Di seberang kabut pagi yang mengalir pelan,
Ada sebuah ruang tanpa batas, tanpa warna,
Di mana malam dan siang berpeluk dalam diam,
Dan suara-suara lenyap, tercekik dalam hampa.
Bayang-bayang berjalan tanpa arah,
Menapak di jalan yang tak pernah selesai,
Di antara patah-patah doa yang tak sempat terucap,
Mengambang bagai kabut, tak menyentuh dan terlepas.
Sebuah pintu, setengah terbuka,
Menawarkan kenyataan yang tak pernah kukenal,
Apakah ini tidur yang tak pernah bangun?
Atau sekadar sunyi yang menelan segala?
Lalu ada suara, lirih dan jauh,
Berbisik tentang cahaya yang tak pernah kita lihat,
Ia mengajak pulang, tapi entah ke mana,
Seperti angin yang kehilangan belainya.
Langkah demi langkah kujejaki bayangku sendiri,
Seolah-olah aku ada, namun terasa sirna,
Seperti debu yang menari di ruang gelap,
Mengikuti tarian takdir yang tak kasat mata.
Adakah akhir di ujung sunyi ini?
Atau hanya sepi yang semakin mengental?
Di sini, di tempat tanpa nama dan warna,
Kematian menjadi teka-teki yang tak terjawab,
Di ujung waktu yang tak pernah habis.
