Oleh: Kalila Ananda Rudyf

Ranti terbangun dari tidurnya, suara gaduh orang tuanya memenuhi telinga. Ini adalah hal biasa baginya. Ia mulai bersiap pergi ke sekolah, menyantap sarapan di ruang makan, orang tuanya meninggalkannya untuk bekerja. Perut terisi penuh, ia menaiki sepedanya menuju sekolah, Ranti terkenal sebagai siswi yang rajin belajar, suka membaca, pendiam dan tertutup. Tapi dia orang baik.

“Kriiiiiiiiiiiing!”

Jam pelajaran pertama di mulai. Bunyi gesekan antara pulpen dan kertas seiring berjalannya jam pelajaran matematika hingga usai. Saat matahari menaiki cakrawala ia menyantap bekalnya di taman sekolah. Rasa nasi putih hangat bercampur dengan kuah sayur bening, beserta perkedel jagung yang gurih dan lembut memenuhi mulutnya. Ia sesekali melirik ke atas langit biru dipenuhi awan putih selagi ia menikmatinya. Jam demi jam pelajaran berlalu hingga sore tiba. Semua murid meninggalkan kelas, menuju kediaman mereka masing-masing, Ranti melangkah ke tempat parkir sepeda sekolah dan mengendarai sepedanya untuk kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, ia telah membersihkan diri dan makan malam. Tak berselang lama, orang tua Ranti krmbali ke rumah, wajah mereka selalu masam setelah hari panjang berlalu. Orang tua ranti bernama pak Dariman dan ibu Magani. Ranti mendongak ke arah mereka. Sedikit terkejut atas kehadiran mereka, sebab biasanya mereka pulang lebih larut.

“Lho? Sudah pulang pak? Bu?”

Ayahnya langsung menuju ke kamar mandi. Sementara ibunya melangkah ke meja makan. “Tumben sudah pulang jam segini bu?” Ranti menghampiri ibunya di ruang makan.

“Iya. Kami nggak lembur hari ini.” Jawab ibunya datar seraya menyantap makanan di santapnya.

“Oh, iya bu. Aku ke kamar dulu ya.” Ranti masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Suasana kembali senyap, tak ada lagi suara selain suara jangkrik malam dari luar rumah. Di kamar Ranti membaca buku tentang psikologis dan masalah mental yang diidap oleh manusia. Karena cita-cita yang ingin dia tuju. Menjadi psikolog. Setelah mempelajari semua buku yang ia punya, ia berbaring di kasurnya dan memeluk boneka burung kakatua kesayangannya si Nara. Boneka tersebut berasal dari pemberian kakeknya ketika ia masih kecil.

Boneka Naralah yang selalu menemaninya di saat ia sedih, kesepian, dan lainnya. Karena orangtuanya selalu meninggalkannya untuk bekerja. Ranti bergumam sambil merangkul bonekanya.

“Hari Minggu ini aku mau datengin abang ah…” Akhirnya di pagi Minggu mendung. Ranti mengunjungi sepupunya, Indra di rumah sakit jiwa. Ia masuk ke dalam ruang inap Indra, senyap, dan sunyi. Ranti menyapanya.

“Apa kabar bang? Ini aku bawain kue sama gorengan buat abang.” “…” Indra menatapnya, tatapan kosong, sayu, rambut acak-acakan, baju sedikit lusuh. Begitulah kondisi Indra setiap Ranti mengunjunginya, ia jarang berbicara sejak kewarasannya redup. Mereka menyantap hidangan itu sambil minum teh, ruangan itu hanya dipenuhi suara Ranti bercerita tentang hari-harinya pada Indra, Indra tak pernah merespon jika orang bicara padanya, hanya lamunan, tapi ia masih mendengar orang bicara. Indra berakhir seperti ini, akibat pengabaian orang tuanya soal gangguan kecemasannya. Di tambah lagi dengan tekanan batin yang di berikan mereka.

Indra mengalami gangguan kecemasan sejak SMA. Ia merasa cemas berada didekat orang lain, rasa khawatir yang tak bisa dikendalikan, rasanya seperti ada yang mengintainya, tatapan tak berwujud, ia selalu memberi tatapan kosong saat bertemu seseorang. Itulah yang ia rasakan. Hal inilah yang membuatnya selalu mengurung diri di kamarnya, tak pernah bersosialisasi dengan orang lain karena penyakitnya. Bak jatuh lalu tertimpa tangga, setelah ia lulus SMA, orangtuanya menyuruhnya masuk ke universitas kedokteran untuk menjadi seorang dokter. Tentu saja Indra menolak tawaran tersebut sebab itu bukan mimpinya, ia ingin menjadi seorang penulis, bukan dokter. Namun orang tuanya tetap bersikeras untuk ia menjadi apa yang mereka inginkan, terutama ayahnya.

Ayahnya sosok yang keras dan tegas. Terpaksa menuruti keiginan mereka, Indra harus menanggung tekanan batin tak terhingga hanya demi memenuhi keinginan orang tuanya semata. Puncaknya saat dia sedang mengerjakan tes jurusan kedokteran. Napas tak karuan, pandangan kabur, jantung berdetak kencang semuanya menghantuinya tanpa henti. Rasanya seperti guncangan hebat menyelimuti jiwanya.

“Hah-hah… Egh…” Ia meminum obat anti depresan. Tidak ada gunanya lagi, otaknya sudah lelah dengan semua tekanan yang ada. Dobrakan meja memecah keheningan malam, teriakan tak berujung darinya. “Ngggaaaaarkhaaaaahhh!!” Langkah cepat menuju kamarnya.

“Apa yang terjadi?!” Ayahnya melihat kamarnya porak poranda, Indra hanya berlutut, terus berteriak tanpa henti. Ibunya datang menyusul dan menemukan pemandangan kamarnya itu. Indra dibawa ke rumah sakit jiwa oleh orangtuanya setelah kejadian itu. Inilah yang membuat Ranti beralasan untuk menjadi psikolog saat ia dewasa. Ia tak ingin orang-orang berakhir sama seperti sepupunya. Tak terasa matahari sudah mau tenggelam, Ranti melambaikan tangan padanya. “Sampai ketemu lagi bang. Nanti aku datang lagi.” Tidak ada jawaban lagi. Indra hanya menatapnya sembari Ranti meninggalkan ruangannya. Setelah kunjungan, Ranti hanya bisa merenung setelah kunjungannya ke ruangan Indra. Ia memeluk boneka Naranya lebih erat, seperti tidak mau lepas dari hidupnya.

“Abang… tunggu aku ya….” Ia mengatakan kalimat itu untuk dirinya sendiri untuk menyemangati dirinya. Semenjak hari itu, ranti semakin bertekad untuk mewujudkan cita-citanya, ia belajar lebih keras lagi dari sebelumya. Tapi orang tua Ranti tidak mendukung mimpinya, mereka juga menganggap bahwa ilmu psikolog itu tidak begitu penting, bahkan mereka beranggapan bahwa Indra terlalu lemah dan terlalu terbawa emosi. Begitu pula dengan yang dipikirkan oleh orangtua Indra. Kini, ia sedang menghadap orang tua Indra, ia hanya ingin meyakinkan mereka bahwa Indra hanya perlu dukungan dan penanganan yang tepat.

“Jadi… Kalian hanya menanggap ini semua salah Abang? Dia cuma butuh dimengerti dan penanganan dokter…” Matanya berkaca-kaca, menahan isakan akan kepala batu kedua orang tua Indra. Ayah Indra menimpali, “Itu salahnya karena terlalu lemah dan termakan emosinya sendiri.” Ranti sontak berteriak, “Tidak adil! Abang kan juga manusia! Jangan menyalahkan dirinya begitu saja!” Suasana hening sesaat.

“Terus kamu maunya apa?! Sudah takdir Tuhan dia jadi begitu!” “Setidaknya bisa disembuhkan kalau ditangani dokter kan?! Kalian terlalu mementingkan diri sendiri!” “Kamu masih kecil bisa melawan ya?…” “Aku cuma mau bantu abang buat sembuh! Dia keluargaku!” Ibu Indra yang sedari tadi diam, mulai menenangkan suaminya. Lalu angkat bicara, “Sudah… Kamu benar Ra, kami memang egois. Waktu itu kami terlalu terbawa arus untuk membuat Indra masuk universitas kedokteran. Kami yang salah.” Ranti menatap tak percaya. “Sekarang malah bilang begitu? Kemana kalian pas abang butuh kalian?” “Kami kira dia masih kuat menangani semua yang kami berikan buat dia. Tapi ternyata kami salah langkah. Maafkan kami.”

Mereka bertiga terdiam setelah perkataan ibu Indra. Setelah pembicaraan yang panjang, orang tua Indra akhirnya memutuskan untuk sementara waktu membiarkan Indra tinggal lebih lama di rumah sakit jiwa seraya mereka mengumpulkan uang biaya berobat dan terapi mental untuk Indra.

Berbulan-bulan lamanya waktu telah berlalu, ilmu demi ilmu pengetahuan telah membawa Ranti untuk memenuhi impiannya untuk menjadi psikolog. Seiring dengan pekerjaan psikolognya, Ranti membangun yayasan rumah sakit terapi mental untuk orangorang yang memiliki masalah mental. Sementara Indra perlahan-lahan mulai membaik setelah pengobatan dan terapi yang telah ia jalani. Ranti sudah tinggal di perumahan di dekat rumah sakitnya bekerja. Ia juga membawa boneka Nara kesayangannya bersamanya karena ia beranggapan bahwa Naralah yang telah menemaninya selama perjalanannya untuk menjadi psikolog seperti sekarang ini.

Sekarang Indra tinggal di kosan sederhana, ia masih merintis menjadi penulis. Orang tuanya membiarkannya untuk lebih bebas tanpa cengkeraman mereka lagi. Ia bisa menjalani hidupnya dengan normal. Begitu pula dengan Ranti, ia bisa lepas dari lingkungan yang tidak sehat dari orangtuanya sendiri yang selalu bertengkar.

*Penulis adalah Siswi SMAN 1 Batu Engau (Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur)

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *