Oleh : Jusnia Paseba
Sastra sebuah geng motor yang dibangun untuk hanya kesenangan saja. Berawal dari kesenangan berubah menjadi geng yang memiliki musuh.
Semua berawal ketika salah satu member mereka yang tak lain adalah ketua geng tewas karena mendapat serangan massal dari geng sebelah. Berawal dari perkara ini membuat mereka mulai mengibarkan bendera permusuhan terhadap geng yang berani mengusiknya.
SASTRA artinya ‘Satu Rasa’. Satu rasa untuk membalas segala kejahatan yang mereka dapatkan,baik diri sendiri maupun warga sekitar yang biasanya mendapatkan tuntutan dari preman pasar.
Farhan Fraditya mempunyai tanggung jawab besar terhadap SASTRA. Lutfi, ketua geng mereka dulu, menitipkan pesan pada Farhan bahwa suatu saat nanti bila dia sudah tidak ada, Farhanlah yang akan menggantikannya dan Lutfi mengatakan itu di depan semua anggota SASTRA.
“Han! Hp loh gak aktif?” Tanya Vito yang tak lain adalah member SASTRA.
“Lowbat,” jawab Farhan singkat.
“Kembaran loh nelpon nih,” kata Vito memperlihatkan layar handphonenya,dan benar saja di sana sudah ada nama saudara kembarnya.
“Apa?” Tanya Farhan ketika membuka telfonnya.
“Loh belum balik?” Terdengar helaan nafas panjang di sebrang sana.
“Nantilah masih malas gue,” jawab nya cuek.
Semenjak SASTRA berdiri, Farhan lebih banyak menghabiskan waktunya di basecamp ketimbang di rumah sendiri. Hal ini membuat kedua orang tuanya tiap hari mengomelinya.
“Ayolah, ini sudah jam 10, bentar lagi Mama sama Papa pulang.”
“Ya udah deh 20 menit gue sampai,” katanya lalu menutup telfonnya secara sepihak.
“Vit,gue cabut dulu,” katanya lalu menyodorkan handphone Vito.
“Abang loh nyuruh balik?”
Farhan mendengus mendengar ucapan Vito. Meskipun Firhan lebih dulu lahir dari pada dirinya,tapi dia tidak suka bilang orang-orang menyebut Firhan sebagai abangnya.
“Abang apaan? Orang gue beda lima menit doang lahirnya,” Farhan selalu melontarkan kata-kata itu ketika ada orang yang menyebut Firhan sebagai abangnya.
“Bukan abang gue yah. Lahir cuman beda lima menit doang juga,” jawab Farhan dengan nada ketusnya.
“Iya deh, Firhan maksudnya,” koreksi Vito.
“Nyokap sama bokap udah ga lama balik ntar gue di cariin,” kata Farhan lalu berlalu pergi.
“Dasar anak Mami,” Teriak Vito yang mampu di dengar oleh Farhan.
“Sialan lu monyet!”
Jalanan ibu kota yang sedikit macet membuat Farhan harus berlama-lama dengan jalan raya ibu kota,menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Sebenarnya malam ini Farhan malas kembali ke rumah karena besok ada ulangan semester dan Farhan yakin kedua orangtuanya akan menyuruhnya untuk belajar seperti saudara kembarnya.
Firhan saudara kembarnya, sangat jenius dalam berbagai mata pelajaran,beda dengan Farhan yang otaknya di bawah rata-rata.
Tepat Farhan memasukkan motornya ke garasi,mobil kedua orangtuanya juga memasuki pekarangan rumah.
“Ya ampun Farhan,udah jam berapa ini?” Tanya Mama lalu menutup pintu mobil.
“Baru juga jam 10 Ma,” jawab Farhan dengan cengiran tak berdosa nya.
“Baru jam 10 kamu bilang Han? Ini udah jam 11.”
Farhan menepuk jidatnya dengan pelan,dia lupa ternyata tadi dia kejebak macet,otomatis dirinya lambat tiba di rumah.
“Astaga Farhan, bukannya tinggal belajar malah pergi keluyuran. Besok kamu ulangan Nak. Kamu mau jawab apa kertas ulangan kamu kalau nggak belajar,” kata Papa yang baru saja turun dari mobil.
“Nanti subuh Farhan bangun kok Pa,” jawabnya dengan asal. Mana mungkin Farhan bangun subuh-subuh untuk belajar. Yang ada dia tidur nyenyak di dalam selimutnya.
“Ya udah masuk bersih-bersih habis itu tidur.Abang kamu pasti udah tidur habis belajar.”
Dibeda-bedakan seperti ini Farhan hanya bodoh amat, dia malas berdebat.
“Iyalah orang sobatnya cuman buku doang.”
Dibandingkan dengan Farhan yang selalu menghabiskan waktunya untuk nongkrong, Firhan justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku,entah itu buku fiksi maupun nonfiksi.
Kadang Farhan heran melihat Firhan yang suka membaca fiksi. Apa bagusnya coba baca fiksi yang jelas-jelas tak nyata. Itu menurut Farhan yang malas membaca. Tapi bagi Firhan itu sangat menyenangkan. Dia seolah-olah menemukan dunianya sendiri.
“Firhan, gue masuk,” kata Farhan lalu membuka pintu kamarnya. Mereka memang sekamar namun tak seranjang alasannya sangat simpel,Firhan tak seranjang dengan Farhan karena Farhan kalau sebelum tidur selalu bermain game dan hal itu mengganggu konsentrasi Firhan yang sedang rebahan sambil baca buku.
Pandangan yang Farhan pertama lihat saat memasuki kamar adalah Firhan yang tengah tersenyum sendiri sambil memegang buku,dan jangan lupakan kepalanya yang geleng-geleng.
Farhan jadi ngeri tiba-tiba pasokan oksigen di sekitarnya jadi berkurang.
“Firhan, loh ga papa?” Tanya Farhan seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Firhan.
Tidak ada jawaban, yang ada Firhan malah tersenyum-senyum masam.
Geram dengan tingkah Firhan yang semakin menjadi-jadi, Farhan mengambil tindakan menepuk pundak kembarannya dengan keras.
“ASTAGFIRULLAH GUE BELUM MAU MATI!” Seru Firhan terlonjak kaget. Bahkan Farhan yang menjadi pelaku saja dibuat kaget dengan suara nyaring Firhan.
Menyadari kehadiran Farhan, dengan kesal Firhan mengambil bantal lalu melempar ke arah Farhan.
“Sialan loh, bikin gue kaget tau!”
“Lagian loh ngapain sih baca buku sambil senyam-senyum ga jelas,” kata Farhan memungut bantal yang di lemparkan Firhan ke arah nya.
“Ha? Oh gue belum cuci muka,” katanya lalu masuk ke kamar mandi.
Farhan yakin saudara kembarnya itu tidak mau diledekin olehnya karena kepergok senyam-senyum membaca buku.
“Sa ae loh maemunah,” kata Farhan geleng-geleng melihat tingkah Firhan.
“Lagian nih bocah bacaan buku apaan sih?” Farhan melangkah ke arah kasur Firhan yang terletak novel di atasnya.
Tawa Farhan pecah saat membaca buku judul buku itu.
“Pantasan ajah nih bocah senyam-senyum baca bukunya,orang bacanya fiksi remaja. Aduh kasian banget cuman bisa rasain kisah percintaan lewat tulisan,” lagi dan lagi Farhan kembali di buat geleng-geleng oleh saudara kembarnya.
“LOH!” Kata Firhan terkejut saat melihat Novelnya sudah berada di tangan Farhan.
“Ngapain pegang Novel gue?” Dengan cepat Firhan merebut novelnya itu.
“Ciee yang habis rasain percintaan lewat tulisan,” goda Farhan.
“Dih apaan,” kata Firhan tak terima. Lihatlah manusia biadab ini akan kembali meledeknya, dia merutuki dirinya tak menyimpan Novelnya di rak buku yang telah dia sediakan.
“Kalau mau pacaran mah pacaran ajah. Ga usah cupu.”
“Gak!” kata Firhan spontan, amit-amit dia pacaran. Bisa-bisa waktu baca bukunya tersita oleh waktu pacarnya.
“Pacaran kok sama buku? Ga seru lah,” kata Farhan kembali mengompori.
“Bodoh amat!” Kata Firhan lalu merebahkan badannya. Sepertinya dia akan berpura-pura tidur untuk agar manusia biadab ini alias kembarannya tidak terus menerus meledeki dirinya.
Penilaian Akhir Semester (PAS) sudah berlangsung selama empat hari. Dan semenjak dua hari ini Farhan dituntut untuk terus belajar agar nilainya dapat menyaingi nilai saudara kembarnya. Bukan Farhan namanya kalau taati perintah kedua orangtuanya.
Seperti saat ini sebenarnya dia masih satu ulangan tapi, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia mendapatkan info dari salah satu anggota gengnya, bahwa basecamp mereka kembali diserang.
Usai membaca pesan singkat itu,Farhan dengan segera keluar dari kelasnya. Bodoh amat dengan teriakan ketua kelasnya. Yang terpenting sekarang dia harus cepat-cepat sampai di basecamp. Pasti teman-temannya sedang kewalahan melawan musuh mereka.
“Mau ngapain lagi ke basecamp kita?” Teriakan Farhan membuat anak-anak geng sebelah memberhentikan aksinya untuk menyerang SASTRA.
“Good job, akhirnya datang juga nih si jagoan,” kata Aldo bertepuk tangan dengan senyuman liciknya. Aldo adalah ketua geng Rangers. Geng yang berstatus sebagai musuh bebuyutan SASTRA.
“Gue tanya yah loh baik-baik. Ngapain loh ke sini?” Farhan berusaha baik baik saja,meskipun dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat ingin menonjok wajah Aldo.
“Mau panggil teman loh buat nyusul Lutfi.”
Tangan Farhan terkepal kuat mendengar ucapan Aldo. Nama yang di sebut Aldo membuat dia teringat dengan kejadian dua tahun silam.
“Brengsek loh!” Maki Farhan lalu mulai meninju wajah Aldo.
Bruk!
Bruk!
Bruk!
“Gue tanya loh sekali lagi jangan pernah gangguin SASTRA kalau loh ga mau teman-teman loh jadi sasaran empuknya,” kata Farhan lalu menghempaskan tubuh lemah Aldo.
Sebenarnya Aldo ini tidak jago jago amat, tapi permainan dia cukup cantik membuat musuh agak sulit untuk membongkar permainannya. Ibarat main bola, striker susah untuk membongkar pertahanan lawan.
“LOH—argh,” Aldo ingin bangkit namun tinju Farhan yang menimpa tubuhnya membuat dia agak susah untuk berdiri.
“Gue tanya loh baik-baik, mending loh cabut sama curut-curut loh itu, atau gue yang bakalan buat loh cabut!”
Dengan berat hati dan susah payah Aldo bangkit dari tempatnya dan pergi meninggalkan basecamp SASTRA. Namun, sebelum itu dia sempat membisikkan sesuatu pada Farhan,membuat Farhan seketika menegang di tempatnya tapi dia berusaha menepis jauh-jauh ucapan Aldo dia berharap itu hanya main-main saja tidak serius.
“Han are you okay?” Tanya Vito menepuk bahunya.
“Ha? Eh iya gue ga papa kok,” jawab Farhan kegalapan.
Vito hanya mengangguk mendengar jawaban Farhan. Dia yakin Farhan pasti memikirkan sesuatu yang Aldo tadi bisikkan meskipun Vito tak dengar tapi dia yakin,karena Farhan sangat jarang begini ketika selesai tawuran.
“Anak-anak semua gimana aman kan?” Tanya Farhan yang melihat anggota gengnya sedang terduduk lemas.
“Aman-aman lumayan dah Han,” Farid salah satu anggota SASTRA.
“Ga ada luka yang berat kan?” Tanya Farhan kembali memastikan.
“Ga ada kok aman. Pelipis gue cuman sobek dikit. Dikit doang kok ga usah khawatir,” ujar Radit dari arah belakang.
“Idih najis gue mau khawaatirin loh,” kata Farid menatap Radit dengan ogah-ogah.
“Alah,gue ga nong sehari juga, loh udah meronta-ronta nyariin gue. Bilang ajah loh khawatir kan liat pelipis gue sobek,” balas Radit. Farid dan Radit bila dipertemukan akan seperti kucing dan tikus namun bila dipisahkan akan seperti ayam dan induknya.Saling mencari.
Farhan hanya geleng-geleng melihat tingkah teman-temannya. Tanpa mereka berdua basecamp akan sepi sebenarnya karena mereka berdua selalu membawa bahan candaan yang berujung menjadi perdebatan bagi mereka berdua.
Farhan mendudukkan bokongnya di atas kursi kayu yang telah disediakan di basecampnya.
Getaran ponsel di saku celananya membuat tatapannya beralih pada ponsel itu. Ada pesan dari Papa dan segera Farhan membukanya.
Dengan susah payah Farhan menelan salivanya, dan tanpa ba-bi-bu dia menyambar kunci motonya lalu pergi meninggalkan basecamp nya.
“Woi, Han,loh mau kemana?” Teriak Radit yang melihat Farhan melangkah pergi.
“Han Woi!” Bahkan Vito dan yang lainnya juga ikut teriak. Namun semua teriakan mereka tak digubris oleh Farhan. Farhan hanya buru-buru mengeluarkan motonya lalu menancapkan gas meninggalkan basecamp.
Tersirat rasa khawatir dan ketakutan yang menghampiri ketua geng SASTRA, dan Vito dapat merasakan itu dari raut wajah Farhan yang sangat panik.
