Oleh : Azka Kirana Shafiyya*

Bumi tempatku berpijak seakan runtuh seketika saat kehilangan orang yang kucintai. Waktu itu tanggal 13 Februari 2013, aku bersedih berkepanjangan. Umurku baru tiga tahun ketika ibu dinyatakan sudah sembuh dari sakitnya, tetapi tiba-tiba meninggalkan aku untuk selamanya.

Wanita hebat adalah seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya, termasuk nyawanya untuk melahirkan seorang anak. Hari-hari yang dahulunya berwarna kini memudar.

Aku selalu iri dengan teman-temanku. Saat pulang sekolah mereka dijemput oleh ibu mereka. Rasanya ingin sekali bertemu ibuku walau hanya sebentar, agar aku dapat merasakan kehangatan yang dirasakan teman-temanku.

Hari-hari kulalui tanpa kehadiran seorang ibu, rasanya hidup tak berwarna. Hingga tiba saat ayahku menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang keibuan. Mulai saat itu, hari-hari yang dulunya sepi dan gundah kini mulai kurasakan wujud seorang ibu kembali.

Walau hanya ibu sambung, aku benar-benar merasakan kebahagiaan. Awalnya aku takut, karena banyak cerita mengatakan bahwa ibu sambung itu biasanya tidak adil. Namun, setelah aku melihat sifat asli ibu sambungku yang sangat baik, dan juga tidak membeda-bedakanku dengan anaknya, serta merta kekhawatiran dan ketakutanku itu terbantahkan.

Dari situ aku percaya bahwa ibu sambungku seorang perempuan hebat, tangguh, dan visioner. Walau dia bukan ibu kandungku, tapi aku bisa merasakan hangat belaiannya. Aku bisa bermanja, aku bisa menumpahkan keluh kesahku, dan bertanya tentang berbagai hal. Kalau dulunya penuh dengan air mata kerinduan, kini sungguh berganti dengan senyum dan bahagia.

Ya Allah ya Rabb, terima kasih atas kasih sayang yang Engkau berikan untukku dan untuk keluargaku.

*Siswi SMPN 1 Lilirilau Kabupaten Soppeng

(Visited 94 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *