oleh: Lara Ayu Kinanti*

Setiap pagi, toko itu selalu buka lebih dahulu dibandingkan toko lainnya. Di balik etalase yang berembun, ada seorang pegawai perempuan menyusun roti satu per satu. Tangannya bersih, wajahnya cantik dengan cara sederhana yaitu cantik yang tidak dibuat-buat.

Orang-orang datang, membeli roti, lalu pergi. Beberapa orang menatapnya lebih lama dari roti yang mereka pilih. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Senyumnya tetap sama, meski pikirannya sering ke hal-hal yang lain.

Ia sangat menyukai saat toko itu sepi. Saat itu, hanya ada bunyi oven yang memanggang roti dan wangi mentega. Di balik seragam kerjanya, ia menyimpan mimpi yang belum sempat dipanggang takut gosong sebelum matang.

Menjelang sore, sisa roti dibungkus rapi. Ia menutup toko sambil menghela napas. Wangi roti masih melekat di baju yang ia pakai, seperti kenangan yang enggan pergi. Dan ia pulang dengan wajah penuh ceria.

Watansoppeng, 16 Januari 2026

*penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *