Oleh: Devi Purnama*

Anaya, seorang siswi kelas delapan, lebih suka duduk di pojok kelas sambil menggambar daripada ikut beramai-ramai dengan teman-temannya. Sejak kecil, Anaya memiliki hobi menggambar. Baginya, menggambar bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, tapi cara untuk mengekspresikan isi hati.

Anaya tinggal berdua dengan ibunya. Di rumahnya yang sederhana, dinding kamar Anaya dipenuhi gambar-gambarnya sendiri. Gunung, laut, wajah-wajah teman, bahkan sosok almarhum ayah yang selalu ia rindukan.

Suatu hari, sekolah mengadakan lomba seni bertema Suara Hati Remaja. Anaya sangat ingin ikut, tapi ia ragu. Selama ini, ia hanya menggambar untuk dirinya sendiri, bukan untuk dipamerkan. Belum lagi bisikan teman-temannya yang kerap meremehkan Anaya.

“Ah, Anaya mah cuma bisa gambar-gambar nggak penting!” ejek Dinda, teman sekelasnya.

“Udah deh, nggak usah ikut. Palingan Anaya bakal kalah pertama!” sambung Sinta, teman sekelas Anaya.

Ucapan itu menyakitkan. Anaya hampir mundur dan putus asa. Tapi malam itu, saat membuka kembali sketsa ayahnya, ia teringat perkataan yang pernah diucapkan sang ayah sebelum wafat:

“Gambarmu itu punya nyawa, Anaya. Jangan takut dunia melihatnya.”

Dengan hati yang berdebar, Anaya akhirnya mengumpulkan niat pada malam itu. Keesokan harinya, dengan hati yang tetap berdebar, Anaya mengumpulkan gambarnya: seorang gadis yang duduk di tengah hujan, menggambar pelangi di langit dengan air matanya. Gambar itu mencerminkan rasa sedih, harapan, dan keberanian dalam dirinya.

Hari pengumuman lomba pun tiba.
Semua murid berkumpul di aula. Dan saat nama pemenang disebut, Anaya tidak percaya…

“Juara 1 lomba seni Suara Hati Remaja dimenangkan oleh… Anaya!”

Semua mata tertuju kepada Anaya. Bahkan Dinda, Sinta, dan teman-teman sekelasnya pun terdiam.

Sejak saat itu, Anaya mulai berani membagikan karyanya. Ia membuka pameran kecil di perpustakaan sekolah. Teman-teman yang dulu mengejeknya meminta maaf dan bahkan meminta Anaya mengajari mereka menggambar.

Dan sekarang, Anaya tidak lagi menyimpan bakatnya sendiri. Ia belajar untuk percaya diri, seperti warna yang memenuhi dunia sekelilingnya.

Kini, setiap kali Anaya menggambar, ia tahu bahwa setiap garis yang ia buat bukan hanya miliknya, melainkan juga bisa menyentuh hati orang lain. Anaya juga belajar satu hal penting:

Bakat bukan untuk disembunyikan, tapi untuk menginspirasi.

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas IX.5

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *