Oleh: Jusmawati*
“Kita ini sangat kecil, tahu,” ucap Sanu yang kini tengah berada di atap rumahnya, sendirian menatap langit malam yang begitu indah.
“Aku sangat penasaran dengan semua yang ada di atas sana… Apa mungkin aku bisa ke sana, ya?” gumamnya. Ingin sekali dia pergi ke luar angkasa, menjelajahi antariksa. Andai saja ada sebuah portal yang dapat membawanya ke sana hanya dalam sekejap mata.
“Sanu, kamu masih di atap, Nak?”
Teriakan sang ibu dari bawah membuat Sanu tersadar dari lamunan bodohnya.
“Iya, Mak, aku masih di sini. Langitnya indah, lho. Nggak mau ikut gabung kah?” sahutnya sembari terkekeh. Astaga, Sanu ini… Tak tahukah dia kalau sedang dikhawatirkan oleh sang ibu? Pasalnya, ini sudah jam dua pagi, lho!
“Cepat turun, Sanu! Ini sudah hampir pagi dan kamu belum tidur sama sekali!” panggilan tegas sang ibu yang langsung diiyakan oleh Sanu.
Sanu pun masuk ke dalam kamarnya yang penuh dengan gambar-gambar benda luar angkasa. Yang paling mencolok adalah lukisan besar galaksi Bima Sakti, bukan sekadar gambar biasa, melainkan lukisan besar yang hampir menutupi seluruh dinding. Tak hanya itu, ruang tidur Sanu juga dilengkapi lampu Aurora yang memancarkan cahaya ke langit-langit kamar. Siapa pun pasti betah berada di kamar ini seharian.
Tak lama, Sanu tertidur pulas. Dia tidak menyadari bahwa semua gambar benda-benda luar angkasa itu bukanlah benda mati. Ya, kini semua itu hidup dan bergerak. Lukisan besar galaksi Bima Sakti mulai berputar cepat membentuk lingkaran cahaya. Dalam waktu singkat, kamar itu menyala terang benderang, lalu seketika kembali gelap gulita.
Bagaimana keadaan Sanu sekarang?
Di sisi lain, sebuah tempat yang sangat indah, ruang gelap yang dipenuhi titik-titik cahaya bintang yang berkilau. Bukan hanya putih, tapi juga biru, merah, kuning, merah muda, jingga, warna-warna itu menghiasi ruang gelap tersebut.
Rupanya, Sanu kini berada di sini. Lingkaran hitam tadi yang telah membawanya. Tapi… sebenarnya, di manakah dia?
Sanu mulai membuka matanya, terganggu oleh cahaya yang berkedip-kedip di depannya. Samar-samar, dia melihat sosok bayangan seseorang berdiri menatapnya dengan senyum manis.
“Apakah itu… Ibu?” tanyanya lirih.
“Halo, apakah kamu Sanu? Yang selalu memperhatikanku tiap malam?” sapaan itu sontak membuat Sanu membelalakkan mata.
“He! Kamu siapa? Dan… di mana aku?” Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, dia terbangun dengan napas terengah-engah. Seolah habis lari maraton, sepanik itulah dia.
Menoleh ke kiri dan ke kanan, betapa takjubnya dia saat menyadari kini dia telah berada di tempat yang selama ini hanya menjadi impiannya: Milky Way,atau yang biasa kita sebut sebagai galaksi Bima Sakti, tempat bumi dan planet-planet lainnya berada. Dia… ada di antariksa!
Masih belum percaya dengan kenyataan itu, Sanu kembali menatap sosok di depannya dengan tatapan bingung.
“Bukankah ini yang kamu inginkan?” ucap sosok itu lembut, seolah mengerti kebingungan Sanu.
“Perkenalkan, aku Voyager. Akulah yang menelusuri berbagai informasi di luar angkasa untuk dikirim ke bumi. Aku sering melihatmu selalu menatap langit tiap malam, jadi… aku membawamu ke sini,” jelasnya.
Dengan pelan, Voyager menarik tangan Sanu. Tubuh Sanu melayang bebas di luar angkasa, dibawanya mengunjungi satu per satu planet yang ada di galaksi Bima Sakti.
Sanu baru tahu, ternyata bukan hanya bumi yang memiliki bulan. Banyak planet lain juga memiliki satelit alami yang mengorbitnya. Sungguh luar biasa!
Kekaguman Sanu semakin menjadi saat mereka tiba di planet Jupiter, planet terbesar di tata surya.
“Aku sangat yakin masih banyak planet lain yang lebih besar daripada ini,” ucap Sanu dengan tegas.
“Kamu benar,” sahut Voyager. “Lihatlah ke sana, bumi tempat kamu tinggal. Dia hanya sebesar bola pingpong, bahkan manusia hanyalah setitik debu, atau mungkin lebih kecil dari itu. Aku selalu memperhatikan manusia di bawah sana. Sombong dan serakah, semena-mena, padahal mereka bukanlah siapa-siapa. Aku sangat jengkel tiap kali melihat manusia yang seperti itu, bahkan tak segan-segan mereka merusak bumi.”
Voyager terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
“Tahukah kamu? Bumi itu dijuluki sebagai Pale Blue Dot,sebuah foto yang aku ambil dari jarak enam miliar kilometer. Dari jarak itu, bumi nyaris tak terlihat, seperti titik kecil tak berarti. Tapi bagi kalian, bumi itu adalah segalanya.”
Penjelasan itu membuat bulu kuduk Sanu merinding. Begitu kecilnya manusia di semesta ini.
“Sepertinya waktumu sudah habis,” ujar Voyager sambil menunjuk ke arah samping.
Sanu mengikuti arah tunjuk itu, melihat sebuah lingkaran hitam dengan cahaya di tengahnya yang perlahan mendekat ke arah mereka.
“Kembalilah ke bumi. Kapan-kapan aku akan membawamu lagi. Masih banyak yang belum kita jelajahi,” kata Voyager sambil tersenyum, lalu mendorong Sanu hingga tubuhnya tertarik masuk ke dalam lingkaran cahaya itu.
Sanu terbangun. Kini dia berada di bumi… di sebuah rumah sakit.
Kenapa di rumah sakit?
Rupanya, selama ini Sanu mengalami koma selama enam bulan lamanya. Dia tertidur sepanjang itu. Sanu tidak lupa dengan mimpinya,pertemuannya dengan Voyager dan penjelajahan galaksi Bima Sakti. Benarkah itu hanya mimpi? Rasanya seperti baru beberapa jam saja dia berada di sana.
Dari mimpinya yang panjang itu, Sanu mengingat semuanya dengan baik. Ilmu yang dia dapatkan… bukan main-main.
Hari-hari berlalu. Sanu kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi setiap kali dia memperhatikan sekelilingnya, dia teringat ucapan Voyager: “Manusia itu tidak tahu diri.”
Sungguh, manusia begitu kecil. Kecil sekali. Namun, sifat sombong dan serakah mereka begitu besar. Andai saja semua orang bisa melihat betapa luas dan megahnya semesta ini, tak akan ada lagi yang merasa besar kuasa atau seenaknya merusak bumi.
Jagalah bumi kita yang indah ini. Sejauh ini, hanya di sinilah ditemukan tempat berlangsungnya kehidupan.
*Penulis adalah Siswi SMKN 3 Kolaka Utara
