Dahulu, aku sangat bersemangat
untuk mendapatkan cintamu.
Tak kuhiraukan apa kata mereka.

Dahulu, aku sangat bersemangat
untuk memperjuangkan cintaku.
Tak kulihat gelombang menyerang.

Cintaku bagai raga yang berusaha
untuk mendapatkan pemiliknya!
Cintaku berjuang mati-matian
untuk meyakinkan pemilik raganya!

Caraku menyapamu
berbeda dengan caraku menyapa lainnya.

Tiga tahun kuperjuangkan cintaku,
tiga tahun cinta ini berkeras hati,
menolak banyak hati demi kau
yang kucintai setengah mati.

Menutup telinga untuk tak
mendengar kata mereka.

Wahai pemilik raga,
batinku lelah dengan semua ini,
lelah berargumen dengan semua
makhluk yang memberi sinyal
sinyal yang menandakan sudah
waktunya untuk kumenyerah.

Harus sampai kapan
kumerasakan cinta sendiri, Tuan?
Harus sampai kapan
kumerasakan sakit, Tuan?

Sampai kapan?
Apakah sampai raga ini mati?
Itu yang Tuan mau, bukan?

Tuan mau raga ini mati untuk selamanya,
membiarkanku mencintai sendiri.
Tuan tak merasa kasihan padaku?

Meskipun begitu, terima kasih.

Terima kasih sudah menyadarkan.
Terima kasih sudah membuatku
merasakan cinta sendiri, Tuan!

Setelah tiga tahun yang sia-sia ini,
akhirnya aku pun tersadar
tersadar bahwa mencintai sendiri
itu sangat menyakitkan.

Watansoppeng, 29 Desember 2024

(Visited 38 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *