Oleh : Nur Aqilah Salim
Kisah Geya, seorang wanodya yang baru duduk di bangku kelas 10 dari salah satu SMA Swasta ibukota. Lahir sebagai anak tunggal dari keluarga kaya raya membuat semua keinginannya pasti jadi nyata.
Karena terlalu dimanja, gadis manis tersebut jadi sulit diatur. Memiliki kedua orang tua yang jarang di rumah menjadikannya bagai rumput yang dibiarkan tumbuh liar.
Geya tidak peduli terhadap lingkungannya, buang sampah sembarang pun dinormalisasikan. Sampai suatu ketika sebuah kejadian di luar nalar mengubah caranya memandang dunia.
Hari itu semuanya dimulai saat sekolah Geya kedatangan mobil perpustakaan keliling.
Kendaraan beroda empat tersebut membawa puluhan buku dengan beragam pilihan. Tertata rapi memanjakan mata memandang, membuat para siswa siswi berinisiatif mendekat.
Geya dengan tidak sopannya menerobos masuk, mata biru gadis itu seketika tertuju pada satu buku berwarna dominan hijau, kebetulan sekali hijau adalah warna kesukaannya.
Tanpa menunggu lama, buku tersebut langsung diambil dan dibawa untuk ditunjukkan kepada penjaga perpustakaan, tetapi sang penjaga malah mengerutkan dahinya.
“Maaf dek, tapi sepertinya ini bukan buku kami”.
“Tapi saya mengambilnya dari rak perpustakaan ini pak”.
“Identitas bukunya tidak jelas, kalau Adek mau, ambil saja”.
Awalnya hanya berniat meminjam, akhirnya “si hijau” benar-benar jatuh ke pelukan Geya, tapi masih menjadi tanda tanya besar dari mana asalnya sebab mustahil sebuah buku muncul begitu saja.
Sepulang sekolah, Geya bergegas merapikan barangnya lalu bersiap untuk membaca buku tadi
“Warna yang cantik, juga tampak unik dengan dihiasi sedikit pernak pernik, jadi rasanya sayang jika tidak dibaca sekarang” batin Geya.
Geya duduk di meja belajar dengan meletakkan buku berjudul “unexpected” tersebut di hadapannya. Suasana tiba-tiba berubah jadi mencekam dengan angin yang bertiup begitu kencang.
Dibukalah lembar pertama, seketika itu juga cahaya yang sangat menyilaukan mata memancar keluar, remaja berambut pirang tersebut terlempar beberapa langkah kebelakang
Beberapa detik kemudian cahaya mereda, Geya kembali mendekat sedikit demi sedikit untuk melihat apa yang tercatat dalam buku “spesial” itu.
Tiba-tiba Geya ditarik masuk hingga terjatuh pada suatu ruangan sempit yang gelap. Gemetar sekujur tubuh, kaget dan takut semuanya jadi satu.
Terdengar bunyi pintu terbuka yang berhasil memecah keheningan. Muncul sosok pemuda tampan, dengan kuliat kemerah-merahan, dan pakaian kuning keemasan.
“Hai” sapa pemuda tersebut
“Kamu siapa?” tanya Geya
“Saya Fael, orang yang akan memandu kamu di dalam buku ‘unexpected’ ini.”
“Kamu pasti tahu kan dari mana buku ini berasal? bagaimana saya bisa ditarik masuk, ada apa disini?, dan bagaimana cara saya keluar?” tanya Geya yang buat Fael mengangkat sebelah alisnya.
“Akan dijelaskan nanti. Sebelumnya, pejamkan matamu untuk ikut dengan saya.”
Geya hanya bisa pasrah dan saat membuka mata, ia telah berpindah dari ruangan gulita tadi ke sebuah wilayah yang sangat asri. Mereka berdua menyusuri tempat menawan yang dipijak tersebut, tak henti pujian mengalir deras dari Geya untuk tempat itu.
“Kamu lihat? Betapa bersih berserinya lokasi ini, suasana harum mewangi, pepohonan membawa udara segar, ragam bunga mekar tersebar” ucap Fael.
Geya mengangguk sembari menikmati keindahan yang belum pernah ia rasakan di kota metropolitan.
Fael melangkahkan kakinya ke sebuah portal istimewa dengan mengajak Geya juga tentunya
“Kita mau kemana lagi?”
“Ikuti saja”.
Mereka berpindah lagi, kali ini ke sebuah wilayah kumuh, wajah yang tadinya semringah berubah menjadi resah.
Fael kembali angkat bicara “sekarang perhatikan tempat ini, sangat jauh berbeda dengan tempat sebelumnya bukan?”
“Kotor, tidak terawat, sampah bertebaran, polusi, pencemaran, membuat pengap dan gelisah sampai kita tidak betah berlama-lama disini”.
“Saya hanya ingin menunjukkan sesuatu yang mungkin saja diluar dugaanmu”
“Wilayah indah yang berhasil buat kamu tertawan tadi adalah gambaran bumi yang sehat, sedangkan yang kita lihat sekarang adalah gambaran bumi yang sakit.”
“Tentu kita lebih nyaman dengan yang sebelumnya, maka sayangilah lingkungan sekitar, hindari buang sampah sembarangan, penebangan liar jangan dibiarkan”.
“Sebelum semuanya terlambat, mari bersama kita jaga, karena masa depan bumi ada dalam genggaman kita sendiri”.
“Kamu tahu hanya saja tidak menghiraukan, ada baiknya jangan menolak kenyataan”.
Penjelasan Fael berhasil membuat Geya merasa tertampar hingga diam membisu seolah membeku. Ia pun tersadar bahwa bentala tidak selamanya sehat adalah fakta, bentala kelak bisa rusak adalah nyata.
Berselang beberapa menit, terdengar sebuah teriakan, yang ternyata adalah suara Geya yang terjatuh dari kasur. Di situ ia langsung menyadari bahwa tadi itu hanyalah mimpi.
Tetapi pesan moralnya berhasil sampai ke hati Geya, membuatnya menjadi lebih peka terhadap kesehatan lingkungan, membuatnya lebih menjaga kebersihan.
Jadi segala pertanyaan tentang buku itu tidak ada jawabannya karena hanyalah sebuah mimpi yang dihadirkan untuk menyadarkan pentingnya menjaga bumi agar tetap lestari.
Sekian dan terima kasih.
Nur Aqilah Salim adalah siswa kelas IX.7 SMP Negeri 1 Watansoppeng. Aqilah adalah seorang yang aktif dalam kegiatan kepramukaan. Ia Tergabung dalam Gugus Depan Pramuka SMP Negeri 1 Watansoppeng yang bernama Vegters Scout. Ia sudah menulis beberapa puisi dan cerita mini di Pena Anak Indonesia.
