Oleh : Jusnia Paseba
Ibu bukanlah hanya sekadar seorang perempuan yang melahirkan anak lalu membesarkannya. Tetapi, ibu adalah sosok perempuan yang sangat berarti dalam hidupku.
Hidup Farisa berada di tangan ibunya. Segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya ada di tangan ibunya.
Belasan tahun dirinya hidup ditanggung oleh ibunya. Ayah? Farisa belum pernah merasakan bagaimana sosok ayah dalam hidupnya. sejak dini, dirinya sudah ditinggal oleh ayah dan kini dia hanya bersama ibu yang sedang sakit-sakitan.
“Ibu hari ini ga usah jualan, biar Farisa ajah yah yang jualan?” kata Farisa sambil memijat kaki Arumi, ibunya.
Arumi mengidap penyakit kanker stadium tiga. Dokter bilang Arumi harus menjalani kemoterapi. Tetapi, kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuat dirinya harus menunda dulu untuk di kemoterapi.
“Kalau ibu ga jualan, nanti Farisa makan apa? Terus sekolahnya gimana?”
Sesakit apa pun dirinya, Arumi selalu menyempatkan diri untuk berjualan. Dia tidak ingin bila Farisa anak semata wayangnya tidak melanjutkan pendidikan hanya karena dirinya yang sakit-sakitan.
“Farisa berhenti sekolah ajah,terus bantu ibu jualan biar uang ibu cepat terkumpul dan bisa kemoterapi juga,” kata Farisa dengan senyum lebarnya.
Arumi sangat menyayangkan jawaban anaknya. Arumi bisa bertahan sampai di sini hanya karena dia sangat ingin melihat Farisa sukses,sangat ingin melihat Farisa menggunakan toga.
“Farisa, dengar ibu. Cukup ibu yang nggak sekolah, Nak. Cukup ibu yang ga punya pendidikan. Anak ibu jangan. Anak ibu harus bisa kayak orang-orang di luar sana. Jangan ngikutin jejak Ibu, Hak,” kata Arumi menatap Farisa dengan lekat.
“Kalau Farisa sekolah,uang yang seharusnya menjadi biaya kemoterapi ibu nanti jadi biaya sekolah Farisa lagi,” kata Farisa tak ingin menambah beban dalam kehidupan Arumi.
“Jangan pernah berkata itu, Nak. Tidak kata tidak untuk kamu, Nak,” kata Arumi dengan lemah mengelus pipinya.
“Ya udah, kalau gitu ibu istirahat, yah? Besok biar Farisa yang bangun buat kuenya,oke?”
“Iya, Farisa juga tidur, yah?” Tanya Arumi kembali lalu diangguki oleh Farisa.
Sebelum meninggalkan kamar Arumi, Farisa terlebih dahulu menutupi tubuh kurus Arumi menggunakan selimut. Selangkah Farisa meninggalkan Arumi, dia menolehkan kepalanya melihat mata indah Arumi yang tertutup.
“Selamat malam, pelitaku,” gumam Farisa lalu kembali melangkah dan menutup kamar Arumi.
Farisa memandangi atap-atap kamarnya, pikirannya sekarang dipenuhi dengan Arumi.
Sekarang Farisa sudah duduk di bangku kelas XII, kurang lebih sebulan lagi dirinya akan lulus menjadi siswa lalu melangkah lagi menjadi mahasiswa.
Mahasiswa? Kata itu Farisa kubur dalam-dalam. Meskipun Ibu tidak ingin bila dirinya putus sekolah, tetapi setidaknya ijazah SMA bagi Farisa sudah cukup. Untuk melanjutkan perguruan tinggi mungkin dia akan mengubur dalam-dalam sementara waktu.
Pagi-pagi ini Arumi sudah berada di trotoar. Buat apa lagi kalau tidak jualan kue. Setiap harinya, Arumi selalu berusaha untuk jualan kue, hitung-hitung buat biaya makanan sehari-harinya juga buat biaya sekolah Farisa.
“Kue… Kue… Kuenya Bu,murah meriah,” katanya terus-terus berteriak sembari berjalan menyusuri panjangnya trotoar.
“Ayo, Mbak, Mas, dibeli kuenya. Murah meriah kok.”
“Mbak! Mbak! Kuenya dong,” dari arah belakang seseorang berteriak dengan begitu nyaring, membuat pandangan Arumi menoleh ke sumber suara itu.
“Mbak, saya mau beli kuenya. Jual apa aja, Mbak?”
“Ada kue donat, risoles, terus ada panada juga. Mau apa, Neng?” tanya Arumi seraya mengangkat pandangannya.
“Loh, ibunya Farisa, kan?” tanya orang itu dengan terkejut.
“Iya. Nak Fitria yah?” Tanya Arumi berusaha mengingat-ingat.
“Nah iya, ibu benar! Aduh Bu lama banget euy baru lihat ibu jualan. Apa kabar, Bu?” crocosnya.
“Alhamdulillah, baik. Ibu sering jualan kok, Cuma di area kompleks doang. Soalnya kalau sampai ke jalan besar kejauhan Neng.”
“Oalah gitu yah, Bu? Eh Bu, saya mau dong risolesnya 10.000 yah?” kata Fitria sambil menyodorkan selembar uang berwarna ungu.
“Waduh waduh, belum sarapan yah, Neng?” tebak Arumi. Biasanya siswa yang membeli banyak dagangannya adalah siswa yang berangkat tanpa sarapan.
“Tau ajah Ibu.”
“Ini Neng, terima kasih banyak yah. Semangat sekolahnya,” kata Arumi sembari menyodorkan dua buah kantong kresek.
“Waduh, terima kasih kembali yah, Bu. Fitria pergi dulu. Udah mau telat, Bu,” katanya sembari berlari. Bahkan Arumi pun belum sempat menjawab ucapannya, dia sudah pergi dari hadapan Arumi.
“Ada-ada ajah si temannya Farisa,” kata Arumi geleng-geleng kepala lalu kembali berjalan sembari berteriak.
“Kue…kue.. masih anget nih,enak di makan! KUE…KUE… KUENYA IBU BAPAK!” Sepanjang perjalanan di bawah teriknya panas matahari, Arumi terus berteriak berusaha agar jualannya hari ini laku habis.
“Farisa nyet!” Sebuah suara nyaring beserta tepukan begitu keras mendarat mulus di pundak Farisa yang begitu serius membaca buku sejarahnya.
“Astaghfirullah… kaget Fit,” kata Farisa mengusap dadanya.
“Minggu depan kan acara kelulusan, lo punya hadiah apa buat Tante Arumi?” Tanya Fitria sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Ah iya, Farisa hampir lupa. Setiap hari kelulusan, siswa tidak hanya memberi hadiah ucapan terima kasih kepada gurunya saja,tetapi kepada kedua orang tuanya juga harus ada. Hadiah sebagai ucapan karena telah berhasil mendidiknya hingga dirinya berhasil melepas status sebagai siswa.
“Belum ada sih,” jawab Farisa jujur.
“Loh, belum siapin?” Tanya Fitria dan dibalas anggukan oleh Farisa.
Hadiah? Bahkan untuk gurunya saja hadiah Farisa begitu sangat sederhana karena keuangannya yang tidak memungkinkan untuk membeli barang-barang mahal seperti temannya pada umumnya.
Hadiah untuk Ibu? Farisa masih berpikir,hadiah apa yang dia akan berikan untuk ibunya. Bahkan, uang tabungannya sudah habis untuk membelikan gurunya hadiah.
“Hari kelulusan kapan, Fit?” Tanya Farisa kembali siapa tahu dia bisa mengumpulkan uangnya lagi.
“Lo seriusan lupa, Far?” tanya Fitria melongo.
“Iya gue lupa, emangnya kapan sih?”
“Ya Allah Far, makan tuh buku lo. Baru juga tadi anak OSIS umumkan kalau hari kelulusan di laksanakan lusa.”
“Cepat amat, Fit?”
“Cepat dari mananya, Far? Kita habis ujiannya udah dua minggu.”
Ah iya, Farisa lupa. Ternyata sudah dua minggu dia habis melaksanakan ujiannya dengan penuh perjuangan. Dirinya harus melengkapi alat-alat ujiannya dan semuanya membutuhkan biaya, belum lagi ibu sakitnya sering kambuh.
“Balik nanti temanin gue ke mal, yah?” Kata Fitria mengajaknya.
“Ngapain?”
“Beliin mama gue hadiah. Bisa, kan?”
“Bisa kok,” jawab Farisa sembari tersenyum.
Pukul 11 WIB, Fitria dan Farisa sudah berada dalam salah satu mal yang letaknya di ibu kota negara Indonesia. Sebenarnya belum jam pulang. Tetapi karena mereka sudah tidak ada kegiatan lagi, jadilah mereka pulang mengambil jalan pintas pagar belakang. Alasannya biar tidak kepergok pak satpam.
“Lo beliin ibu lo hadiah apa, Fit?” Tanya Farisa penuh rasa penasarannya.
“Emm.. gue mau beliin sepatu. Gue liat-liat sepatu mama gue udah jelek-jelek. Kan kasian kalau di kantor tiba-tiba sepatunya ketawa. Kan ga lucu,” jawab Fitri sembari terus berjalan mencari tempat di mana jejeran sepatu itu berada.
Dalam hati Farisa juga ingin sekali membelikan Ibu baju, biar baju yang digunakan jualan bukan itu-itu melulu. Tapi, apalah dayanya Farisa tidak mampu membeli baju-baju yang ada di hadapannya.
“Model begini bagus ga, Far?” Tanya Fitria sembari menampilkan satu buah sepatu.
“Bagus Fit, pasti ibu lo suka,” jawab Farisa sesungguhnya.
Sepulang menemani Fitria belanja, Farisa segera kembali ke rumah. Sekarang sudah waktu zuhur. Farisa singgah sebentar di salah satu masjid sebelum kembali melanjutkan langkahnya ke rumah.
Di dalam bangunan yang tidak begitu luas, Arumi duduk di atas kursi kayunya sambil menghitung hasil jualan kuenya hari ini.
“Alhamdulillah, penghasilan hari ini lumayan,” katanya sambil menyimpan uangnya ke dalam dompet tempat uangnya.
“Assalamualaikum!” kegiatan Arumi terhentikan oleh ucapan salam dan ketukan pintu.
“Waalaikumsalam, masuk!” jawab Arumi.
“Ibu udah gak papa, kan?” Tanya Farisa saat masuk ke rumahnya.
“Gak kenapa-napa kok.”
“Alhamdulillah, tadi ibu ga ke jalanan besar, kan?”
“Nggak kok, ibu Cuma keliling kompleks doang,” jawab Arumi berbohong.
“Nah gitu dong, biar ibu ga capek. Kenapa jualannya ga sore ajah, Bu? Biar nanti Farisa yang jualan kalau habis sekolah,” kata Farisa sambil mencium punggung tangan Arumi.
“Sorenya kelamaan, Far…” kata Arumi terkekeh.
“Bisa ajah si ibu.”
“Oh iya, baju yang mau dipakai kelulusan belum bayar kan, Far? Nih, ini ibu ada uang. Besok bayar yah, Nak?” Kata Arumi menyodorkan beberapa lembar uang kepada Farisa.
“ Ya Allah, ibu, jangan. mending uangnya dipakai buat beli obat ajah,” tolak Farisa.
“Jangan! Farisa juga harus tampil seperti teman-teman saat kelulusan nanti.”
“Ga usah Bu, buang-buang uang ajah,” kata Farisa menolak keras.
“Lulus SMA itu cuman sekali kamu rasain dalam seumur hidup. Tahun berikutnya udah ga ada lagi. Jadi, ibu minta tolong yah kamu harus ambil baju yang digunakan buat kelulusan nant. Ini uangnya udah cukup, kan?”
“Ya Allah, ibu ini udah kebanyakan,” kata Farisa tak menyangka.
“Harus ambil yah?” Tanya Arumi memohon.
“Demi ibu,” jawab Farisa dengan segera menghambur ke pelukan sang ibu.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa bahwa hari ini adalah hari dimana seluruh siswa kelas XII akan meninggalkan masa-masa putih-abunya, lalu menjadi mahasiswa yang menggunakan almamater kebanggaan kampusnya.
Farisa datang sedikit telat karena ojol yang dia gunakan sedikit telat menjemputnya.
“Nyet, nyet, masih ajah loh telat. Udah mau pisah nih kita,” kata Fitria geleng-geleng melihat tingkah Farisa.
“Maafin, namanya juga ojolnya telat jemput.”
“Udah buruan masuk, kasian yang lain udah pada susun acara.”
Pada hari kelulusan ini, Farisa sama sekali tidak menggambil kegiatan pada acara ini. Dia hanya hadir merayakan hari kelulusannya, hari dimana dia dan teman-temannya akan berpisah untuk mencari jati diri mereka masing-masing.
Waktu terus berjalan hingga momen acara yang sangat di nanti-nanti: pengumuman juara umum angkatan XV. Angkatan kemarin juara umumnya berasal dari anak IPA. Hari ini, anak IPA kembali berharap semoga kejadian angkatan kemarin kembali terulang.
Pembawa acara terus membaca sambutannya hingga yang dinanti-nantikan telah tiba.
“Baiklah, juara III angkatan XV didapatkan oleh Fitria dari IPA 2.”
“Yey congrats, Fit!” kata Farisa kegirangan, sebelum Fitria naik ke atas panggung.
Farisa tidak menyimpan harapan tinggi perihal nilainya. Kalau dapat juara ya alhamdulillah. Kalau tidak ya alhamdulillah juga.
“Juara II didapatkan oleh Muh. Ifrad dari IPS 1.” Tepuk tangan terus menggema meramaikan isi gedung.
“Dan juara pertama diduduki oleh…” Pembawa acara sempat menjeda ucapannya sebelum kembali melanjutkannya “Farisa dari IPA 2!” Tepuk tangan semakin menggema.
Farisa dibuat kaget. Bahkan, dia sadarkan oleh teman seangkatannya.
“Woi, Far naik. Jangan diam mulu!” kata temannya geram yang melihat Farisa tak bergerak dari tempatnya.
“Eh gue yah?” Tanyanya masih belum percaya.
“Iya, masa Bambam sih ya kali,” jawab seorang teman sambil menyebut salah satu teman kelasnya yang sangat malas hadir.
Dengan gerakan lambatnya Farisa naik ke panggung, berdiri di antara siswa yang berprestasi seperti dirinya.
Tangan Farisa bergetar saat dirinya menerima piagam penghargaan dari kepala sekolah. Semua ini di luar keinginannya. Bahkan, untuk berbicara mengucapkan kata-kata perpisahan saja dia gemetaran.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Farisa mengucapkan salam. Tak lupa kata sambutan sebelum dirinya berbicara lebih lanjut lagi.
“Sebelumnya, terima kasih atas segala kesempatan yang telah diberikan. Saya Farisa, putri dari almarhum Bapak Haris dan ibu Arumi,” Farisa tersenyum hangat, terlebih lagi saat pandangannya bertubrukan dengan tatapan sayu sang ibu.
“Semua pencapaian saya, semata-mata dorongan dari Ibu. Tanpa ibu, Farisa tidak akan bisa sampai di sini. Bahkan, untuk mendapatkan piagam ini sangat mustahil bagi Farisa. Tetapi, semua berhasil berkat Ibu,” Farisa kembali menjeda ucapannya.
“Ucapan terima kasih tidak cukup untuk Ibu yang telah membesarkan Farisa. Ibu selalu menjadi support system bagi Farisa. Bahkan, dalam melawan penyakitnya pun ibu masih menyempatkan diri berjualan hanya untuk memenuhi biaya sekolah Farisa,” buliran-buliran bening mulai tegenang di pelupuk mata Farisa.
“Ibu, terima kasih karena telah menemani Farisa dari nol hingga sekarang. Ibu, terima kasih karena rela mengorbankan banyak waktu hanya untuk kepentingan Farisa. Terima kasih karena rela berpanas-panasan mencari nafkah hanya untuk Farisa. Hari ini, Farisa berhasil, Bu, berhasil keluar menjadi juara. Piala ini adalah hadiah untuk Ibu yang telah berhasil membuat Farisa sukses. Hadiah untuk perempuan tangguh yang selalu membahagiakan anaknya meskipun dirinya dalam keadaan tidak baik,”
Farisa memang tidak memiliki hadiah apa-apa untuk Arumi. Tetapi, berkat juaranya, Farisa berhasil memberikan ibu hadiah, hadiah yang berbeda dari teman-temannya.
Arumi naik ke panggung, mendampingi anaknya,ditemani oleh wali kelas Farisa yang mengantarkannya.
“Farisa minta maaf, Bu, karena ga bisa kasih hadiah yang lebih selain penghargaan ini,” kata Farisa di depan ibunya.
“Ibu tidak butuh hadiah, Nak. Suksesnya kamu adalah bahagianya ibu,” kata Arumi lalu merengkuh tubuh mungil putrinya.
Hari itu, sosok perempuan tangguh yang sering dipanggil ‘Ibu’ berhasil mendidik putrinya hingga bisa menjadi yang utama di angkatannya. Sosok perempuan yang selalu banting tulang melawan penyakitnya agar anaknya bisa seperti orang-orang berprestasi di luaran sana. Perjuangannya selama bertahun-tahun kini terbalaskan oleh sukses anaknya.
Farisa kecil yang selalu ikut berjualan kue dengan ibu. Kini, tumbuh dewasa dan berhasil membahagiakan ibu. Suksesnya Farisa adalah salah satu bentuk ucapan terima kasih kepada ibu yang tak pernah lelah dalam merawatnya hingga sukses seperti ini.
Terima kasih Ibu karena sudah rela banyak berkorban hanya untuk satu nyawa. Jasa Ibu adalah jasa yang sangat berarti bagiku. Jasa yang tidak akan pernah kulupakan meskipun Ibu telah pergi suatu saat nanti. ~Farisa
