu rumah, aku mendengar suara gelas pecah dari dalam. Di situ aku langsung lari masuk untuk melihatnya. Ternyata itu adalah ibuku yang sedang emosi terhadap ayahku.

Di situ aku bertanya, “Ayah kemana, Bu? Tadi waktu di telepon aku masih mendengar suara Ayah.”

Ibuku menjawab, “Ayahmu? AYAHMU PERGI BERSAMA WANITA LAIN!” dengan nada tinggi.

Di situ aku terkejut dengan ucapan ibuku. Aku berusaha menahan air mata untuk pergi menghibur ibuku, tapi apa? Dia malah mendorongku dan tanpa sengaja tanganku terkena percikan kaca. Di situ aku tidak berkata apa-apa. Aku langsung pergi ke kamarku.

Di kamar aku menangis sejadi-jadinya sambil membalut lukaku. Seusainya, aku langsung mencoba untuk tidur.

Bersambung…

(Visited 43 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *