Oleh: Revan Febriansyah
Tangan Ayahku kasar, bukan karena tak tahu cara membelai, tapi karena terlalu sibuk merangkul pahitnya hidup. Pagi hingga siang ia pemetik senja, sore sampai malam ia penjaga fajar. Dua shift, dua peran, tapi satu tujuan, yaitu merajut masa depan kami.
Kami, anak-anaknya, tumbuh bersama bentakan, pukulan, dan cibiran. Tapi dari sanalah kami belajar arah, sebab Ayah adalah navigator kami di jalanan terjal agar kami tak jadi sampah masyarakat. Kata-katanya setajam pisau dahan sawit, tapi doanya lebih tajam menembus langit. “Ikut capek boleh, tapi jangan ikut miskin kayak Ayah, ya,” katanya. Uangnya habis untuk utang dan nasi, tubuhnya habis untuk menjaga agar kami tetap hidup.
Ayah, kami masih ingat jelas beberapa hari sebelum Idulfitri, tubuhmu melemah. Kami sempat mengira kau akan pergi saat itu. Tapi kau bangkit. Kau berdiri dan tersenyum di pagi Lebaran, bahkan tampak sehat saat liburan.
Tapi kenapa, Yah? Kenapa Iduladha justru menjadi waktu kepergianmu? Padahal kau sudah berjanji akan mengajak anakmu melihat hewan kurban, bahkan merencanakan cuti agar bisa merayakan ulang tahun anakmu.
Kepergianmu datang diam-diam, hanya satu kalimat: “Badan Ayah pegel.” Tak ada firasat, tak ada kata perpisahan, hanya keheningan yang membelah hati kami.
Kami benci dikasihani. Kami tak suka disebut yatim, karena Ayah kami tak pergi karena lemah. Ia pergi karena dunia telah menghabisinya tanpa ampun. Ayah kami bukan tokoh utama dalam cerita siapa-siapa. Tapi bagiku, ia adalah aktor seribu peran: buruh, satpam, apa pun, asal anak-anaknya bisa makan.
Malam-malam terasa sunyi tanpa panggilannya di telepon wajibnya, karena setiap malam dia wajib menelepon istri dan anak-anaknya sambil mengatakan, “Anak manis Ayah mana? Anak ganteng Ayah mana? Yang nanti bopong Ayah, yang mandikan, sholatin, dan doain Ayah…”
Kini doa-doa itu berganti menjadi milik kami untukmu. Semoga engkau tenang di sisi-Nya, dibebaskan dari siksa kubur, dan menjadi penghuni surga.
Aamiin ya Rabb.
