Oleh: Reisya Alfi
Di tengah debu yang mengeringkan harapan,
Tanah Al-Quds merintih dalam kesedihan abadi,
Dinding-dinding kota tua menyimpan cerita,
Tentang cinta dan luka yang mengukir sejarah.
Di jalan-jalan yang retak oleh pertempuran,
Kebangkitan suara hati menggema dalam malam,
Setiap langkah di atas tanah ini bagaikan doa,
Menembus duka yang menggelayuti setiap jengkal bumi.
Rumah-rumah yang pernah berdiri megah,
Kini hancur dalam deru angin peperangan,
Di mata anak-anak yang penuh peluh,
Tersimpan keinginan untuk meraih kedamaian.
Sungai-sungai yang dulu mengalir lembut,
Kini terbendung oleh kesedihan yang mendalam,
Di lembah-lembah yang sunyi,
Menyimpan jeritan bumi yang merintih dalam kelam.
Dari reruntuhan masjid dan gereja,
Tersisa gema doa yang tak pernah padam,
Di tengah puing-puing yang menyesakkan,
Ada harapan yang terikat dalam doa dan air mata.
Di bawah langit yang tercabik oleh asap,
Palestina berdiri dalam kekuatan yang rapuh,
Di antara kebangkitan dan keputusasaan,
Terpancar cahaya ketahanan yang tak pernah pudar.
Dengan setiap malam yang gelap,
Ada bintang-bintang harapan yang berkelip,
Di tengah puing dan debu,
Palestina bertahan dalam cinta yang abadi.
