Oleh: Reisya Alfi
Dalam gulita malam yang tak bertepi, aku melangkah sendiri,
Menyusuri jalan takdir yang penuh duri dan sayatan mimpi,
Hanya ada desir angin yang mengusap luka-luka lama,
Menggemakan tangis yang sudah kering dalam sunyiku.
Di antara bayang-bayang yang menari di balik mataku,
Wajahmu muncul seperti semburat jingga sebelum fajar,
Tapi aku tahu, kau hanya sekilas ilusi,
Rindu yang tak pernah bisa kurengkuh, kau sudah jauh, melampaui cakrawala.
Aku terjerat dalam labirin kata-kata yang tak pernah tersampaikan,
Sementara daun-daun luruh bersama hujan, menangisi tanah yang lapar,
Hati ini layu, layaknya bunga di tepi jurang,
Menunggu runtuh bersama angin, hilang dalam satu embusan, tiada bekas.
Waktu adalah pencuri yang tak pernah lelah mencuri harapan,
Dan aku adalah seorang pengembara, mencari jejakmu yang sirna,
Meski tahu, di negeri asing ini, langkahku sia-sia,
Tetap saja, hati ini mengais detik-detik pertemuan yang tak pernah tiba.
