Oleh: Andi Syaikhah Fadiyah Eka*

Aku selalu percaya bahwa menjadi orang baik bukan tentang ingin dipuji atau mengharapkan balasan, tetapi karena itulah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Dalam hidup, aku sering bertemu dengan berbagai macam orang. Ada yang tulus menghargai kebaikan, tetapi ada juga yang hanya datang saat butuh, lalu pergi begitu saja seolah-olah kebaikan itu tidak pernah ada.

Awalnya, aku berpikir bahwa setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan hal yang baik juga. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Aku pernah berusaha sebaik mungkin kepada seseorang, tetapi dia justru bersikap seolah-olah kebaikanku tidak ada artinya. Rasanya sakit dan mengecewakan, tetapi dari situ aku belajar bahwa berbuat baik bukan tentang bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk bersikap, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Kecewa itu wajar, karena kita manusia dan punya perasaan. Apalagi jika sudah berbuat baik, tetapi malah tidak dihargai. Aku juga pernah merasa lelah dan ingin berhenti peduli. Tapi jika dipikir lagi, marah atau menyimpan dendam tidak akan mengubah keadaan. Yang ada, justru aku sendiri yang semakin terbebani. Aku sadar, aku tidak bisa mengatur sikap orang lain. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk berubah, tetapi setidaknya aku bisa memilih untuk tidak menjadi seperti mereka.

Kadang, aku merasa ingin menyerah. Rasanya percuma terus berbuat baik jika akhirnya hanya dianggap biasa saja atau bahkan dimanfaatkan. Aku pernah bertanya dalam hati, “Kenapa harus aku yang selalu mengerti? Kenapa harus aku yang selalu memaafkan?” Tetapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa kebaikan bukan tentang mereka, melainkan tentang bagaimana aku ingin menjalani hidup.

Setiap kali aku mengingat apa yang Mamah ajarkan, aku paham bahwa aku berbuat baik bukan karena berharap balasan, tetapi karena itulah yang diajarkan kepadaku sejak kecil. Mamah selalu bilang, “Jangan berubah hanya karena orang lain bersikap buruk. Tetaplah jadi dirimu sendiri, tetaplah menjadi orang yang berhati baik.” Aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri hanya karena pernah diperlakukan buruk.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menghargai kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap menjadi orang baik. Bukan untuk mereka, tetapi untuk diri kita sendiri. Aku berharap, apa pun yang terjadi, aku tetap bisa berbuat baik tanpa berharap balasan, tetap bisa memaafkan tanpa menyimpan dendam, dan tetap bisa melangkah tanpa terbebani oleh hal-hal yang menyakitkan.

Watansoppeng, 5 Maret 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas VII.2

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *