Oleh: Andi Syaikhah Fadiyah Eka*
Melepaskan sesuatu yang kita sayangi itu tidak mudah. Selalu ada keinginan untuk bertahan, berharap semuanya bisa berubah sesuai keinginan kita. Aku dulu berpikir, kalau berusaha lebih keras dan tidak menyerah, semuanya akan tetap baik-baik saja. Tapi ternyata, tidak semua hal bisa dipertahankan. Kadang, sekuat apa pun kita berjuang, jika memang bukan untuk kita, perlahan-lahan itu akan pergi.
Dulu aku percaya, kalau aku selalu ada untuk dia, dia akan sadar betapa besar perasaanku. Aku pikir, kalau tetap bertahan, dia juga akan memilih bertahan. Tapi kenyataannya, tidak semua yang kita cintai akan tetap tinggal. Ada saatnya kita harus menerima kenyataan, meskipun hati masih ingin mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak bisa dipertahankan.
Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal pernah mencintai dia, pernah memberikan waktu, perhatian, dan perasaanku untuknya. Aku mencintai dia bukan karena mengharapkan balasan, tetapi karena benar-benar ingin melihatnya bahagia. Namun, jika kebahagiaan yang dia cari bukan bersamaku, maka aku harus belajar ikhlas. Aku harus melepaskan dia tanpa menyalahkan diri sendiri atau terus bertanya, “Aku kurang apa?” atau “Masih bisa tidak aku coba lagi?” Karena semakin aku memikirkan itu, semakin aku sadar bahwa mempertahankan seseorang yang sudah tidak mau tinggal hanya akan membuatku semakin sakit.
Ikhlas bukan berarti aku langsung bisa melupakan semuanya atau pura-pura tidak peduli. Aku hanya ingin belajar berjalan ke depan tanpa terus-terusan menoleh ke belakang. Aku percaya, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik. Mungkin sekarang aku belum mengerti, tapi suatu hari nanti aku akan paham.
Jadi, kalau suatu hari nanti dia sadar aku sudah tidak mencarinya atau menunggunya lagi, itu bukan karena aku benci atau lupa. Aku hanya sudah cukup lelah untuk terus berharap. Aku tidak tahu butuh waktu berapa lama untuk benar-benar ikhlas, tapi aku akan mencoba. Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya soal bertahan, tapi juga soal tahu kapan harus melepaskan dan merelakan dengan sepenuh hati.
Watansoppeng, 5 Maret 2025
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas VII.2
