Oleh: Nur Aqilah Salim

Menghantarkan pesan dari sebuah akhir kisah
Meluluhlantakan perasaan sedarah kita
Menanam cikal bakal kata pisah
Untuk dipupuk menjadi rasa rindu nantinya

Sungguh tak ada yang dapat menerka abu
Baik masa depan yang dicemaskan kelabu
Maupun cerita selama masa putih abu-abu
Konon sedih senangnya abadi dalam kalbu

Ini tentang aku, kamu, dan seragam putih abu
Kita dan saat-saat terindah katamu
Ribuan hari penuh huru hara pun berlalu
Membuat kenangannya terekam dan kian bertalu

Sungguh tak ada yang dapat menerka abu
Kapal yang kita tumpangi pasti akan berlabuh
Perpisahan pasti akan menyapa mau tak mau
Kita dan seragam putih abu pun menuju kata semu

Tak ada lagi yang dapat dilayangkan
Selain berjuta kata maaf dan terima kasih
Untuk cerita hebat dari tiga tahun yang berat

Semoga saat berjumpa kembali nantinya
Kita yang sebelumnya bukan siapa-siapa
Telah menjadi apa-apa yang jauh lebih bermakna…

Sungguh tak ada yang dapat menerka abu
Semoga pada suatu hari ketika bertatap lagi
Kita tak seasing saat pertama kali bertemu
Sampai bersua kembali, kawan!

— 9 April 2024

(Visited 14 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *