Oleh : Ryan Hidayat
Manusia terkadang hanya bisa mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Walau manusia mempunyai banyak rencana yang ingin dilakukan demi kesenangan dan kebahagiaan, namun terkadang keinginan itu tidak bisa tercapai karena sejatinya Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan.
Suatu hari, tepatnya hari Kamis, aku dan teman-teman kelas yang lain telah merencanakan akan pergi rekreasi. Mendengar rencana teman, tentunya aku sangat bersemangat karena menurutku rencana yang seperti ini sudah jarang kami lakukan. Bikin rencana lagi karena tidak lama kami semua akan lulus (Aamiin) dan kemungkinan besar tidak satu sekolah lagi. Kami bisa saja membuat rencana yang seperti ini di lain waktu, namun saya percaya bahwa momennya pasti sudah berbeda.
Tapi kesedihan dan kekecewaan mulai hadir, ketika pada hari Jum’at sore badanku terasa lemas, panas dingin disertai batuk. Sakit itu membuatku tidak datang ke sekolah pada Sabtu pagi. Aku terus mencoba agar bisa sembuh dan mulai mempraktikkan apa yang pernah aku dengar bahwa pikiran bisa mempengaruhi suatu keadaan. Jadi aku mulai berpikir bahwa aku sehat, aku kuat, dan aku bisa. Tetapi setelah mencoba melawan sakit, tetap saja tidak bisa. Ramuan dari orang pintar sudah aku minum sampai obat-obatan dari apoteker sudah saya makan. Tapi sakit itu tetap berlanjut sampai hari Minggu pagi. Saya sangat kecewa karena hari itu tidak bisa bergabung dengan teman-teman untuk pergi rekreasi dengan wali kelas.
Tapi tak lama suara telpon berbunyi menandakan temanku yang menelpon. Dengan cepat mengangkat telpon itu.
“Kamu kenapa nggak ke sini? Udah banyak temen-temen yang datang loh. Kita tinggal tunggu kamu”.
“Aku lagi sakit, jadi aku nggak bisa datang.”
“Yaaa …padahal mungkin ini terakhir kali kita rekreasi bareng temen temen loh.”
Dengan perasaan kecewa, aku langsung menutup telpon hingga melempar apa yang kugapai di tangan hingga membuat kamarku berantakan. Badan terasa lemas membuatku terbaring di kasur dengan kesedihan tetapi hal itu berangsur hilang saat mengingat perkataan guruku dulu bahwa tidak semua yang direncanakan Allah akan sama dengan apa yang kita inginkan dan mungkin juga Allah memberikan jalan lain.
Tak lama kemudian telpon kembali berbunyi, dan ternyata yang menelpon adalah temanku lagi entah apa yang ingin ia katakan. “Beruntung kamu nggak datang. Rekreasinya nggak asik. Kita belum sampai di tempat rekreasi, sudah hujan deras disertai dengan angin kencang, jadi kita balik lagi”, ucap temanku dengan suara kecewa.
Aku mulai berpikir bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik untukku dan semoga sakitku ini adalah bagian dari penggugur dosa-dosaku.(Aamiin).
